MUTIARA PAGI : Jangan Biarkan Hidup Hanya Jadi Penonton Waktu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Kadang manusia berjalan cepat, tapi tak pernah sampai. Bukan karena jalan yang terlalu jauh, tapi karena langkahnya tersandera hal-hal kecil yang menghabiskan usia tanpa terasa.

Mengeluh terus, seperti hujan tanpa jeda. Padahal keluhan tidak pernah mengubah nasib, dan Allah tidak pernah menilai seberapa keras kita merintih, tapi seberapa sabar kita berdiri.

Tidak punya prioritas, maka hidup pun tak punya arah. Siang datang, malam berlalu, namun hari-hari hanya menjadi lembar kosong tanpa satu pun kebaikan yang ditanam.

Meremehkan ide orang, padahal bisa jadi Allah menitipkan jalan keluar melalui mulut sesama.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kelahiran dari Kepatahan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Kesombongan membuat telinga buta, hati buta, dan hidup pun mandek tanpa perubahan.

Membanding-bandingkan hidup, seakan rezeki Allah hanya satu warna. Padahal setiap jiwa punya rute, punya waktu, punya takdir, dan Allah tak pernah keliru membagikan jatah bahagia.

Tidak menyelesaikan apa-apa, hingga waktu habis hanya jadi setumpuk wacana. Langkah kecil lebih berarti daripada rencana besar yang tak pernah dilaksanakan.

Takut gagal, padahal Nabi mengajarkan bahwa tawakal itu melangkah dulu, baru menyerahkan hasil kepada Allah. Bukan duduk lalu menunggu keajaiban turun dari langit.

Ingin selalu sempurna, sampai-sampai tak pernah mulai apa-apa. Padahal Allah mencintai proses, bukan hanya hasil. Kesalahan bukan musuh, ia guru yang sabar.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Peradaban yang Tegak di Atas Ilmu dan Keadilan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Selalu mengikuti orang lain.
Akhirnya hidup ini bukan lagi milik kita. Badan kita yang berjalan, tapi jiwa kita tertinggal di belakang.

Lalu kehidupan berputar seperti pedal sepeda. Jika kita mengayuh, kita melaju. Jika kita berhenti, kita jatuh pelan-pelan.

Dan ketika kita mulai berbenah,
mulai punya tujuan, punya niat, punya tekad. Tiba-tiba ada yang bertanya,
“Mau kemana?”

Pertanyaan yang sederhana, tapi justru membuat kita sadar: Hidup harus punya arah.

Maka tersenyumlah, ucapkan terima kasih pada yang bertanya, sebab Allah menggerakkan mereka untuk menyadarkan kita.

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (19) : Menyucikan Harta dengan Zakat dan Sedekah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena hidup ini bukan sekadar ada, tapi berkarya. Bukan sekadar berjalan, tapi menuju akhir yang diridhai-Nya.

Semoga setiap hari yang tersisa
tidak lagi habis sia-sia, melainkan menjadi saksi amal, tangga menuju surga, dan bukti bahwa kita pernah berjuang. (103).
Wallahu A’lamu

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini