Tahun Baru Tanpa ‘Dar-Der-Dor’.(Menyongsong Tahun Baru 2026). Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – HIMBAUAN Gubernur Lampung untuk tidak membunyikan petasan dan kembang api di malam pergantian tahun 2026 merupakan tindakan terpuji sebagai bentuk empati bagi para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Walaupun sifatnya hanya himbauan, bukan perintah atau instruksi, namun perlu diapresiasi oleh masyarakat, khususnya masyarakat Lampung yang dikenal penuh toleransi dan keramahan.

Tempat-tempat hiburan diharapkan dapat mengikuti himbauan Gubernur untuk tidak menggelar acara pesta tahun baru, untuk menunjukkan kepedulian dan empati terhadap masyarakat yang terdampak, serta membantu menciptakan suasana yang lebih khidmat dan reflektif di malam pergantian tahun.

Selain untuk menunjukkan kesadaran dan kepedulian sosial, himbauan Gubernur ini juga mengajarkan kepada kita tentang pentingnya nilai-nilai kesetiakawanan dan solidaritas sosial terhadap sesama.

Dengan mematuhi himbauan tersebut, kita telah menunjukkan empati dan kepedulian terhadap mereka yang tertimpa bencana. Nilai-nilai kesetiakawanan dan solidaritas sosial seperti ini sangat penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan peduli sesama. Maka semua pihak perlu berpikir ulang, masih pantaskah berpesta pora yang penuh hingar bingar, menggelar panggung-panggung hiburan dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru. Bukankah peristiwa pergantian tahun merupakan fenomena sesaat yang hanya memberikan kenikmatan dalam hitungan menit.

Baca Juga :  Yang Berbeda Awal Ramadhan, Bukan Iman. Catatan Lepas : Gunawan Handoko *)

Secara tidak sadar, kita telah menghamburkan sekian banyak uang yang sesungguhnya uang tersebut sangat dibutuhkan oleh saudara-saudara kita yang sedang dirundung duka akibat bencana banjir bandang. Disinilah rasa dilematis seorang manusia di mulai, siapapun akan merasa miris ketika menyaksikan jasad manusia tertimbun lumpur dan longsoran tanah, ribuan manusia yang kehilangan rumah dan dipastikan dalam beberapa hari ke depan harus tidur ditenda-tenda darurat, rumah-rumah ibadah dan bangunan sosial lainnya. Tidak ada pihak yang bisa memastikan, sampai kapan mereka harus tinggal ditempat pengungsian. Masih beruntung, masyarakat disana tidak serta merta protes, meski harus menanggung penderitaan sangat berat. Dalam kegalauan hati, mereka yang hanya bisa saling pandang penuh tanya, siapa diantara mereka yang berlumur dosa, apa salah mereka dan mengapa korban yang paling banyak justru di derita masyarakat yang masuk kategori sebagai kaum yang lemah dan miskin.
Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, pasrah dan tidak pernah menipu apalagi korupsi.

Meski demikian, mereka lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena musibah atau peringatan ‘Ilahi’ kepada umat manusia. Maka kita tidak perlu memperdebatkan tentang tinjauan teologi, apakah bencana ini sebuah ujian, cobaan, peringatan, azab atau apapun namanya.

Baca Juga :  Tujuh-Belasan Dan Nasionalisme Generasi Muda. Catatan lepas Gunawan Handoko *)

Yang pasti, bencana ini terjadi semata-mata atas kehendak Tuhan, dan Ia pasti telah mempunyai rencana lain di balik itu. Ini musibah kita bersama yang harus kita rasakan dan pikul secara bersama pula. Sikap saling menyalahkan bukanlah hal yang bijak, justru akan memperbesar masalah. Dalam suasana seperti ini, mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk membeli petasan dan kembang api untuk membantu mereka yang sedang berduka adalah merupakan tindakan yang sangat mulia. Bukan hanya menunjukkan empati dan kepedulian terhadap sesama, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Dalam konteks pergantian tahun, sesungguhnya bukan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya dalam memasuki tahun baru. Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam upaya memperoleh sesuatu yang baru. Ketika memasuki detik-detik pergantian tahun, seyogyanya kita melakukan muhasabah dan sujud syukur, duduk dalam keheningan malam untuk melihat dengan jernih seraya mengharap bimbingan Tuhan, dan berdoa untuk kebaikan bersama, khususnya bagi mereka yang sedang dalam penderitaan.

Malam pergantian tahun hendaknya menjadi momen dan kesempatan untuk berbagi kasih dan kepedulian terhadap sesama. Bencana yang menimpa Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang telah memakan banyak korban jiwa, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Dalam menyambut tahun baru, kita jadikan momen ini untuk merefleksikan kehidupan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya keselamatan, kesiapsiagaan, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian kita dapat memasuki tahun baru dengan semangat yang lebih kuat dan tekad untuk menjadi lebih baik. Jujur harus diakui, banyaknya korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor di 3 provinsi ini menunjukkan bahwa masyarakat dan pemerintah belum sepenuhnya siap dalam menghadapi bencana. Lemahnya mitigasi bencana seperti sistem peringatan dini yang tidak evektif, kurangnya edukasi dan pelatihan serta infrastruktur yang tidak memadai, telah memperparah dampak bencana.

Baca Juga :  Otonomi Daerah dan Kesejahteraan Rakyat. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi bencana, serta investasi dalam infrastruktur yang lebih baik untuk mengurangi resiko bencana. Mari kita jadikan bencana ini untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata dalam menjaga dan bersahabat dengan alam. Semoga tahun baru 2026 membawa kita lebih dekat dengan impian dan tujuan yang lebih baik. **

*) Pemerhati masalah sosial, tinggal di Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini