Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 2 — Daur Hidup, Upacara Kelahiran. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung di pesisir Lampung, hiduplah keluarga Marga Legun yang sangat menantikan kelahiran bayi pertama mereka, Bayu. Konon, Bayu adalah titisan leluhur yang akan membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi kampungnya.
Pada hari kelahiran Bayu, seluruh kampung bersiap menyambut dengan upacara khusus, mengikat janji dengan leluhur dan alam agar sang bayi tumbuh menjadi pribadi yang penuh kebaikan.

Namun, tiba-tiba muncul bayangan gelap yang ingin mengganggu kesucian upacara, dan dukun beranak serta keluarga harus berjuang mempertahankan ritual sakral agar cahaya dari Bayu tetap terang benderang. Tahapan Sebelum dan Sesudah Kelahiran
Dalam masyarakat adat Lampung, kelahiran bukan hanya momen lahirnya bayi secara fisik, tetapi awal dari sebuah perjalanan spiritual dan sosial.

Tahapan dimulai sejak masa kehamilan, terutama saat sudah memasuki usia lima bulan dengan upacara kuruk limau dan kuruk limau kaminduani, yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan bagi ibu dan janin, serta menjaga keharmonisan dengan alam sekitar.
Setelah bayi lahir, ritual mendapat perhatian lebih. Bayi belum boleh dibawa keluar rumah selama sembilan hari, periode yang dikenal sebagai masa perlindungan spiritual dari gangguan makhluk halus. Baru setelah itu, bayi diperkenankan untuk dibawa mandi di sungai yang disebut kabuyon atau diduayon, sebagai simbol pembersihan dan pembentukan ikatan dengan tanah kelahiran.

Peran Dukun Beranak dan Keluarga.

Dukun beranak memegang peranan sentral dan sakral dalam proses kelahiran di Lampung. Mereka bukan hanya sebagai perawat fisik, tapi juga penjaga dimensi spiritual. Keilmuan dukun beranak adalah warisan turun-temurun, penuh dengan pengetahuan gaib dan doa-doa yang menghubungkan sang bayi dan ibu dengan leluhur dan alam.
Dukun beranak memimpin ritual penanaman ari-ari, pengucapan doa yang mengiringi kelahiran, serta memberikan nasihat pantangan yang harus dijaga oleh keluarga. Keluarga besar pun terlibat dalam proses ini sebagai manifestasi solidaritas dan rasa hormat, menyiapkan sesaji sebagai tanda terima kasih dan mohon berkah. Dukun menerima sesaji berupa kain panjang, uang, kelapa, gula, dan beras sebagai simbol kasih, penghormatan, dan harapan kesejahteraan.

Baca Juga :  Buku Seri Denda Adat Pepadun Menurut Perspektif Islam. Seri 3 – “Telekep: Tahta Terbalik” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Upacara Penanaman Ari-Ari (Salai/Tabuni).

Setelah proses kelahiran, ari-ari bayi dibersihkan dan dihormati melalui ritual penanaman tembuni. Ari-ari yang telah dibersihkan ditempatkan dalam kendi atau kuali baru yang dihias dengan bunga putih simbol kesucian, kemudian dibungkus kain putih dan ditanam di tanah. Prosesi ini disertai doa-doa dan bacaan sholawat yang diulang tiga kali, bertujuan menanamkan karakter bayi yang hormat, tidak rewel, dan beruntung dalam hidup.
Penanaman ari-ari adalah perwujudan filosofi kedekatan manusia dengan alam dan leluhur, menjaga keseimbangan antara hidup, lingkungan, dan spiritualitas. Cahaya lampu yang dipasang di area penanaman menggambarkan harapan agar hidup bayi terang dan terhindar dari kegelapan serta gangguan.

Pantangan Saat Melahirkan.

Selama proses kelahiran dan masa awal bayi, terdapat berbagai pantangan yang harus dijalankan demi keselamatan dan keseimbangan spiritual. Wanita yang melahirkan tidak diperbolehkan mandi pada malam hari atau keluar rumah saat magrib dan malam, untuk menghindari gangguan makhluk halus. Makanan yang dikonsumsi harus manis atau gurih, bukan pahit atau pedas, diyakini agar pembawaan bayi menjadi lemah lembut dan mudah bergaul.
Pantangan ini juga memberikan pendidikan moral dan pengajaran keseimbangan hidup dalam hubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Melanggar pantangan dipercaya bisa menimbulkan malapetaka, seperti sakit atau gangguan pada bayi, sehingga ketaatan pada adat adalah wujud penghormatan terhadap tradisi dan spiritualitas.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. SERI 2 – PI’IL PESENGGIRI, FALSAFAH HIDUP YANG TERLUPAKAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Hubungan Spiritual Ibu-Anak dan Perlindungan dari Gangguan Halus.

Setiap elemen dalam upacara kelahiran di Lampung sarat makna simbolis yang mendalam. Misalnya, beras kuning merepresentasikan sikap tolong-menolong dan penghargaan terhadap sesama. Kemiri yang ditaburkan berfungsi sebagai penolak gangguan makhluk halus yang jahat. Uang dan permen yang dibagi dalam tradisi ngebuyu melambangkan ikatan kekeluargaan dan kasih sayang agar bayi diterima dengan baik di masyarakat.
Simbol bunga putih melambangkan kemurnian dan kesucian, kain putih lambang ketulusan dan harapan, dan cahaya lampu sebagai penerangan yang membawa keselamatan dan petunjuk. Melalui ritual ini, ibu dan anak dinyatakan terikat secara spiritual, bukan sekadar secara fisik, yang dijaga dengan doa dan ritual untuk melindungi dari fatamorgana dunia halus.

Analisis Filosofis Tiap Ritual.

Upacara kelahiran dalam adat Lampung bukan sebatas ritual lahiriah, melainkan cerminan filosofi yang mengajarkan keseimbangan hidup manusia dengan alam dan Tuhan. Proses dari kehamilan sampai penanaman ari-ari menandai siklus daur hidup manusia yang integratif, holistik, dan bermakna. Bayi dilihat sebagai entitas dengan hubungan spiritual yang diperlukan dipelihara.
Ritual seperti ngebuyu yang melarang bayi keluar rumah sembilan hari menunjukan nilai perlindungan dan pembentukan identitas yang kuat sebelum mulai menghadapi dunia luar. Pantangan makanan dan waktu menunjukkan pemahaman bahwa karakter terbentuk melalui asupan fisik dan spiritual dalam periode krusial.

Baca Juga :  Adat Saibatin dan Pepadun, Pilar Identitas Etnis. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dukun beranak sebagai figur sentral membawa dimensi metafisik, menegaskan bahwa kelahiran tidak hanya proses biologis tapi perpaduan energetik antara dunia nyata dan gaib. Ritual doa-doa dan sesaji mengokohkan hubungan antar generasi, mewariskan nilai moral, sosial, dan spiritual yang menjadi bekal kehidupan.

Referensi dan Kutipan Asli.
Dalam sebuah doa yang biasa dibaca saat penanaman ari-ari tertulis:
“Ya Allah, limpahkanlah cahaya-Mu yang suci kepada bayi ini, agar tumbuh penuh dengan keberkahan, hormat kepada orang tua, dan kebijaksanaan.” (Doa tradisional Lampung, sumber: Alfina Fistalita et al., 2025).
Ungkapan tersebut menunjukkan bagaimana kepercayaan dan harapan spiritual terikat erat dalam setiap ritual adat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini