nataragung.id – Tanggamus – Perjalanan menuju Pondok Pesantren Al Falah di Pulau Panggung, Tanggamus, Sabtu 10 Januari 2026, bukan sekadar perpindahan spasial. Di sepanjang jalan yang berkelok menembus rimbunnya hulu Tanggamus, cuaca bermain dengan ritme yang unik antara gerimis dan terang yang bergantian seolah memberikan selingan alam bagi kami yang sedang merawat tradisi silaturahmi.
Saya berangkat dari Sidomulyo, mendampingi Kiai Ishomudin (Rais Syuriyah PCNU Lampung Selatan) dan H. Nur Mahfudz (Katib Syuriyah). Di lokasi acara, suasana kekeluargaan semakin kental saat saya bertemu kembali dengan wajah-wajah lama yang dedikasinya tak perlu diragukan.
Ada H. Hasan Munawir (Katib Syuriyah PCNU Lampung Timur) yang spirit khidmahnya selalu segar, Gus Karim yang menempuh jarak jauh dari Mesuji, hingga H. Taufiq (Katib Syuriyah PCNU Pringsewu) yang keakrabannya dengan saya sudah terjalin sejak lama melampaui urusan formal organisasi.
Menariknya, forum ini bukanlah pertemuan yang dibatasi oleh kaku-nya teks administratif formal. Ia adalah sebuah ruang kreatif organik mungkin yang pertama di Indonesia di mana jajaran pengasuh umat ini bersepakat untuk duduk melingkar di lantai, melampaui sekat-sekat protokoler. Ada filosofi mendalam di balik duduk melingkar ini. Berbeda dengan deretan kursi yang seringkali menciptakan sekat hierarki, duduk melingkar menghapuskan jarak antara sisi kanan dan kiri.
Dalam lingkaran itu, Kiai Ishomudin, H. Nur Mahfudz, Gus Karim, Kiai Hasan Munawir, H. Taufiq, dan para Rais Syuriyah lainnya berada dalam posisi yang setara sebagai sesama pengemban amanah.
Tidak ada yang merasa lebih tinggi; semua mata saling memandang, semua telinga saling mendengar. Di sinilah ruh kolektif-kolegial NU benar-benar terasa nyata secara alamiah. Di bawah “instrumen musik gratis” dari alam suara tonggeret dan serangga dataran tinggi yang bersahut-sahutan gagasan-gagasan besar bagi umat dirumuskan dengan penuh ketenangan Sepanjang jalur Pulau Panggung, saya sempat melihat sekilas jejak-jejak batu besar peninggalan prasejarah.
Kehadiran situs purba di wilayah ini seolah menjadi pengingat bisu bahwa kita sedang berpijak di atas tanah peradaban yang sangat tua. Hal ini secara simbolis sejalan dengan apa yang sedang dikawal oleh para kiai: menjaga “batu penjuru” tradisi agar tidak bergeser dari relnya, meskipun forum ini bersifat inisiatif mandiri.
Pesan Gus Kholiq tentang pentingnya memahami AD/ART dan kepedulian tinggi menjadi pengingat bahwa ijtihad kultural tetap membutuhkan kompas yang jelas.
Mengurusi NU jangan seperti kerupuk yang mudah melempem saat diterpa angin. Ia harus sekuat batu purba di Pulau Panggung dan sepahit kopi murni yang tetap konsisten memberikan energi.
Perjalanan pulang membawa kami mampir sejenak di Bendungan Batutegi. Menatap hamparan air yang tenang di bendungan terbesar di Lampung tersebut memberikan ruang refleksi yang luas.
Jika bendungan itu berfungsi mengairi ribuan hektar lahan, maka forum silaturahmi mandiri Syuriyah di Tanggamus ini diharapkan menjadi “hulu spiritual” yang mampu mengalirkan kesejukan hingga ke akar rumput di seluruh Lampung.
Rekomendasi mengenai aspirasi Muktamar hingga percepatan Rumah Sakit NU (RSNU) adalah bukti bahwa ketika para kiai berkumpul secara tulus di luar formalitas administratif, yang lahir adalah kemaslahatan nyata.
Kami pulang ke Lampung Selatan dengan satu keyakinan: Marwah organisasi akan tetap terjaga selama para ulama masih mau duduk melingkar, mendengarkan suara tonggeret, dan berbicara dari hati ke hati tanpa sekat jarak.
“Di bawah langit Tanggamus, kita menyadari bahwa menjaga marwah jam’iyyah bukanlah sekadar urusan ketangkasan teks, melainkan sebuah kejernihan batin dalam memandang umat; ia adalah ziarah melampaui kepentingan diri di tengah sunyinya pegunungan, tempat di mana khidmah menemukan kembali khitahnya.”
Tabik….
*) Penulis adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan.

