Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri – 5. Pesan yang Terkandung, Nilai-Nilai Luhur dalam Tradisi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, di masa silam, hiduplah sepasang suami-istri yang dihormati sebagai cikal bakal masyarakat Pekon Gunung Kemala. Sang suami, Urang Dunia Bin Silantai Langit, berdiam di Ilahan, tempat yang dianggap keramat. Istrinya, Nur Kemala, memilih mengikuti aliran sungai hingga tiba di sebuah perbukitan yang hijau. Di sanalah ia menetap, di atas gunung yang kelak dinamakan Gunung Kemala, sebagai penghormatan atas namanya.
Setiap kali para perempuan ditanya hendak ke mana, mereka menjawab: “Mau ke Kemala, di atas gunung.” Jawaban itu bukan sekadar petunjuk arah, melainkan panggilan batin untuk kembali ke sumber asal-usul, merawat ingatan akan leluhur yang telah membuka tanah dan menabur benih kehidupan. Dari sinilah tradisi Ngejalang bermula, sebuah ziarah suci yang menghubungkan dunia nyata dan alam arwah.

Ngejalang bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah napas kebudayaan Lampung Sai Batin yang mengalir dalam denyut nadi masyarakat. Secara harfiah, Ngejalang berarti “berziarah”, tetapi maknanya jauh lebih dalam: ia adalah jalan pulang, kembali kepada leluhur, kepada asal-usul, dan kepada jati diri.
Dalam tradisi Lampung, ziarah kubur dipahami sebagai perjalanan spiritual untuk mengambil pelajaran, mendoakan yang telah pergi, dan mengingatkan diri akan akhirat. Seperti tertuang dalam pemikiran keagamaan setempat:
“Ziarah kubur berarti bepergian ke kuburan dalam rangka mengambil pelajaran, mendoakan dan memintakan ampun bagi mayit, sekaligus mengingatkan kepada akhirat dan berlaku zuhud.”
Ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, malah saling melengkapi.
Ngejalang adalah bentuk tawassul, menghubungkan doa orang hidup dengan arwah leluhur melalui ritual yang penuh khidmat.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh Oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku 1 – Jejak Leluhur, Asal Usul Marga Pubian BukukJadi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Tradisi Ngejalang terbagi menjadi dua: Ngejalang Pangan dan Ngejalang Kubokh. Keduanya memiliki waktu, tempat, dan makna yang berbeda, namun sama-sama dilandasi oleh nilai kebersamaan dan keikhlasan.
Ngejalang Pangan
Dilaksanakan pada 1 Syawal di masjid atau tempat umum. Ritual ini lebih bersifat komunal dan berfokus pada doa bersama untuk keselamatan dan persatuan masyarakat. Dahulu, Ngejalang Pangan menjadi ajang silaturahmi antarmarga, namun kini mulai tergerus zaman. Masyarakat lebih memilih berdoa di rumah masing-masing dan membagikan besek kepada tetangga terdekat.
Ngejalang Kubokh
Berlangsung pada 3 Syawal di area pemakaman. Inilah puncak dari tradisi Ngejalang. Keluarga berkumpul, membawa Pahar, nampan besar berisi hidangan terbaik, lalu duduk bersila di atas tikar dan kasur yang digelar di atas kuburan. Mereka makan bersama, berdoa, dan mendengarkan Talibun, pantun berisi nasihat agama yang dinyanyikan bersahut-sahutan.
“Makanan ahli waris tidak boleh dimakan sendiri, karena itu pamali. Yang makan adalah tamu undangan. Itulah barokahnya.”,

Kearifan lokal ini menunjukkan betapa nilai berbagi dan keramahan menjadi inti dari ritual ini.
Tradisi Ngejalang sarat dengan nilai-nilai luhur yang tercermin dalam setiap tahapannya:
1. Nemui Nyimah (Keramahan dan Santun)
Masyarakat menyambut tamu dengan hidangan terbaik di atas Pahar. Ini adalah wujud dari Nemui Nyimah, sikap santun dan menghormati orang lain. Setiap keluarga berlomba-lama menyajikan yang terbaik, bukan untuk pamer, tetapi sebagai bentuk syukur dan kerendahan hati.
2. Nengah Nyappur (Kekeluargaan dan Kebersamaan)
Ritual musyawarah untuk menentukan hari pelaksanaan Ngejalang mencerminkan nilai Nengah Nyappur. Semua pihak, tokoh adat, peratin, dan ahli waris, duduk bersama, mendiskusikan dengan rasa hormat dan tujuan bersama.
3. Sakai Sambaian (Gotong Royong dan Solidaritas)
Sehari sebelum acara, seluruh panitia dan warga bergotong royong membersihkan lokasi, memasang Kelasa (tenda tradisional), dan menyiapkan hidangan. Tidak ada upah yang diminta, semua dilakukan dengan ikhlas dan semangat kebersamaan.
4. Juluk Adek (Penghormatan atas Prestasi dan Keluhuran)
Gelar adat seperti Dalom, Raja, Batin, Radin, Minak, dan Emas diberikan berdasarkan garis keturunan dan prestasi. Mereka yang menyandang gelar ini memimpin ritual dengan penuh wibawa, mencerminkan hierarki yang dihormati bukan karena kekuasaan, tetapi karena kebijaksanaan.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 1: Piil Pesenggiri, Martabat dan Harga Diri dalam Bingkai Iman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Piil Pesenggiri adalah falsafah hidup orang Lampung yang terdiri dari empat pilar: Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambaian, dan Juluk Adek. Keempatnya bukan sekadar konsep, tetapi nyawa yang menghidupi tradisi Ngejalang.
Seorang tetua adat pernah berujar: “Piil Pesenggiri adalah tuntunan hidup orang Lampung. Ia mengatur bagaimana kita bersikap kepada diri sendiri, keluarga, dan orang lain.”
Dalam Ngejalang, falsafah ini terwujud dalam setiap tindakan: dari cara mereka menyambut tamu, berbagi makanan, hingga menjaga kesakralan ritual. Ini adalah bentuk identitas kolektif yang terus dipelihara agar tidak punah dit zaman.
Ngejalang Pangan mulai jarang dilakukan. Generasi muda lebih tertarik pada hal-hal praktis. Namun, Ngejalang Kubokh masih bertahan, bahkan semakin ramai dihadiri oleh perantau yang pulang kampung.
Ini membuktikan bahwa nilai spiritual dan kebersamaan masih mengakar kuat. Seperti dikatakan seorang informan: “Kalau tidak dilakukan, hati terasa tidak puas. Seperti ada yang kurang.”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 10: Masyarakat Adat dan Masjid, Ruang Sosial dan Spiritual. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Tantangan ke depan adalah bagaimana meneruskan nilai-nilai ini kepada generasi muda tanpa kehilangan esensinya. Peran tokoh adat, pemerintah desa, dan keluarga sangat penting untuk menjaga agar Ngejalang tidak hanya menjadi kenangan, tetapi tetap hidup sebagai jejak ingatan kolektif.
Ngejalang bukan tentang kematian. Ia adalah tentang kehidupan, tentang bagaimana orang hidup menghormati yang telah pergi, merawat hubungan antar manusia, dan menjaga warisan leluhur agar tetap relevan dari masa ke masa.

Seperti doa yang dipanjatkan di antara nisan-nisan tua: “Kami datang bukan untuk berduka, tetapi untuk mengingat. Agar jejak kalian tidak hilang, agar kami tidak kehilangan arah.” Inilah pesan abadi dari Ngejalang: ziarah yang menghidupkan.

Glosarium Singkat
* Pahar: Nampan saji hidangan, simbol kemurahan hati.
* Talibun: Pantun nasihat yang dinyanyikan, berisi petuah agama dan kehidupan.
* Kelasa: Tenda tradisional dari kayu dan daun kelapa, simbol perlindungan dan kesederhanaan.
* Piil Pesenggiri: Falsafah hidup orang Lampung yang menekankan harga diri, keramahan, dan kebersamaan.

Sumber Terverifikasi:
* Monografi Pekon Gunung Kemala (2017)
* Wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat setempat
* Literatur adat Lampung: Piil Pesenggiri (Fachruddin & Suharyadi, 1998)
* Situs budaya Lampung dan jurnal terkait.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini