nataragung.id – Bandar Lampung – Setiap memasuki bulan Agustus, masyarakat mulai sibuk untuk mempersiapkan pesta rakyat dengan menghias pagar dan halaman rumah masing-masing serta mengibarkan bendera merah putih. Tanpa menunggu perintah, anak-anak muda dengan didukung para orang tua mulai mengemas acara tujuh belasan yang akan dilombakan.
Lagu-lagu perjuangan berkumandang menambah semangat acara lomba. Dan ketika hari kemerdekaan 17 Agustus tiba, semua kampung mengadakan pesta rakyat dengan menggelar bermacam kesenian tradisional.
Itulah kenangan di masa kecil saya dulu yang tetap membekas dalam ingatan. Bagaimana dengan sekarang, masihkah kaum muda memiliki semangat cinta Tanah Air, dan hatinya terpanggil untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan masing-masing?
Jangan dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta tanah air, jika untuk mengadakan peringatan kemerdekaan RI saja tidak mau. Jangan dulu bicara tentang bela negara jika untuk mengibarkan bendera merah putih saja merasa enggan.
Omong kosong bicara tentang kesetiakawanan dan solidaritas sosial, jika dalam keseharian hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Bohong besar bicara tentang persatuan dan kesatuan, bila kenyataannya banyak organisasi kemasyarakatan pemuda hanya sebatas papan nama. Sungguh ironis dan menyedihkan.
Mengapa semua ini bisa terjadi, salah satu jawabnya adalah bahwa kita khususnya generasi muda – telah lupa sejarah. Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu, kini telah ditinggalkan. Apa yang kita saksikan hari ini, semua berjalan seperti biasa, tanpa greget.
Bendera merah putih nampak berkibar setelah ada himbauan dari pamong setempat. Sementara banyak warga masyarakat yang enggan untuk memasangnya dengan berbagai alasan. Fenomena ini harus dilihat sebagai sebuah ancaman yang sangat serius dalam konteks perjalanan bangsa ke depan. Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan apabila generasi di era 10 tahun kedepan tidak dapat menerima secara utuh saat disodorkan cerita tentang sejarah proklamasi kemerdekaan, tentang kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan sejarah pergerakan nasional lainnya.
Inilah tantangan yang harus mendapat jawaban, khususnya oleh lembaga Pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jika memang perlu adanya surat perintah untuk sekedar memasang bendera merah putih, kenapa tidak dilakukan? Lurah tidak harus menunggu instruksi dari camat, dan camat tidak harus menunggu petunjuk dari bupati atau walikota. Jika ini yang terjadi, maka kiamat lah negeri ini. Jika ada yang bertanya, seberapa pentingkah memasang bendera merah putih?
Jawabnya penting, bahkan sangat penting karena didalamnya terkandung sebuah proses yang luar biasa, proses yang dinamakan pembelajaran dan penanaman pemahaman akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan.
Memasang bendera merah putih di bulan Agustus adalah salah satu cara untuk menunjukkan rasa cinta tanah air dan kebangsaan. Dalam konteks Indonesia, bendera merah putih adalah simbol kebangsaan yang memiliki makna penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa. Menghormati sang saka bendera merah putih tidak berarti menduakan Tuhan, bukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Tanah Air. Penting untuk memahami bahwa cinta Tanah Air dan keimananan kepada Tuhan bukan sesuatu yang bertentangan.
Banyak orang yang memiliki pemahaman agama yang kuat, namun juga memiliki rasa cinta Tanah Air yang tinggi. Oleh karena itu, memasang bendera merah putih dapat dimaknai sebagai bentuk ekspresi kebangsaan tanpa harus mengorbankan agama. Kaum muda harus memahami bahwa kemerdekaan Indonesia dapat diraih melalui perjuangan sangat panjang dan penuh pengorbanan.
Proklamasi kemerdekaan tidak akan pernah lahir tanpa didahului dengan lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrar bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, Indonesia. Ikrar tersebut tidak mungkin terwujud apabila masing-masing tokoh pemuda Indonesia waktu itu membawa kepentingan kedaerahan dan kelompoknya. Sederet nama pejuang telah terukir dalam sejarah, salah satunya adalah gerakan Budi Utomo yang dimotori oleh sekelompok pemuda di tanah Jawa.
Kehadiran pergerakan Budi Utomo ini secara spontan mendapat sambutan dari para pemuda di luar Jawa, karena dinilai mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang ada, terutama dari sisi agama. Pergerakan Budi Utomo inilah sebagai kunci awal pergerakan pemuda dan sebagai embrio lahirnya Sumpah Pemuda 1928. Dengan dilandasi semangat inilah kekuatan untuk merebut kemerdekaan semakin menggelora hingga mencapai klimak pada 17 Agustus 1945. Sudah seharusnya semangat Sumpah Pemuda ini terus menerus digelorakan dalam rangka memberikan pemahaman bagi bangsa ini, khususnya kaum muda agar dapat menauladani semangat juang dan patriotisme para pendahulunya. Dengan memahami sejarah masa lalu, diharapkan ke depan tidak akan terdengar lagi tuntutan sekelompok masyarakat atau golongan yang ingin untuk memisahkan diri dari negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) atau tetap dalam pangkuan NKRI namun menuntut untuk diperlakukan secara khusus. Tidak akan muncul konflik atau perang antar suku, antar kampung, antar sekolah dan lainnya karena semua telah paham bahwa Indonesia adalah satu, bahwa kita bersaudara. Di masa Orde Baru ada program bagi generasi muda, seperti pendidikan dan latihan (diklat) kepemimpinan, diklat Bela Negara dan penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).,..
Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan, kesadaran dalam membela negara dan meningkatkan pemahaman serta pengamalan Pancasila sebagai ideologi negara. Di masa Orde Baru, organisasi pemuda selalu dilibatkan dalam berbagai kegiatan peringatan hari kemerdekaan, seperti Malam Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan, kantor Pemerintah dan tempat-tempat peribadatan menjelang peringatan kemerdekaan. Dalam suasana hening di kegelapan malam, kaum muda diajak melakukan renungan, refleksi dan berdoa untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam imencapai kemerdekaan. Rasanya tidak salah jika kita mengadopsi berbagai program yang pernah dilakukan pemerintahan Orde Baru. Tidak semua peninggalan Orde baru haram untuk dilakukan, sepanjang bernilai positif bagi kebaikan dan keutuhan bangsa ini kedepan. Bila tidak, maka potret pemuda dari waktu ke waktu akan semakin buram dan tentu saja berdampak pada kualitas para calon pemimpin di masa datang. Benar bahwa pemuda merupakan ahli waris pemimpin di masa depan, tapi perlu di ingat bahwa para pemuda pun punya kewajiban untuk membuat warisan bagi generasi berikutnya. Jangan sampai pada saatnya nanti tidak mampu menjawab ketika disodori pertanyaan oleh generasi muda berikutnya, Apa yang akan anda wariskan kepada kami?. Karena pada kenyataannya hari ini tidak berbuat apa-apa, kecuali untuk diri sendiri. Seiring bertambahnya usia kemerdekaan, semangat nasionalisme dan cita Tanah Air terus kita kobarkan agar tidak tergilas oleh jaman.
Dirgahayu 80 Tahun Republik Indonesia !!!
*) Penulis adalah : Mantan aktivis Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

