nataragung.id – Pemanggilan – Salah satu bahaya terbesar yang mengancam nikmat bukanlah hilangnya nikmat itu sendiri, melainkan terbiasanya hati terhadapnya.
Ketika nikmat terasa biasa, hati perlahan lalai. Dan ketika lalai, syukur pun memudar.
Jika syukur telah mati, maka keberkahan pun pergi tanpa pamit. Kita makan setiap hari, namun lupa mengucap alhamdulillah dengan hati yang hidup.
Kita bangun pagi dalam keadaan aman, tetapi merasa itu hal yang wajar.
Kita menghirup udara sehat, melangkah dengan tubuh kuat, namun jarang bertanya: bagaimana jika semua ini dicabut?
Sering kali, nikmat baru terasa berharga setelah ia pergi. Sehat baru disadari saat sakit datang. Waktu luang baru dirindukan ketika kesibukan menjerat.
Rasa aman baru dikenang ketika ketakutan menyapa. Allah telah mengingatkan kita dengan kalimat yang sangat dalam maknanya:
﴿وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang benar-benar bersyukur.”
Ayat ini bukan sekadar kabar, tapi cermin. Sudahkah kita termasuk yang sedikit itu?
Ataukah kita tenggelam dalam banyaknya nikmat, namun miskin rasa syukur?
Mari hidupkan kembali syukur sebelum nikmat itu diangkat.
Karena syukur bukan hanya ucapan di lisan, ia adalah kesadaran di hati, dan ketaatan dalam perbuatan.
Sebab nikmat yang disyukuri akan dijaga Allah, namun nikmat yang diabaikan… perlahan akan pergi. (KIS/153)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

