Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. SERI 2 – PI’IL PESENGGIRI, FALSAFAH HIDUP YANG TERLUPAKAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dusun di tepian Way Sekampung, hiduplah seorang pemuda bernama Rangga. Ia dikenal cerdas dan berani, namun sering kali sikapnya membuat risih tetua adat karena dianggap terlalu kasar dan individualistis. Suatu hari, Rangga hendak melamar kerja ke kota. Sebelum berangkat, sang nenek, Umpu Sindi, memberinya sebuah tapis tua bersulam benang emas dengan motif pucuk rebung dan sigar betung.
“Ini bukan sekadar kain, Cucu,” bisik Umpu Sindi. “Di setiap jahitan dan motifnya, tersirat Piil Pesenggiri. Bawalah ia sebagai penuntun. Pesenggiri tanpa piil, ibarat harimau tanpa taring; gagah namun kosong. Piil tanpa pesenggiri, bagai sungai tanpa air; ada alur namun hampa.”

Di kota, Rangga mengalami banyak benturan. Ia hampir terseret arus persaingan tak sehat. Setiap kali ragu, ia memandang tapis pemberian nenek. Lambat laun, ia mulai memahami makna di balik simbol-simbol itu: keramahan dalam berinteraksi, keterbukaan menerima perbedaan, semangat gotong royong, penghormatan pada yang lebih tua, dan menjaga harga diri tanpa merendahkan orang lain. Rangga pun menjadi pribadi yang disegani bukan karena kekerasan, tetapi karena kearifan dan integritasnya. Cerita Rangga adalah cermin bagi kita semua.
Piil Pesenggiri bukanlah kata mati yang hanya menghiasi prasasti atau pidato. Ia adalah jiwa yang mengalir dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Lampung.

Secara harfiah, Piil berarti tingkah laku, perangai, atau akhlak. Sedangkan Pesenggiri berasal dari kata senggiri yang berarti ‘malu’, merujuk pada harga diri dan kehormatan yang harus dijunjung tinggi. Jadi, Piil Pesenggiri dapat dimaknai sebagai perilaku mulia yang dilandasi oleh harga diri dan kehormatan.

Falsafah ini merupakan landasan moral yang mengatur interaksi antarindividu, keluarga (buah, bebai), marga (jurai), dan dengan alam semesta. Seperti tertulis dalam Kuntara Raja Niti, sebuah naskah kuno panduan hidup masyarakat Lampung: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.” Artinya, adat istiadat bersumber pada ajaran agama, dan ajaran agama bersumber pada kitab suci Tuhan.

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 9 : Nilai dan Makna Adat Lampung Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kutipan ini menegaskan bahwa Piil Pesenggiri bukanlah budaya yang sekuler, tetapi sarat dengan nilai-nilai spiritual dan ketuhanan, selaras dengan sila pertama Pancasila.

Mari kita telusuri kelima nilai utama ini, yang saling berkait seperti untaian manik-manik pada sebuah tapis.
1. Nemui Nyimah, Keramahan yang Menyapa.
Nemui Nyimah adalah nilai tentang keramahan dan keterbukaan menerima tamu. Dalam tradisi, tamu adalah anugerah. Ritual penyambutan tamu dengan cangget (tari tradisional) dan sajian seruit (makanan khas) bukan sekadar formalitas. Ia adalah simbol bahwa setiap orang, siapapun dia, layak dihargai kehadirannya. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak menutup diri dari perbedaan, melainkan menjadikannya sebagai khazanah untuk saling mengenal, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

2. Nengah Nyappur, Keterbukaan dalam Pergaulan.
Nengah Nyappur berarti aktif dalam pergaulan dan kehidupan sosial. Nilai ini mendorong seseorang untuk tidak mengisolasi diri, tetapi terjun ke tengah masyarakat, mendengar, belajar, dan berkontribusi. Sebuah pepatah adat Lampung mengingatkan: “Muli menyanak, bejuluk beadek.” Artinya, untuk menjadi mulia (secara martabat), seseorang harus memiliki sanak saudara dan berinteraksi dalam tatanan adat. Hidup bermasyarakat adalah sekolah utama untuk mematangkan piil (akhlak) seseorang.

3. Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Menguatkan.
Inilah prinsip solidaritas dan tolong-menolong tanpa pamrih. Membangun rumah (nuah), menggarap ladang, atau menyelenggarakan hajatan, selalu dilakukan secara bersama-sama. Nilai ini adalah pengejawantahan nyata dari sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Gotong royong memastikan tidak ada anggota masyarakat yang terpinggirkan dan beban berat menjadi ringan ketika dipikul bersama.

Baca Juga :  Serial Buku - Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung Buku 3 - Gulai Taboh, Sajian untuk Tamu Mulia. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

4. Juluk Adok, Identitas dan Penghormatan.
Juluk Adok merujuk pada gelar adat (juluk) dan tata krama (adok) yang melekat pada setiap individu berdasarkan garis keturunan dan prestasinya. Sistem marga (jurai) seperti Pubian, Sungkay, Menggala, atau Way Kanan, bukan untuk mengkotak-kotakkan, melainkan untuk mengetahui asal-usul dan menempatkan seseorang dalam tata pergaulan yang sopan. Menghormati juluk adek seseorang berarti menghargai sejarah dan perjalanan hidup keluarganya. Legenda asal-usul marga sering dikaitkan dengan tokoh penyebar agama atau pemuka adat, seperti kisah Said Abdullah, leluhur dari beberapa marga di Lampung, yang menyebarkan Islam sambil menata adat istiadat.

5. Piil Pesenggiri Inti, Harga Diri yang Tak Tergadai.
Ini adalah nilai paling hakiki. Menjaga pesenggiri (harga diri) berarti menjaga integritas, kejujuran, dan komitmen pada kata-kata. Seorang Lampung diharapkan bejenggot (berkata benar), betangkei (berpendirian teguh), dan sai bumi (menjunjung tinggi kebenaran). Seperti pesan dalam naskah Kuntara Raja Niti: “Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Mati sekali, matilah yang mulia.” Hidup yang berarti adalah hidup yang dijalani dengan prinsip dan kontribusi, bukan dengan harta atau pangkat semata. Inilah pondasi karakter kuat yang dibutuhkan untuk membangun profil masyarakat Pancasila.

Lalu, mengapa judul serial ini menyebut “Pemerintah Tutup Mata”? Ini bukan tentang menyalahkan, tetapi sebuah seruan agar semua pihak, terutama pemangku kebijakan, lebih membuka mata. Krisis budaya terjadi ketika:
* Nemui Nyimah tergerus individualisme perkotaan.
* Nengah Nyappur tergantikan oleh interaksi di media sosial yang dangkal.
* Sakai Sambayan menghilang karena segala sesuatu diukur dengan materi.
* Juluk Adok dilupakan, generasi muda tidak lagi mengenal silsilah dan tata krama adatnya.
* Piil Pesenggiri tergadai demi keuntungan sesaat.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Seri - 1. “Ajaran Turun Lembing: Jalan Hidup Orang Lampung” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Pemerintah daerah, melalui dinas pendidikan dan kebudayaan, diharapkan tidak hanya memajukan budaya sebagai “atraksi pariwisata” semata, tetapi menintegrasikan nilai-nilai Piil Pesenggiri ke dalam kurikulum pendidikan dasar, pelatihan aparatur sipil negara, dan program pembangunan masyarakat. Membangun gedung megah tapi mengabaikan karakter warganya adalah kemajuan yang semu.

Piil Pesenggiri adalah pelita warisan leluhur. Ia mungkin tertutup debu zaman, tetapi apinya belum padam. Buku seri ini hadir untuk mengembuskan napas, menyulutnya kembali agar terangnya menerangi jalan generasi sekarang.
Menerapkan Piil Pesenggiri hari ini bisa dimulai dari hal sederhana: bersikap ramah pada tetangga, aktif dalam kegiatan RT, membantu yang kesulitan, menghormati orang yang lebih tua, dan berani berkata benar meski sulit. Dengan demikian, kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun peradaban yang lebih beradab, berkarakter, dan berjiwa Pancasila.

Mari kita jadikan falsafah yang hampir terlupakan ini sebagai kompas dalam mengarungi kehidupan modern. Sebab, seperti kata Umpu Sindi dalam cerita fiksi kita, “Mengabaikan Piil Pesenggiri berarti kehilangan arah pulang ke jati diri kita.”

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Buku Fisik)
2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno, transkripsi dan terjemahan). Koleksi Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. (Dokumen Digital/Fisik)
3. Suryadi, A. (2008). Piil Pesenggiri: Ajaran Moral Masyarakat Lampung. Sapu Lidi. (Buku Fisik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini