Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 9 : Nilai dan Makna Adat Lampung Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah desa tua di Lampung Tengah, hiduplah seorang pemuda bernama Damar. Sejak kecil Damar tumbuh dalam lingkungan adat yang kuat, dipenuhi nilai kebersamaan dan gotong royong. Suatu hari, ia menemukan sebuah siger warisan keluarga, mahkota emas bercabang tujuh yang pernah dipakai oleh nenek moyangnya.
Bersama sesepuh marga Saibatin, Damar belajar tentang makna dalam setiap lekukan, kain tapis, dan pantangan ritual yang mengikat hidup masyarakat mereka. Cerita Damar adalah cermin perjalanan memahami huruf-huruf kehidupan yang tertulis dalam adat yang kaya spiritualitas dan filosofi.

Makna Simbolik Benda Adat, Pantangan, dan Bahasa Ritual
Benda-benda adat seperti siger, kain tapis, keris, gelang kano, dan bulu serati dipandang bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol-simbol hidup yang sarat filosofi.
* Siger (mahkota pengantin perempuan) memiliki lekukan tujuh atau sembilan, menggambarkan gelar adat dan marga yang mengikat kebanggaan dan kewibawaan seseorang. Siger juga merefleksikan prinsip hidup Piil Pesenggiri, yaitu menjaga harga diri dan kehormatan hidup.
* Kain Tapis mencerminkan kesucian, keteguhan, dan keberlanjutan sosial.
* Keris sebagai lambang keberanian dan penjaga tradisi.
* Gelang Kano melambangkan persatuan keluarga agar utuh.
* Bulu Serati menyempurnakan ikatan perkawinan.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Petuah Leluhur tentang Puasa dan Kehidupan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Bahasa ritual berperan mengangkat nilai spiritual melalui mantera dan doa dalam bahasa Lampung, Arab, dan Melayu klasik yang diwariskan lewat kitab-kitab kuno seperti Tatuju Tareya dan Pamujis Nuban.
Pantangan adat memandu perilaku sehingga adat dan spiritualitas terpadu, menghindarkan manusia dari malapetaka dengan menjaga kesucian dan keharmonisan hidup bersama.

Nilai-Nilai Luhur: Kebersamaan, Gotong Royong, Hormat pada Orang Tua
Keseluruhan tata cara adat menggambarkan gotong royong sebagai jiwa sosial yang sangat dijunjung tinggi. Keluarga dan masyarakat saling bergotong royong dalam pelaksanaan upacara, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan.
Hormati orang tua dan sesepuh adalah perintah suci yang lestari dalam filosofi hidup masyarakat Lampung. Anak dididik untuk selalu menghargai dan melanjutkan nilai leluhur demi kelangsungan identitas dan masyarakat.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 7. “Tapis Berbicara: Makna yang Dijahit oleh Ibu-Ibu Adat” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Relevansi Adat dalam Kehidupan Modern.

Meskipun dunia terus berubah, adat Lampung tetap relevan sebagai pondasi sosial dan identitas budaya. Nilai kebersamaan, rasa hormat, dan keselarasan hidup antara manusia, alam, dan Tuhan tetap menjadi pegangan.
Adat menjadi medium pengajaran moral dan spirit yang melampaui zaman, menjadi kekuatan sosial yang membentuk karakter dan menjaga keharmonisan komunitas di tengah modernisasi.

Baca Juga :  Lebaran di Tanah Pepadun. Musyawarah, Maaf, dan Makna Kebersamaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejarah Marga dan Legenda Pendukung
Marga Saibatin dan Pepadun dengan kitab adat dan silsilah yang terjaga menjadi sumber utama dalam mempelajari simbolisme dan makna adat. Dalam legenda marga Saibatin, setiap benda dan ritual adalah wasiat leluhur agar manusia hidup seimbang dan bermartabat.
Kisah leluhur dijadikan rujukan dalam penguatan adat dan penanaman karakter agar generasi penerus memahami akar dan tujuan hidup bermasyarakat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini