nataragung.id – Natar – Kadang, manusia melihat kita dengan pandangan penuh kagum. Mereka memuji tutur kata kita, mengagumi kelembutan sikap, atau menyanjung kebaikan yang sesekali mampu kita lakukan.
Namun sesungguhnya, mereka tidak sedang memuji diri kita, mereka sedang memuji tirai indah yang Allah bentangkan di hadapan mereka.
Allah menutup aib yang jika terbuka, pasti membuat langkah malu tertatih. Allah menutupi cela yang jika terungkap, mungkin tak ada lagi pujian terucap.
Lalu Ia hiasi diri kita dengan sedikit kebaikan, agar manusia melihat cahaya, padahal cahaya itu bukan milik kita, melainkan pinjaman dari langit.
Maka ketika pujian datang mengetuk telinga, jangan biarkan ia menjadi racun yang merusak hati. Jangan biarkan ia tumbuh menjadi takabbur
yang mematahkan sayap amal.
Ingatlah:
Seandainya dosa-dosa memiliki aroma, mungkin tidak ada seorang pun yang mau mendekat.
Seandainya kekurangan kita terlihat seperti goresan di wajah, mungkin tidak ada pujian yang tersisa.
Karena itu, jika manusia mengagumi dirimu, katakan dalam hati:
“Ya Allah, Engkau telah menampakkan keindahan yang bukan milikku, dan Engkau menyembunyikan keburukan yang seharusnya aku malu atasnya. Maka jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah dosa-dosa yang tidak mereka ketahui.”
Begitulah para salihin bersyukur saat dipuji: mereka menunduk, bukan meninggi; mereka menangis, bukan merasa cukup; mereka berlindung kepada Allah, bukan kepada sanjungan.
Sebab hakikat keindahan bukan pada pujian manusia, tetapi pada hati yang ikhlas, amal yang tersembunyi, dan kerendahan diri di hadapan Allah
yang mengetahui setiap rahasia. (106)
Wallahu A’lamu
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

