nataragung.id – Natar – Menjaga rahasia bukanlah perkara sepele, ia adalah amanah yang kelak akan ditimbang di hadapan Allah. Firman-Nya menegaskan:
﴿وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا﴾
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 34)
Maka, siapa yang diberi kepercayaan untuk menyimpan sebuah rahasia, sesungguhnya ia tengah memegang salah satu kunci kehormatan.
Lihatlah bagaimana para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasallam menjaga rahasia dengan penuh adab dan kecerdasan hati.
Ketika Umar bin Khattab r.a. menawarkan putrinya, Hafshah, kepada Utsman bin ‘Affan r.a., ia tidak segera menjawab. Utsman hanya berkata lirih, “Tunggulah dulu…” Bukan karena ia menolak, bukan pula karena meremehkan. Tetapi hatinya ingat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menyebut nama Hafshah di hadapannya. Dan beberapa hari kemudian, benar saja, Hafshah dipinang oleh manusia termulia, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sendiri. Diamnya Utsman adalah sikap menjaga rahasia, agar tidak terbuka perkara yang hanya layak diketahui pada waktunya.
Begitu pula ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbisik kepada putrinya, Fathimah r.a. Sekali beliau shallallahu alaihi wasallam berucap, Fathimah menangis, sekali lagi beliau shallallahu alaihi wasallam berbisik, Fathimah tersenyum dalam air mata. Para istri Nabi shalallahu alaihi wasallam pun heran, ingin tahu apa yang terjadi. Namun Fathimah tidak membocorkan sedikit pun. Ia simpan rapat hingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat, barulah ia ceritakan. Karena rahasia bukanlah milik manusia untuk disebarkan semaunya, tetapi amanah yang harus dijaga hingga tiba saatnya.
Bahkan dalam hal paling pribadi sekalipun, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang seorang hamba menceritakan urusan ranjang dengan pasangannya kepada orang lain. Karena itu bukan sekadar rahasia, tetapi kehormatan, kemuliaan, dan penutup aib yang wajib dijaga.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا». (رواه مسلم: 1437)
Dari Jabir bin Abdillah r.a., Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang suami yang berhubungan dengan istrinya, lalu istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasianya.”
(HR. Muslim no. 1437)
Lihatlah pula adab Anas bin Malik r.a. Suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggilnya untuk sebuah keperluan hingga ia terlambat pulang. Ibunya bertanya, “Mengapa engkau terlambat, wahai Anas?” Maka dengan tenang ia menjawab, “Aku diperintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk suatu urusan.” Tidak lebih, tidak kurang. Ia tidak membuka sesuatu yang beliau shallallahu alaihi wasallam minta untuk disembunyikan.
Demikianlah, para sahabat memahami betul bahwa menjaga rahasia adalah bagian dari menjaga kehormatan, baik bagi dirinya, bagi saudaranya, maupun bagi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Mereka mengajarkan kepada kita, bahwa lidah harus pandai menahan kata, telinga harus pandai menyaring cerita, dan hati harus kokoh memegang amanah. Karena sesungguhnya, siapa yang pandai menjaga rahasia, dialah yang layak dipercaya. Dan siapa yang mengkhianatinya, maka ia telah meruntuhkan kehormatannya sendiri. (68).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

