nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah kampung di tepi sungai Way Sekampung, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Raden. Ketika usianya menginjak masa belajar berjalan dan mengaji, keluarganya mengadakan beberapa upacara adat yang telah mengakar kuat dalam tradisi marga Saibatin.
Upacara tersebut menjadi tonggak penting dalam hidup Raden, menandai perjalanan panjang ia mengenal dunia luar sekaligus mengenal dirinya sendiri. Dari belajar melangkah dengan penuh doa hingga khitanan yang bukan hanya soal fisik, tetapi sarat makna spiritual dan sosial.
Cerita Raden membawa kita menyelami filsafat adat Lampung yang menggabungkan kearifan lokal, religiositas, dan kekuatan ikatan sosial dalam membentuk karakter anak.
Upacara Saat Anak Belajar Berjalan dan Mengaji.
Dalam masyarakat adat Lampung, masa anak mulai belajar berjalan dan mengaji dianggap sebagai fase penting dalam peralihan menuju kedewasaan. Upacara tradisional dilaksanakan untuk menyemangati sekaligus melindungi anak dari gangguan roh jahat dan bahaya dunia luar.
Filosofi dan Nilai Spiritual.
Upacara belajar berjalan (biasanya dilakukan ketika anak mulai bisa berdiri dan melangkah) disertai dengan ritual doa dan arak-arakan kecil yang diiringi musik tradisional. Makna filosofisnya adalah anak diajarkan untuk berjalan dengan yakin dan penuh kebijaksanaan.
Dalam Kitab Tatuju Tareya, disebutkan: “Eloklah kaki ini menjejak di dunia, jangan sampai tersandung oleh angkara dan tipu daya.”
Kalimat ini mengandung pesan agar anak menginternalisasi sifat waspada, sabar, dan tekun sejak dini.
Begitu pula dengan belajar mengaji , upacara khusus yang menandai anak mulai mengenal huruf hijaiyah dan agama. Kegiatan ini diiringi doa pemuda dan kuliah agama yang diadakan di balai adat, menegaskan integrasi antara adat dan islam sebagai panduan hidup.
Upacara Khitanan dan Maknanya.
Khitanan di Lampung bukan sekadar kewajiban agama, tetapi juga ritual budaya yang kaya simbol dan makna. Biasanya dilakukan saat anak laki-laki memasuki usia tertentu, khitanan diiringi acara walimatul khitan, menggabungkan rasa syukur dan pendidikan karakter.
Sejarah dan Legenda
Marga Saibatin pada zaman dahulu memiliki petunjuk dalam Kitab Pamujis Nuban yang mengatur tata cara khitanan lengkap dengan doa dan mantera yang harus dibacakan.
Makna Filosofis dan Sosial.
Khitanan menjadi simbol peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja, sekaligus pemurnian diri. Tradisi Al Berjanji yang biasa dibacakan saat khitanan adalah komitmen orang tua untuk mendidik anak agar menjadi insan berakhlak mulia dan bermanfaat.
Seorang tetua adat pernah berujar: “Khitanan adalah gerbang suci menuju kedewasaan, bukan semata pemotongan tubuh tapi pemotongan hawa nafsu dan keinginan buruk.”
Prosesi ini turut mempererat hubungan antarwarga dan keluarga besar, meneguhkan solidaritas dan gotong royong yang menjadi tulang punggung sosial masyarakat Lampung.
Nilai Sosial dan Keagamaan dalam Pembentukan Karakter Anak Lampung
Setiap upacara masa kanak-kanak dan remaja menggambarkan penyatuan nilai sosial dan keagamaan.
Anak bukan dilihat sebagai individu terpisah, melainkan bagian dari komunitas yang bertanggung jawab bersama dalam penanaman norma dan budi pekerti.
Analisis Filsafat Adat
Masyarakat Lampung mengajarkan bahwa:
* Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah (Adat berlandaskan agama, agama berlandaskan kitab suci).
* Perkembangan anak harus selaras dengan nilai spiritual dan sosial.
Melalui upacara-upacara ini, anak dididik memahami makna hidup harmonis, hormat kepada leluhur, dan tanggung jawab kemasyarakatan.
Detil Sejarah Marga dan Kaitan dengan Upacara Masa Kanak-kanak
Marga Saibatin dan Legun adalah contoh marga besar yang memiliki silsilah dan dokumen historis lengkap mengenai tata upacara.
Dalam dokumen kuno, Kitab Pamujis Nuban dan Tatuju Tareya, ditemukan nasihat leluhur terkait pengasuhan dan pendidikan anak, khususnya dalam upacara berjalan, mengaji, dan khitanan. Mereka menegaskan pentingnya kontinuitas adat sebagai fondasi menjaga kehormatan marga dan menyambung tali silaturahmi antar generasi.
Legenda marga Saibatin tentang Ratu Melinting sebagai leluhur memperkuat nilai spiritualitas dan kewibawaan dalam pembentukan karakter yang diawali sejak masa kanak-kanak.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

