nataragung.id, Lampung Selatan — Memasuki peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97 tahun 2025, semangat nasionalisme dan kebangkitan moral bangsa kembali diserukan oleh Dr. (C) Sriyanto, S.Sy., M.Ag., Ketua Umum Perkumpulan Pengacara Islam dan Penasehat Hukum Islam Indonesia (PPIPHI Indonesia).
Dalam pesannya yang sarat nilai keislaman dan kebangsaan, Sriyanto menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya momentum sejarah, tetapi juga janji iman untuk menjaga persatuan dan keadilan di bumi pertiwi.
“Sumpah Pemuda bukan sekadar ikrar di masa lalu, tapi peringatan abadi agar setiap anak bangsa menunaikan amanahnya. Pemuda Indonesia hari ini harus memiliki keberanian moral, keteguhan spiritual, dan ketulusan dalam membela kebenaran,” ujar Sriyanto dengan nada tenang namun berwibawa.
Menurutnya, semangat yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 1928 adalah energi suci yang lahir dari keikhlasan hati dan kecintaan terhadap negeri.
“Mereka yang bersumpah dulu tidak memiliki harta, kekuasaan, atau jabatan. Tapi mereka memiliki satu hal yang luar biasa: keyakinan. Keyakinan bahwa bangsa ini akan besar jika bersatu, beriman, dan berani berjuang,” tambahnya.
Pesan Kebangsaan dan Keislaman untuk Pemuda Indonesia
Sebagai tokoh hukum Islam yang juga aktif dalam pembinaan moral generasi muda, Dr. (C) Sriyanto menyampaikan dua pesan penting yang menggugah kesadaran anak bangsa:
- Untuk Anak Bangsa:
“Jangan biarkan masa mudamu tersia-sia oleh hal yang fana. Jadilah generasi yang berilmu, beradab, dan beriman. Bangunlah karakter dengan kejujuran, karena kekuatan sejati bukan pada otot dan harta, tapi pada akhlak dan integritas.” - Untuk Negeri Indonesia:
“Bangsa ini akan berdiri tegak bila hukum ditegakkan dengan keadilan, dan rakyatnya hidup dengan kasih sayang. Jadikan hukum bukan alat kekuasaan, tapi pelindung kebenaran. Itulah bentuk cinta tanah air yang sejati.”
Menyalakan Kembali Jiwa Persatuan dan Keadilan
Dr. (C) Sriyanto menegaskan bahwa makna Sumpah Pemuda kini harus diterjemahkan dalam tindakan nyata — terutama dalam menjaga persatuan umat, penegakan hukum yang adil, dan pembelaan terhadap kaum lemah.
“Pemuda Islam hari ini harus menjadi cahaya di tengah gelapnya zaman. Tunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Jangan biarkan kebencian mengalahkan cinta, dan jangan biarkan kezaliman berdiri tanpa perlawanan,” tegasnya.
Ia menambahkan, tantangan zaman modern seperti krisis moral, penyalahgunaan teknologi, dan lunturnya empati sosial hanya bisa dihadapi dengan iman yang kokoh dan ilmu yang benar.
“Kemajuan tanpa moral adalah kehancuran yang ditunda. Karena itu, pemuda Islam harus menjadi penyeimbang antara akal dan hati, antara dunia dan akhirat,” lanjutnya.
Bangkit Bersama, Berjuang dengan Cinta Tanah Air
Dalam penutup pesannya, Sriyanto menyerukan agar seluruh anak bangsa, tanpa memandang latar belakang suku, agama, atau profesi, kembali pada nilai luhur persatuan dan keadilan.
“Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi kita butuh lebih banyak orang jujur dan berjiwa besar. Jadilah pemuda yang membawa cahaya, bukan api yang membakar. Bawalah Islam sebagai rahmat, bukan alat kepentingan,” tuturnya.
Dengan nada yang menyejukkan, ia menegaskan bahwa Sumpah Pemuda adalah ikrar yang hidup dalam setiap jiwa yang beriman dan cinta tanah air.
“Dari hati yang beriman lahir tindakan yang bermartabat. Dari semangat pemuda lahir perubahan bagi bangsa. Mari kita buktikan bahwa janji Sumpah Pemuda masih hidup — dalam doa, dalam kerja, dan dalam cinta kita kepada Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Arya


