MUTIARA PAGI : Allah Tidak Menghendaki Azab, Tetapi Syukur dan Iman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

﴿مَّا يَفۡعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمۡ إِن شَكَرۡتُمۡ وَءَامَنتُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا﴾

“Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisā’: 147)

Ayat ini membuka tabir tentang hakikat hubungan Allah dengan hamba-Nya. Allah tidak membutuhkan azab, karena azab bukan tujuan. Allah Mahakaya, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Dalam Tafsir As-Sa‘di dijelaskan bahwa azab hanya terjadi ketika seorang hamba meninggalkan iman dan syukur, bukan karena Allah senang menyiksa, tetapi karena keadilan-Nya.

Syukur bukan sekadar ucapan lisan, melainkan pengakuan hati atas nikmat Allah, pujian dengan lisan, dan penggunaan nikmat tersebut dalam ketaatan. Sedangkan iman adalah keyakinan yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya yang membuahkan amal saleh.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Nikmat Menjadi Biasa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah Subḥanahu wata’ala menegaskan dalam ayat lain:

﴿وَلَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ﴾

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Namun jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrāhīm: 7)

Ayat ini menegaskan bahwa syukur adalah sebab datangnya tambahan nikmat, sementara kufur nikmat membuka pintu azab.

Dalam lanjutan ayat disebutkan:

﴿وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمٗا﴾

Dan Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui.”

Menurut Tafsir As-Sa‘di, Allah Maha Mensyukuri, artinya Allah membalas kebaikan hamba dengan pahala yang berlipat, meski amal itu kecil. Allah juga Maha Mengetahui, mengetahui niat, keikhlasan, dan amal yang tersembunyi sekalipun.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kata Baik yang Menghidupkan Jiwa. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Sesungguhnya Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang ketika ia makan suatu makanan lalu memuji Allah atasnya, atau minum suatu minuman lalu memuji Allah atasnya.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa Allah menghargai syukur sekecil apa pun. Ucapan alhamdulillah yang tulus bisa menjadi sebab turunnya ridha Allah.

Patut dicamkan bahwa azab bukanlah tujuan, namun rahmatlah yang diinginkan

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

«إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي»

“Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini selaras dengan makna QS. An-Nisā’: 147, bahwa rahmat Allah lebih luas daripada murka-Nya, dan pintu keselamatan selalu terbuka melalui iman dan syukur.

Sebagai renungan, ayat ini mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang rumit. Allah tidak menuntut kesempurnaan, tetapi menghendaki hati yang beriman dan lisan serta perbuatan yang bersyukur.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Fajar Setelah Duka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Selama iman terjaga dan syukur terus dihidupkan, tidak ada alasan bagi Allah untuk mengazab seorang hamba.

Maka marilah kita bertanya pada diri sendiri: Sudahkah iman itu hidup dalam hati kita? Dan sudahkah nikmat Allah kita syukuri dengan ketaatan?. Sebab di sanalah letak keselamatan dunia dan akhirat.
(KIS/146).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini