nataragung.id – Lampung Selatan – 18 Desember 2025 – Dunia hari ini memperingati Hari Migran Internasional dengan tema besar: “My Great Story: Cultures and Development”. Tema ini bukan sekadar glorifikasi atas perpindahan manusia, melainkan sebuah pengakuan global bahwa setiap migran adalah penulis narasi pembangunan dan jembatan kebudayaan yang memperkaya masyarakat dunia. Namun, bagi bangsa Indonesia, narasi besar ini harus dibaca melampaui statistik remitansi. Ia adalah soal kedaulatan dan martabat manusia yang dijamin oleh Konvensi PBB 1990.
Dalam cakrawala pemikiran kemanusiaan kita, membincangkan migrasi tanpa menyentuh “ruh” KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sebuah kenaifan sejarah. Gus Dur bukan hanya pembela migran dari balik meja kekuasaan; beliau adalah pelaku sejarah itu sendiri. Secara kultural, Gus Dur memahami getirnya menjadi “liyan” saat melakoni pekerjaan kasar sebagai tukang pel kapal di Belanda hingga buruh binatu di Irak. Pengalaman ini membentuk sebuah “Great Story” yang otentik, di mana kebijakan perlindungan tidak lahir dari teori akademik semata, melainkan dari empati yang mendalam.
Secara struktural, Gus Dur mendefinisikan ulang peran negara melalui prinsip kemaslahatan publik yang fundamental: bahwa kebijakan seorang pemimpin haruslah berorientasi sepenuhnya pada keselamatan rakyat. Diplomasi telepon beliau kepada penguasa asing demi menyelamatkan nyawa seorang Siti Zaenab adalah bukti bahwa di tangan pemimpin yang tepat, kedaulatan negara digunakan untuk melindungi nyawa, bukan sekadar menjaga citra diplomatik yang kaku.
Memasuki tahun 2025, kontribusi ekonomi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diprediksi menembus Rp180 Triliun seharusnya diikuti dengan penguatan sistem perlindungan di era digital. Jangan sampai “Great Story” mereka berubah menjadi “Dark Story” akibat jeratan perdagangan orang (online scam) yang kian canggih. Negara tidak boleh hanya hadir sebagai “penerima upeti” devisa, melainkan harus hadir sebagai perisai hukum yang tangguh.
Akhirnya, Hari Migran 2025 adalah panggilan untuk mengembalikan martabat manusia ke singgasananya. Sebagaimana pesan abadi Gus Dur, “Di atas politik, ada kemanusiaan.” Setiap migran Indonesia adalah duta bangsa yang sedang menulis sejarah peradaban. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa setiap kata dalam narasi mereka adalah tentang kesuksesan, keamanan, dan kehormatan yang terjaga.
Tabik.
*) Penulis Adalah; Aktivitas NU Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Kabupaten Lampung Selatan.

