Dari Ruang Sidang ke Dunia Ritual Mistis — Pengacara Asal Lampung Putri Maya Rumanti Curi Perhatian

0

nataragung.id, Bandar Lampung — Layar bioskop kembali berguncang. Film horor terbaru “Danyang Wingit Jumat Kliwon” resmi tayang dan langsung menyedot perhatian publik. Bukan sekadar menyuguhkan teror, film ini membawa penonton masuk ke ruang gelap warisan mistik Jawa yang selama ini hanya berbisik dalam cerita-cerita turun-temurun.

Di balik gegap gempita pemutaran film ini, nama Putri Maya Rumanti, pengacara asal Lampung yang kini terjun ke dunia seni peran, mendadak menjadi sorotan. Ia tampil sebagai Bintari, sosok sinden yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk.


Riset Setahun: Merbabu, Ritual Tersembunyi, dan Wayang dari Kulit Manusia

Di hadapan ratusan penonton saat premier di Bandar Lampung, Putri mengungkap fakta yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menyebut bahwa kisah film ini bukan semata ilusi naskah atau rekayasa produksi—melainkan hasil riset panjang dan penelusuran langsung ke wilayah yang dikenal angker di lereng Gunung Merbabu.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 10: Makan Penutup, Warisan Rasa yang Menyatukan Generasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Selama satu tahun, tim produksi mendengar kesaksian warga, membuka arsip budaya, hingga menyaksikan ritual yang masih dipercaya sebagian kelompok tertentu.

Puncaknya, mereka menemukan informasi mengejutkan: wayang kulit yang dibuat dari kulit manusia.

“Ini bukan hanya horor untuk menakut-nakuti. Ada rekam cerita sejarah budaya Jawa yang selama ini tersembunyi. Tim menemukan bukti praktik pembuatan wayang dari kulit manusia, dan kami bahkan mendapat izin mempelajari ritualnya,” ungkap Putri, Jumat (21/11/2025).


Peran Menantang: Sinden yang Disiapkan sebagai Tumbal

Meski dikenal sebagai pengacara, Putri mengaku tidak pernah membayangkan dirinya bermain di genre horor. Namun rasa penasaran terhadap dunia mistis membawa langkahnya lebih jauh dari yang ia duga.

“Bukan karena saya ingin ganti profesi. Saya mengambil peran ini karena saya ingin memahami sisi gelap budaya yang jarang dibicarakan,” ujarnya.

Dalam film, ia memerankan Bintari — seorang sinden yang direncanakan menjadi tumbal, demi ambisi sang dalang Ki Mangun Suroto memperoleh kesaktian dan usia panjang.

Baca Juga :  DPW Partai Gelora Lampung Gelar Konsolidasi dan Ikuti Pelantikan Nasional Pengurus 2024–2029

“Saya harus menjadi sosok yang pasrah, yang tidak sadar bahwa dirinya dipersiapkan sebagai tumbal. Itu tantangan mental, bukan sekadar akting,” katanya.


Horor Bernilai Budaya: Pesan Moral di Balik Teror

Bagi Putri, film ini bukan sekadar parade rasa takut. Ada pesan yang ingin disampaikan kepada generasi modern yang mulai jauh dari akar tradisinya.

“Film ini mengingatkan bahwa budaya memiliki dua sisi: sakral dan berbahaya. Pesannya sederhana tapi dalam — jangan mudah percaya kepada siapa pun, terutama saat berkaitan dengan ritual dan kekuatan tak terlihat,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa film ini tidak hanya menyajikan jumpscare, tetapi merawat seni, bahasa, dan atmosfer budaya Jawa klasik.


Kolaborasi Nama Besar dan Dunia yang Dibangun dari Kegelapan

Disutradarai Agus Riyanto, film ini dibintangi Celine Evangelista, Fajar Nugra, Whani Darmawan, Djenar Maesa Ayu, dan tentu saja Putri Maya Rumanti.

Baca Juga :  Wagub Jihan Dorong PMII Berperan Dalam Pembangunan Daerah

Cerita berpusat pada perjalanan gelap Ki Mangun Suroto—dalang yang terobsesi pada kekuatan supranatural, menggunakan wayang kulit manusia sebagai medium ritual terlarang. Suara gamelan gaib, penari tanpa wajah, hingga penghuni padepokan yang menghilang tanpa jejak menjadi elemen yang membangun atmosfer mencekam sepanjang film.


Dengan riset mendalam, pendekatan budaya, dan keberanian mengangkat cerita yang selama ini hanya hidup dalam bisikan tradisi, “Danyang Wingit Jumat Kliwon” hadir bukan hanya sebagai tontonan—tetapi sebagai pengalaman yang mengusik pikiran dan meninggalkan tanda tanya besar:

Jika mitos itu nyata… lalu apa yang sebenarnya masih tersembunyi di balik gelap budaya Nusantara?

Editor  : Muhammad Arya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini