KHUTBAH JUM’AT : Semangat Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad dalam Perspektif Islam. Oleh : Ustadz H. Komirudin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momen untuk merenungkan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak lahir dari meja perundingan, tidak jatuh dari langit, melainkan diperjuangkan dengan darah, nyawa, amanah, dan doa para syuhada. Pada kesempatan khutbah menjelang hari pahlawan tahun ini, Khotib akan membawakan khutbah yang berjudul : “Semangat Hari Pahlawan dan Resolusi Jihad dalam Perspektif Islam”

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

Ma’asyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah

Selaku khatib, saya mengajak jama’ah sekalian, marilah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT dengan cara menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-nya. Bahkan ketaqwaan itu harus kita tingkatkan, sehingga kita benar-benar tergolong sebagai Muttaqin, yaitu orang-orang yang bertaqwa, yang telah diberi janji oleh Allah SWT dengan kehidupan yang baik di dunia dan baik di akhirat.

Sesungguhnya semulia-mulianya manusia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa kepada Nya.

Salawat beserta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah mengajari kita bahwa kita semua sesama muslim adalah bersaudara.

Ma‘āsyiral Muslimīn jama’ah Jum’at rahimakumullāh,

Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Peringatan ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momen untuk merenungkan bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak lahir dari meja perundingan, tidak jatuh dari langit, melainkan diperjuangkan dengan darah, nyawa, amanah, dan doa para syuhada.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Fatamorgana Kehidupan: Ketika Dunia Hanya Bayang yang Berlalu.(Renungan Surat Al-Ḥadīd Ayat 20). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dalam Islam, membela agama, kehormatan, keluarga, dan negeri adalah perintah yang agung. Allah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Wa lā taḥsabannalladzīna qutilū fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā’un ‘inda rabbihim yurzaqūn.

Artinya: “Jangan kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Rabb mereka dan mendapat rezeki.” (Ali Imran: 169)

Ayat ini menegaskan bahwa perjuangan yang tulus di jalan Allah tidak pernah sia-sia. Mereka dianggap hidup, mulia di sisi-Nya.

Sejarah Resolusi Jihad – Ulama sebagai Pahlawan

Tanggal 22 Oktober 1945, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa terkenal yang kemudian dikenal sebagai Resolusi Jihad. Isi utamanya:

Mempertahankan kemerdekaan Indonesia hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap muslim yang mampu,
terutama yang berada dalam jarak 94 km dari lokasi serbuan musuh.

Fatwa ini menjadi pemicu semangat arek-arek Surabaya yang kemudian meledak pada 10 November 1945.
Para santri, ulama, kiai, rakyat, semuanya bangkit.

Bambu runcing menjadi saksi bahwa keyakinan lebih tajam dari senjata.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
“مَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ”

Man qutila dūna dīnihī fahuwa syahīd.

Artinya: “Siapa yang terbunuh ketika membela agamanya, maka dia syahid.” (HR. Tirmidzi)

Karena itu, para pejuang kemerdekaan, yang mempertahankan tanah air atas dasar agama dan kehormatan, mendapat kedudukan mulia di sisi Allah.

Cinta Tanah Air Bagian dari Iman

Dalam tradisi ulama klasik disebutkan:

“حب الوطن من الإيمان”

Hubbul waṭan minal īmān.

Artinya: “Cinta tanah air adalah bagian dari iman.”

Cinta tanah air bukan sekadar slogan, tetapi: menjaga kedamaian, menolak perpecahan, berjuang memperbaiki bangsa, tidak merusak dan tidak menghianati amanah.

Maka siapa pun yang menebar fitnah, memecah belah, mengadu domba, atau menjual negeri kepada kepentingan asing, hakikatnya telah mengkhianati cita-cita para pahlawan.

Pahlawan dalam Perspektif Islam bukan hanya mereka yang berperang

Tetapi juga mereka yang: mengajar, mencerdaskan, membangun, dan menanam nilai kebaikan, berjuang dengan ilmu dan akhlak, menegakkan keadilan, memberi manfaat bagi umat

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ”

Khairunnāsi anfa‘uhum lin-nās.

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani)

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT Kegembiraan Yang Semua. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Meneruskan Perjuangan Para Pahlawan

Hari ini, perjuangan tidak lagi memanggul senjata. Namun kita wajib meneruskannya melalui: kejujuran dalam pekerjaan, menahan diri dari korupsi dan pengkhianatan, mempersatukan umat, menjaga akhlak dan persaudaraan, menjadi muslim yang kuat, cerdas, dan bermanfaat

Karena negeri ini berdiri bukan untuk dihancurkan oleh fitnah, hoaks, dan kebencian antar saudara.

Jama’ah yang dirahmati Allah…

Negeri ini masih membutuhkan pahlawan, bukan pahlawan yang gugur di medan perang, tetapi pahlawan dalam kejujuran, kesederhanaan, persatuan, dan keberkahan amal.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Innallāha lā yughayyiru mā bi qawmin ḥattā yughayyirū mā bi anfusihim.

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’d: 11)

Perubahan bangsa dimulai dari diri kita: dari cara kita berbicara, bermedia sosial, bekerja, beribadah, dan bermuamalah.

Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah singkat pada hari Jumat yang mulia dan penuh berkah ini. Semoga apa yang telah Khotib sampaikan bisa dijadikan pegangan bagi kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang fana’ ini. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…

KHUTBAH JUM’AT KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Muraqabatullah dan 7 Cara Untuk Senantiasa Merasakan Muraqabatullah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini