nataragung.id – Natar – Ungkapan bijak menyatakan :
“مِنْ آدَابِ التَّعَامُلِ مَعَ القُرْآنِ: أَنْ يَشْعُرَ المُتَعَلِّمُ أَنَّ القُرْآنَ مُوَجَّهٌ إِلَيْهِ أَوَّلًا”
“Di antara adab dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah: seseorang harus merasa bahwa Al-Qur’an ditujukan kepadanya terlebih dahulu.”
Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang mengalir dari bibir, bukan pula hanya lembaran yang dibuka lalu ditutup lagi. Ia adalah surat cinta yang turun dari langit, ditujukan langsung kepada setiap hamba yang masih bernapas, masih berharap, dan masih mencari jalan pulang menuju Rabb-nya.
Maka adab pertama yang harus tumbuh dalam hati seorang muslim adalah merasa bahwa setiap ayat sedang berbicara kepadanya.
Bahwa nasihat itu: untuknya. Bahwa peringatan itu: menggugahnya. Bahwa janji itu: menguatkannya.
Bahwa ancaman itu: menyadarkanny. Bahwa kabar gembira itu: memeluknya.
Saat engkau membuka mushaf, yakinlah bahwa Allah sedang mengarahkan firman-Nya kepadamu secara pribadi. Seakan Ia berfirman: “Wahai hamba-Ku, dengarkanlah… ini untukmu.”
Karena Al-Qur’an tidak turun untuk masa lalu saja. Ia turun untuk hati yang bergetar hari ini. Untuk langkah yang ragu hari ini. Untuk diri yang lelah hari ini.
Dan sungguh, siapa yang membaca Al-Qur’an dengan perasaan bahwa ia adalah penerima pertama ayat-ayat itu, maka setiap perintah menjadi cahaya, setiap larangan menjadi penjaga, setiap kisah menjadi cermin, setiap janji menjadi penopang jiwa, setiap ayat menjadi sebab hidupnya hati.
Beginilah cara para salaf berinteraksi dengan Kitabullah:
Jika mereka membaca ayat tentang surga, mereka merasa dipanggil untuk memasukinya. Jika membaca ayat tentang neraka, mereka merasa diperingatkan agar menjauhinya. Jika membaca ayat tentang sifat orang beriman, mereka bertanya: “Sudahkah aku termasuk di dalamnya?”. Jika membaca ayat tentang orang munafik, mereka khawatir: “Apakah ciri itu ada pada diriku?”
Maka jadikanlah Al-Qur’an sahabat perjalananmu. Bukan hanya yang kau baca, tetapi yang kau rasakan berbicara langsung kepadamu. Karena Al-Qur’an datang bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menghidupkan hati.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk ahli Al-Qur’an, yang membaca, memahami, mengamalkan, dan merasakan sentuhan kasih sayang Allah dalam setiap ayat-Nya. (KIS/116).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

