nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, di sebuah dusun terpencil di Way Kanan, hiduplah seorang nenek penenun ulung bernama Inakhi Andan. Suatu malam, ia bermimpi bertemu dengan Putri Siti, pencipta pertama kain Tapis. Dalam mimpi itu, Putri Siti memberikan sepusar benang emas yang sangat panjang namun halus, sambil berpesan, “Serahkan benang ini pada penerusmu. Jika putus, terputus pulalah cahaya kebanggaan kita.”
Inakhi Andan pun membangun sebuah Alat Tenun Bercahaya yang sangat rumit. Alat ini tidak hanya menenun benang biasa, tetapi juga menangkap cahaya bulan, kicau burung, dan kisah-kisah para leluhur untuk dijalin menjadi benang emas. Ketika ia meninggal, alat tenun itu diwariskan kepada cucunya, Sari, seorang digital native yang cerdas.
Awalnya, Sari bingung. Ia tidak sepenuhnya memahami cara neneknya menenun. Namun, ia melihat alat tenun itu memiliki kesamaan dengan coding dan jaringan digital. Dengan kreativitasnya, Sari tidak hanya mempelajari teknik menenun tradisional, tetapi juga membuat replika digital alat tenun tersebut dalam bentuk aplikasi augmented reality.
Kini, setiap anak muda dapat mempelajari makna setiap motif Tapis melalui ponsel mereka.
Legenda modern ini menyimbolkan transmisi nilai bukan sebagai penerusan yang kaku, tetapi sebagai adaptasi kreatif. Benang emas Piil Pesenggiri tidak putus, tetapi dirajut ulang dengan alat-alat zaman baru.
Era digital menghadirkan tantangan eksistensial bagi nilai-nilai luhur. Individualisme, budaya instan, dan dehumanisasi relasi sosial tampak berseberangan dengan semangat komunal, ketekunan, dan hubungan personal yang dijunjung Piil Pesenggiri. Namun, di balik tantangan itu, tersembunyi peluang besar untuk mentransmisikan nilai-nilai ini dengan cara yang lebih luas, interaktif, dan relevan bagi generasi penerus.
Piil Pesenggiri dalam konteks ini bukan lagi sekadar pedoman moral tradisional, melainkan sebuah framework atau kerangka berpikir untuk menghadapi kompleksitas dunia modern.
Sebagaimana petuah dalam Kuntara Raja Niti yang tetap relevan: “Ngehukum adek di zaman, nemui nyimah jama sai baru, nengah nyappur ngehurip.”
(Menghukum (menegakkan) adat di zaman, nemui nyimah dengan yang baru, nengah nyappur yang menghidupkan).
Analisis mendalam terhadap kutipan ini memberikan panduan strategis. “Ngehukum adek di zaman” adalah perintah untuk aktif menegakkan dan menginterpretasikan nilai adat dalam konteks kekinian, bukan hanya melestarikannya dalam bentuk aslinya. “Nemui nyimah jama sai baru” secara jelas menganjurkan untuk menerima (nemui nyimah) dan terbuka terhadap hal-hal baru (sai baru), termasuk teknologi. Yang terpenting, “nengah nyappur ngehurip” menekankan bahwa adaptasi dan interaksi dengan hal baru itu harus bersifat “menghidupkan” , yaitu, memperkuat, mempromosikan, dan memberi napas baru pada nilai-nilai inti, bukan melenyapkannya.
Transmisi nilai untuk generasi penerus memerlukan strategi yang multidimensi:
1. Pendidikan Hybrid: Mengintegrasikan pelajaran tentang Piil Pesenggiri dan bahasa Lampung (Andai-Andai) ke dalam kurikulum sekolah formal, dilengkapi dengan konten digital seperti animasi, game edukasi, dan kuis interaktif. Anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi mengalami nilai-nilai itu melalui media yang mereka sukai.
2. Digitalisasi Arsip dan Silsilah: Sejarah lisan, silsilah marga (turisan), dan naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti dapat didigitalisasi. Sebuah marga dapat membuat portal online yang berisi pohon keluarga digital, dokumen sejarah, dan rekaman video wawancara dengan para tetua. Ini adalah bentuk baru dari “bejuluk adek”, di mana identitas dan sejarah tidak lagi rentan lapuk dimakan waktu, tetapi terpelihara di cloud.
3. Konten Kreatif Berbasis Nilai: Generasi muda adalah kreator konten terbaik. Mereka dapat membuat video TikTok yang menjelaskan filosofi Sakai Sambayan melalui contoh kerja kelompok di kampus, podcast yang membahas makna motif Tapis dengan narasumber para maestro, atau komik web yang memodernisasi legenda Ratu Darah Putih. Ini adalah praktik “nengah nyappur” di ruang digital.
4. Komunitas Virtual: Membentuk grup WhatsApp, Discord, atau platform komunitas berdasarkan marga atau minakat terhadap budaya Lampung. Di sini, nilai Sakai Sambayan menemukan bentuk barunya. Seseorang dapat meminta saran karir, menggalang dana sosial, atau sekadar berbagi pencapaian, dan langsung mendapat dukungan dari “sanak virtual”-nya yang tersebar di seluruh dunia.
Generasi penerus bukan hanya penerima pasif warisan budaya. Mereka adalah kurator yang memilih nilai-nilai mana yang paling relevan untuk dipertahankan, dan inovator yang menemukan cara-cara baru untuk mengekspresikannya. Seorang anak muda mungkin tidak lagi menghafal seluruh ritual adat, tetapi ia mampu menjelaskan filosofi Pesenggiri (martabat) dalam konteks membangun personal branding yang beretika di LinkedIn. Ia mungkin tidak sering menghadiri pertemuan adat fisik, tetapi ia aktif mempromosikan kain Tapis melalui Instagram kepada audiens global. Peran ini sangat penting untuk menjaga agar warisan budaya tidak menjadi fosil yang hanya dikagumi, tetapi menjadi living culture yang terus bernapas.
Piil Pesenggiri adalah warisan yang terlalu berharga untuk dibiarkan memudar. Era digital bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan alat yang harus dikuasai. Tantangan terbesarnya adalah bukan pada teknologi, tetapi pada kemauan untuk beradaptasi dan berkolaborasi antar generasi.
Generasi tua harus membuka diri (Nemui Nyimah) untuk menerima bahwa cara menyampaikan nilai bisa berbeda, tanpa mengorbankan esensinya. Generasi muda harus memiliki kebijaksanaan (Piil) untuk menggali kedalaman makna di balik warisan itu, bukan hanya mengambil kulit luarnya saja. Bersama-sama, mereka dapat melakukan Sakai Sambayan digital, gotong royong untuk merawat, mendigitalisasi, dan menyebarluaskan nilai-nilai luhur tersebut.
Pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat ditinggalkan untuk generasi penerus bukanlah sekadar dokumentasi sejarah yang lengkap, melainkan sebuah kompas hidup yang tangguh. Piil Pesenggiri adalah kompas itu. Ia akan membimbing anak-cucu untuk menjadi manusia yang bermartabat, yang mampu membedakan diri di tengah hiruk-pikuk dunia digital, yang menggunakan teknologinya untuk membangun, bukan merusak, dan yang selalu ingat dari mana mereka berasal, sekalipun kaki mereka telah melangkah sangat jauh ke masa depan. Seperti Sari dalam legenda, tugas kita adalah memasukkan benang emas leluhur ke dalam alat tenun era baru, dan merajutnya menjadi sebuah mahakarya yang memukau dunia.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Gunaawan, B. (2021). Adaptasi Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Media Digital pada Generasi Muda Lampung. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. (Artikel Jurnal Digital Terverifikasi)
2. Hilman, D. (2018). Kuntara Raja Niti: Transkripsi dan Terjemahan. Bandar Lampung: Pustaka Ladang Khatulistiwa. (Buku Format Fisik/Digital)
3. Suryadi, dkk. (2017). Masyarakat Adat Lampung: Sejarah dan Dinamika Sosial Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak. (Buku Format Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

