Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 8. “Rumah Adat, Rumah Jiwa: Tempat Kita Belajar Hidup” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, ketika manusia pertama di bumi Lampung, Sang Bumi dari Marga Pemuka, masih berpindah-pindah, suatu mimpi turun kepadanya. Dalam mimpi itu, seekor gajah putih raksasa berkata, “Ikutilah jalanku. Di mana aku berhenti dan membalikkan badanku tiga kali, di sanalah engkau harus menancapkan tiang pertama.” Sang Bumi pun mengikuti jejak gajah itu selama tujuh hari tujuh malam.
Akhirnya, di sebuah dataran tinggi yang diapit dua sungai, gajah putih itu berhenti. Ia membalikkan badannya dengan lamban, tiga kali penuh makna. Saat tubuhnya yang ketiga kali membalik menyentuh tanah, gempa kecil terasa dan dari titik itu mengalirlah mata air jernih. Sang Bumi memahami isyarat itu. Ia mengumpulkan kayu besi terbaik dari hutan larangan, lalu memanggil seluruh keluarganya.

Sebelum menancapkan tiang pertama yang disebut tiang pemucak, ia berdoa dengan khusyuk, “Wahai roh nenek moyang, turunlah dan tinggallah di sini. Jagalah cucu-cicit kami. Tiang ini kami tancapkan, bukan untuk sombong, tetapi untuk memuliakan hidup yang Engkau berikan.”

Begitulah rumah adat pertama, Nuwou Balak, didirikan. Setiap tiang, setiap bilah bambu, disusun bukan hanya sebagai tempat bernaung, tetapi sebagai perwujudan ikatan suci antara manusia, leluhur, dan alam. Rumah itu menjadi pusat kehidupan Marga Pemuka, dan kelak, filosofi pendiriannya menyebar ke seluruh masyarakat adat Lampung.

Struktur Nuwou: Cermin Kosmos dan Hirarki Sosial.

Rumah adat Lampung, baik Nuwou (bagi Saibatin) maupun Sesat (bagi Pepadun), adalah mikrokosmos yang merefleksikan tata alam semesta dan tata sosial masyarakat.
A. Tiga Tingkatan Ruang (Tri Tangkai): Setiap rumah adat memiliki tiga bagian utama:
1. Bagwah/Lepau (Kolong): Tempat hewan ternak dan penyimpanan alat pertanian. Ini melambangkan dunia bawah, hubungan dengan bumi (bumi segindang) sebagai pemberi kehidupan.

Filsafatnya tertuang dalam petuah, “Hidup itu seperti rumah, kau harus kenal tanah tempat berpijak sebelum membangun atap.”

Analisis: Kolong rumah mengajarkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa kemakmuran dimulai dari pengelolaan sumber daya alam yang paling dasar. Di sini anak-anak belajar pertama kali tentang tanggung jawab merawat hewan.
2. Lapangan/Kehidupan Sehari-hari (Tingkat Tengah): Ruang utama keluarga, tempat makan, berkumpul, dan menerima tamu. Ini adalah dunia tengah, dunia manusia.
Ruang ini terbagi lagi berdasarkan gender dan status, misalnya area Halik/Hijau (untuk perempuan dan keluarga inti) dan area yang lebih publik untuk tamu.

Baca Juga :  Catatan Kehidupan : Yang Dilihat dan Dicatat Dari Kitab Kuntara Raja Niti Jugul Muda - Bagian Terpenting Dari BAB ke BAB

3. Para/Payung (Loteng/Ruang Bawah Atap): Tempat menyimpan pusaka, hasil panen pilihan, dan benda-benda sakral. Ini melambangkan dunia atas, yang suci dan terhormat.
Sebuah manuskrip Kuntara Raja Niti menyebutkan, “Pusaka di para, jangan sembarang turun. Ia penjaga semangat rumah, hanya diturunkan saat hati dan waktu bersih.”

Analisis: Hirarki vertikal ini mengajarkan nilai keteraturan (tertib sandi). Setiap benda dan orang memiliki tempatnya sesuai fungsi dan martabatnya. Naik ke loteng bukan soal fisik, tetapi tentang penghormatan terhadap warisan spiritual.

B. Tiang Penyanggah (Cacak): Jumlah tiang utama biasanya ganjil, melambangkan kekuatan dan kesatuan. Tiang paling tengah (tiang gantung/pemucak) adalah simbol dari Sanghyang Tunggal, poros kehidupan.
Filosofi ini tercermin dari syair adat, “Cacak yang tegak, diikat balak, sandarnya satu. Bagaimana rumah akan kuat, jika tiang porosnya miring?” Analisis: Tiang poros adalah analogi dari prinsip hidup yang utama (piil pesenggiri). Jika prinsip itu goyah, maka seluruh ‘rumah’ kehidupan seseorang akan runtuh.

Ritual Membangun dan Menghidupi Rumah.

Mendirikan rumah adalah peristiwa sakral yang melibatkan seluruh komunitas dan penuh ritual.
1. Mencari Lokasi dan Bahan (Ngelamak Libo): Dipimpin oleh tetua adat (penyimbang), proses ini melibatkan membaca tanda alam, mimpi, dan perhitungan khusus. Pohon yang akan dijadikan tiang utama dipilih yang rimbun dan sehat, sebagai doa agar keturunan juga demikian.
Sebelum ditebang, diadakan sesajen kecil dengan doa: “Kami ambil jasamu, wahai pohon, untuk rumah kami. Rohmu kami pindah, menjadi pelindung rumah baru.”

Analisis: Ritual ini adalah praktik nyata dari filosofi bulan sebagai wat dalam alam, manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya. Setiap pengambilan sumber daya disertai dengan permohonan maaf dan komitmen untuk memuliakannya.

2. Upacara Mendirikan Tiang (Ngebangun Cacak): Ini adalah puncak acara. Semua warga marga berkumpul. Tiang utama didirikan dengan diiringi tabuhan gendang dan lantunan warahan adat.
Saat tiang tegak, disematkanlah benda-benda seperti logam, kain putih, atau daun tertentu di pangkalnya sebagai “penolak bala”. Seorang penyimbang akan berkata, “Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa dan restu nenek moyang, kami tegakkan rumah ini. Semoga di dalamnya ada cahaya, rezeki, dan kebaikan. Yang jahat tetap di luar, yang baik silakan masuk.”

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Gang Tetap di Pegang Teguh Oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku 5. Peran Generasi Muda. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis: Upacara ini adalah deklarasi sosial dan spiritual. Ia menandai berdirinya sebuah unit keluarga baru yang diakui oleh komunitas dan leluhur. Penyatuan doa kepada Tuhan dan leluhur menunjukkan sinkretisme spiritual yang khas.

3. Hidup di Dalam Rumah: Tata Krama dan Pendidikan Karakter: Kehidupan sehari-hari di dalam rumah adat adalah sekolah karakter.
Anak-anak tidur sesuai usia dan gender, mengajarkan disiplin. Tempat duduk bagi tamu menunjukkan penghormatan. Dapur (dapuh), yang biasanya agak terpisah, adalah wilayah otoritas ibu. Di sinilah nilai bejuluk beadek (saling menghormati gelar dan peran) dipraktikkan.
Sebuah aturan tak tertulis dalam Had Lampung menyebut, “Anak muda duduk di ujung, mendengar dahulu sebelum berbicara. Kepala keluarga dekat dengan pintu, menghadap ke dalam, menjaga semua isi rumah.”

Analisis: Tata ruang menginternalisasi nilai-nilai sosial. Posisi duduk bukan sekadar soal nyaman, tetapi tentang kesadaran akan posisi diri dalam jaringan marga. Rumah menjadi pelatihan terus-menerus untuk menjadi manusia yang sai batin (berjiwa pemimpin) dan merakyat.

Rumah sebagai Pusat Silsilah dan Penyelesaian Konflik.

Rumah adat, khususnya Sesat bagi masyarakat Pepadun, berfungsi sebagai balai pertemuan adat (pesenggirahan). Di sinilah silsilah (jurai) dibacakan, pernikahan dirayakan, dan konflik diselesaikan.
Di ruang utama Sesat, terdapat tiang-tiang yang seringkali diukir dengan simbol marga tertentu. Setiap marga mengetahui posisi dan tiangnya. Saat terjadi sengketa, para pihak akan duduk di rumah adat, didampingi penyimbang masing-masing.

Proses musyawarah (begundal) dilakukan dengan merujuk pada kisah leluhur dan petuah yang tersimpan di rumah itu. Sebuah naskah kuno mencatat pernyataan seorang pemuka adat dalam penyelesaian sengketa: “Lihatlah atap ini, berat tapi tak jatuh karena ditopang banyak tiang. Persoalan kita berat, tapi takkan selesai jika hanya kami yang memikul. Mari kita dukung bersama, seperti tiang-tiang ini menopang satu atap.”

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 1: Ngejalang, Tradisi Menjamu Tamu, Bukan Sekadar Makan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis: Rumah adat berfungsi sebagai ruang netral yang diresapi energi kebijaksanaan kolektif. Fisik bangunan itu sendiri menjadi metafora hidup yang dipakai untuk mendamaikan. Ia adalah pengingat visual bahwa persatuan (sakai sambaian) adalah kunci kekuatan.

Rumah Jiwa di Zaman yang Berubah.

Kini, mungkin sudah jarang keluarga yang mendirikan Nuwou Balak lengkap. Namun, filosofi “Rumah Jiwa” tetap relevan. Banyak masyarakat Lampung modern memasukkan unsur-unsur filosofis itu ke dalam rumah beton mereka: menyediakan ruang keluarga yang luas sebagai ‘lapangan’, membuat tempat khusus untuk pusaka keluarga sebagai ‘para’, atau sekadar menancapkan sebuah tiang kayu pilihan di teras sebagai simbol ‘tiang pemucak’.

Rumah adat mengajarkan bahwa sebuah rumah bukanlah sekadar kumpulan material. Ia adalah jiwa kolektif, sekolah tanpa dinding tempat nilai-nilai hidup diajarkan dalam keheningan rutinitas. Seperti pesan dari legenda Sang Bumi, rumah sejati adalah tempat di mana kita belajar menghormati tanah yang kita pijak, manusia yang hidup bersama kita, dan warisan rohani yang harus kita teruskan. “Rumah yang kuat,” demikian petuah seorang penyimbang tua, “bukan yang dindingnya dari batu, tetapi yang penghuninya memiliki rasa malu dan harga diri yang dijaga bersama.”

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Arsitektur Tradisional Daerah Lampung oleh Ir. V. R. van Romondt, dkk. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984) – Format Fisik (tersedia di Perpustakaan Nasional).
2. Naskah & Transliterasi: Had Lampung dan Kuntara Raja Niti – koleksi naskah kuno hasil transliterasi Pusat Studi Lampung (dokumentasi Digital Terverifikasi dari Universitas Lampung).
3. Buku: Masyarakat Adat Lampung: Studi Tentang Struktur, Sistem Nilai, dan Perubahannya oleh Dr. M.Y. Nun (Penerbit Latifah Press, 1993) – Format Fisik.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini