Prabowo dan Serakahnomic. Oleh : M.Habib purnomo *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Sebagaimana pernyataan presiden-presiden sebelumnya, pernyataan presiden Prabowo pun menjadi perhatian publik.

Salah satu pernyataan presiden Prabowo pada pidato-pidatonya di tahun pertama kepemimpinannya yang menarik perhatian luas yaitu istilah SERAKAHNOMIC.

Walau sebenar nya istilah serakahnomic sudah agak lama di sampaikan dan sudah banyak yang mengulas, termasuk para pejabat dan pengamat tapi rasanya sayang bila kita sebagai rakyat tidak meresponnya, karena menyangkut kepentingan orang banyak.

Pernyataan Presiden Prabowo tentang serakahnomic harus kita aktualkan (bicarakan) terus menerus supaya tidak hilang menguap begitu saja di telan masa.

Prabowo menggambarkan contoh fenomena serakahnomic yaitu di Indonesia ini, kebun sawitnya terluas di dunia (tentu dengan cara membabat hutan), penghasil bahan minyak goreng sawit terbesar di dunia, tapi anehnya di dalam negeri sendiri minyak goreng mahal bahkan pada tahun 2022 terjadi kelangkaan minyak goreng di Indonesia, ini artinya ada keserakahan para pemain industri minyak goreng sawit.

Bagi kita orang kampung mungkin bisa membayangkan serakahnomic itu ibaratnya ada pembagian beras bansos lima kilogram, perkantongnya di bagi di rumah kepala dusun (Kadus) satu KK satu kantong, tapi dalam pelaksanaannya ada yang dapat dua kantong beras ada yang dapat tiga kantong dan ada yang tidak dapat bagian beras bansos sama sekali, lalu pulang gigit jari.

Baca Juga :  Metode Yang di Pergunakan Oleh Ormas Islam dan Pemerintah Dalam menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal. Oleh : H. SyahidanMh *)

Dalam konteks pembangunan nasional serakahnomic ibaratnya asap, tidak mungkin ada asap bila tidak ada api, ada akibat pasti ada sebabnya.

Fenomena serakahnomic sebagaimana yang di gambarkan presiden Prabowo menurut penulis adalah akibat, apa sebabnya, inilah yang publik dan pemerintah perlu mendiskusikannya.

Di masa orde baru presiden Soeharto dikenal sebagai bapak pembangunan, terjadi pembangunan di banyak sektor termasuk dibidang ekonomi.

Di bidang ekonomi, salah satu yang kita kenal di masa orba yaitu teori pembangunan sistem menetes ke bawah (trickle down effect).

Sistem ekonomi menetes kebawah ( trckle down effect) dengan cara pemerintah memberikan subsidi dan kemudahan-kemudahan kepada orang kaya (pemodal) dengan harapan bila usahanya orang kaya ini berhasil, nanti dampaknya akan menetes ke orang-orang miskin di sekitarnya (lapangan pekerjaan).

Banyaknya subsidi dan bantuan-bantuan yang diberikan pemerintah dimasa orba kepada orang kaya (pemodal) memunculkan para konglomerat-konglomerat baru yang memonopoli kehidupan ekonomi di Indonesia.

Pemerintah berharap para orang kaya ini membantu pembangunan masyarakat dan di kenal-lah dimasa orba dengan kelompok Jimbaran yg di pimpin Sudono Salim ( Liem Sioe liong) dll.

Baca Juga :  Buku, Hukum, dan Keteladanan Seorang Pendidik. Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

Alih-alih group ini membantu pemerintah, justru sebaliknya kelompok ini minta lagi subsidi dan kemudahan-kemudahan dibidang per-bank-kan dari pemerintah berupa pinjaman bank dan kemudian terjadi prahara kemacetan yang kemudian di kenal dengan kasus BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) dan berujung krisis moneter tahun 1998.

Setelah reformasi nampaknya sistem ekonomi trickle down (menetes ke bawah) ini masih juga di pakai oleh pemerintah dan para konglomerat yang tadinya bangkrut mereka bangkit lagi hingga ada istilah di media “loe lagi loe lagi” (orang yang super kaya itu-itu lagi).

Lawan dari teori trickle down yaitu trickle up di mana masyarakat kebanyakan diberi subsidi usaha kecil dengan harapan bila usaha masyarakat bawah berhasil maka akan menaikkan level pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, di satu sisi muncul para orang super kaya di Indonesia namun disisi lain kita melihat pemandangan berduyun-duyunnya anak muda didesa pergi ke Taiwan, Hongkong, Korea Selatan dan Jepang sebagai buruh migran, para ojek on line (ojol) sebagian besar lulusan perguruan tinggi, ini karena sulit nya mencari lapangan kerja di Indonesia menjadi bukti bahwa teori trickle down gagal di terapkan di Indonesia.

Baca Juga :  Hari Konservasi Satwa Liar : Duka Satwa Liar Sumatera dan Kesadaran Kolektif. Oleh: Edi Sriyanto *)

Sistem trickle down effect dengan memberi subsidi kemudahan kepada orang kaya yang di Amerika dulu di kenal istilah REAGENOMIC (Kebijakan presiden (Ronald Reagen 1981-1989) begitu diterapkan di Indonesia ternyata gagal menetes ke bawah, ekonomi hanya berputar di antara mereka saja (konglomerat) dan bahkan sebagian uang orang- kaya itu disimpan di luar negeri.

Serakahnomic adalah “akibat” dari salahnya pemerintah dalam membuat kebijakan dan membagi kue ekonomi nasional dan akhirnya sekarang kita semakin jauh dari cita – cita luhur para pendiri bangsa dalam melaksanakan sila ke lima Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Di masa lalu rakyat banyak berharap dengan presiden Jokowi tapi ternyata kenyataan memang tidak seindah kata, akankah hal itu terulang di masa presiden Prabowo?

*) Penulis Adalah : Aktivis PWNU Provinsi Lampung, tinggal di Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini