nataragung.id – Lampung Selatan – Perjalanan dari Lampung Selatan menuju Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, sejatinya adalah sebuah rihlah sosiologis. Di dalam kabin kendaraan yang membelah jalanan Jawa, saya duduk bersama KH RM Soleh Bajuri, Kiai M Ishomudin, KH Nur Mahfudz, H. Hasan Munawir (Katib Syuriyah PCNU Lampung Timur), dan A. Nur Fauzi. Kami tidak sedang membicarakan angka atau proyek, melainkan kegelisahan kolektif tentang sebuah rumah besar bernama Nahdlatul Ulama yang belakangan terasa pengap oleh konflik elit di pusat.
Ahad pagi, 21 Desember 2025, pukul 06.00, Kota Kediri menyambut kami dengan udara dingin yang tenang. Kami singgah 30 menit di Masjid Agung Kediri—sebuah ritual “pendinginan” batin sebelum memasuki episentrum musyawarah. Di Lirboyo, kami tidak langsung ke meja rapat. Santri punya protokol langit: ziarah. Di pusara KH Abdul Karim (Mbah Manab), KH Marzuqi Dahlan, dan KH Mahrus Aly, kami bersimpuh. Inilah jangkar moral kami. Di depan makam para muassis itulah, segala ambisi jabatan terasa kerdil.
Lirboyo hari itu menjadi saksi sebuah anomali demokrasi yang indah. Saat organisasi modern sering kali terjebak dalam deadlock struktural, NU kembali ke khitmahnya: musyawarah alim ulama. Di Aula Al Muktamar, suasana dibuka dengan istighotsah oleh KH Kafabihi Mahrus. Lalu, panggung diserahkan kepada arus bawah. KH Ubaidullah Shodaqoh (Gus Ubed) mengoordinir penyerapan aspirasi dengan sangat cair.
Ada pemandangan yang menarik bagi para peminat sosiologi organisasi. Penyerapan aspirasi tidak dilakukan melalui orasi kaku di podium. Para kiai, termasuk Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan dan para utusan lainnya, berdiri di tempat duduk masing-masing saat menyampaikan pandangannya. Suasana ini terasa lebih jujur dan egaliter. Dari titik-titik duduk itulah, kristalisasi kegelisahan 521 PWNU dan PCNU se-Indonesia disuarakan. Hanya 3 menit perwakilan, namun isinya tajam: NU sedang mengalami keruntuhan wibawa akibat konflik internal. Tepuk tangan riuh hadirin adalah konfirmasi bahwa daerah sudah lelah melihat pertengkaran di atas. Lampung tidak bicara untuk Lampung, tapi menyuarakan suara nasional yang menginginkan ishlah bermartabat.
Puncak dramatik terjadi saat para Mustasyar PBNU memasuki aula setelah draf aspirasi rampung disusun. KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Said Aqil Sirodj, KH Muhammad Nuh Addawami, hingga KH Zaki Mubarok memberikan bobot pada musyawarah ini. Naskah kesepakatan yang dibacakan bukan sekadar ultimatum 3×24 jam bagi Rais Aam dan Ketua Umum. Ini adalah pesan kepada publik bahwa NU memiliki sistem “darurat otomatis”. Jika elit gagal berdamai, maka Mustasyar turun tangan. Jika Mustasyar diabaikan, maka 50+1 suara daerah (MLB) adalah jalan konstitusional terakhir untuk menyelamatkan jam’iyyah.
Ada kelegaan—atau dalam bahasa pesantren “plong”—saat Ketua Umum Gus Yahya menyatakan sikap taslim (patuh) di hadapan para kiai sepuh. Meskipun di balik itu, surat pernyataan resmi beliau mengungkap betapa sulitnya pintu komunikasi di level pucuk pimpinan. Ini adalah realitas politik jam’iyyah yang pahit namun harus dikelola dengan kepala dingin.
Sesaat setelah jajaran Mustasyar meninggalkan aula, suasana berubah cair. Saya sempat berswafoto dengan Gus Ubed dan beberapa kiai lainnya. Senyum-senyum di foto itu adalah simbol bahwa ketegangan telah menemukan muaranya. Tepat saat kami keluar, hujan mulai turun mengguyur Lirboyo. Di bawah rintik hujan yang menyejukkan, kami diarahkan menuju ruang ramah tamah. Alam seolah mengirimkan “pendingin” bagi suhu politik yang sempat memanas.
Peristiwa Lirboyo ini adalah potret nyata bagaimana social capital bekerja di dalam NU. Saat struktur formal macet, kekuatan kultural dan sejarah (para kiai sepuh) mengambil alih kemudi melalui legitimasi arus bawah. Kami pulang ke Lampung Selatan dengan dada lapang. Kami tidak membawa kemenangan faksi, kami membawa kemenangan konsensus. Lirboyo telah membuktikan bahwa NU tidak akan pernah kehilangan arah selama kompasnya tetap berada di tangan para masyayikh dan kedaulatan jamaah di daerah tetap terjaga. (*).
*) Penulis Adalah: Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan

