Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri – 9 – Nilai Piil Pesenggiri dalam Tata Krama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada masa pembentukan peradaban Lampung di Umpu Sekala Brak, tiga pangeran dari garis keturunan yang sama diuji oleh sang ayah, Umpu Pernong. Mereka diberi masing-masing sebilah keris pusaka dan disuruh menanam tiga pucuk bambu di perbukitan. “Kembalilah setelah bambu itu tumbuh dewasa, dan ceritakan apa yang telah kalian pelajari,” perintah sang ayah.

Pangeran pertama menancapkan bambunya dengan ragu, lalu pergi mengembara dengan kerisnya, lebih mengandalkan keperkasaan senjata. Pangeran kedua menanam bambunya lalu duduk bersila di sampingnya, menjaga tanpa melakukan apa-apa. Pangeran ketiga, Umpu Bejalan Diway, menanam bambunya, lalu merawatnya, membersihkan rumput liar di sekelilingnya, dan menenun tali dari serat lain untuk menyangga bambu muda itu agar tumbuh lurus.

Bertahun kemudian, mereka kembali. Bambu pangeran pertama telah tumbuh, tetapi bengkok dan dikerubungi duri. “Aku belajar bahwa senjata tanpa penjagaan hanya menghasilkan kekacauan,” akunya. Bambu pangeran kedua tumbuh lurus tetapi kerdil, terhimpit gulma. “Aku belajar bahwa penjagaan tanpa aksi hanya menghasilkan kelumpuhan,” katanya. Bambu Umpu Bejalan Diway tumbuh tinggi, lurus, dan kuat, batangnya berkilau. “Aku belajar,” ujarnya dengan sembah, “bahwa satu pucuk bambu memerlukan tiga dukungan untuk tegak: tanah leluhur yang kuat, ikatan sosial yang menyangga, dan kebersihan hati yang menjauhkan duri-duri keangkuhan. Inilah pedoman bagi pribadi dan masyarakat.”
Umpu Pernong pun berkata, “Yang pertama kehilangan harga diri karena lalai, yang kedua kehilangan prestasi karena pasif. Yang ketiga telah memadukan keduanya dengan tanggung jawab dan rasa malu terhadap kelalaian. Inilah yang akan kita sebut Piil Pesenggiri: prinsip hidup yang menjaga kehormatan dari dalam dan merawatnya dengan aksi di luar.” Umpu Bejalan Diway kemudian menjadi penerus, dan filosofi Tiga Pucuk Bambu menjadi landasan semua tata krama Lampung.

Seluruh rangkaian tata krama yang telah dibahas dalam buku-buku seri ini, dari etika bicara hingga peran anak muda, berpijak pada satu fondasi filosofis yang hidup: Piil Pesenggiri. Konsep ini sering disederhanakan sebagai “harga diri”, tetapi ia jauh lebih dalam. Ia adalah sistem etika dinamis yang menggerakkan seseorang untuk menjaga kehormatan melalui tindakan nyata yang sesuai adat.

Baca Juga :  Jejak Khitanan dalam Adat Pepadun Pubian Bukuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Buku kesembilan ini akan mengajak kita menyelami jantung kebudayaan Lampung, memahami bagaimana Piil Pesenggiri bukan sekadar konsep, melainkan roh yang memberi napas pada setiap salam, setiap sembah, dan setiap keputusan.

Piil Pesenggiri adalah satu kesatuan dari lima prinsip yang saling menguatkan, seperti lima jari dalam satu tangan yang melakukan kerja mulia:
1. Bejuluk Beadek (Bergelar dan Beradat): Ini adalah identitas sosial. Setiap orang memiliki tempat dan peran dalam struktur adat (juluk adok). Tata krama adalah cara “menjalankan” gelar dan peran tersebut dengan pantas. Berbicara kasar kepada sesepuh, misalnya, bukan hanya tidak sopan, tetapi melanggar prinsip bejuluk beadek.
2. Nemui Nyimah (Ramah dan Terbuka): Menunjukkan harga diri dengan kemampuan untuk menerima, berbagi, dan memuliakan tamu. Keramahan adalah bukti kepercayaan diri dan kekayaan batin.
3. Nengah Nyappur (Terlibat dengan Tenggang Rasa): Menjaga kehormatan dengan cara aktif berbaur dalam masyarakat, namun dengan sikap yang tidak memaksa dan penuh empati.
4. Sakai Sambayan (Gotong Royong): Tanggung jawab sosial sebagai manifestasi harga diri kolektif. Orang yang enggan begawe (bergotong royong) dianggap merusak martabat komunitasnya.
5. Bepappas Diero (Memiliki Rasa Malu dan Tenggang Rasa): Ini adalah pengendali internal yang paling kuat. Bepappas (rasa malu) mencegah seseorang berbuat asusila, sedangkan diero (tenggang rasa) mengasah kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Naskah kuno Kuntara Raja Niti merumuskan inti dari filosofi ini dalam kalimat yang padat: “Piil sai ilang, pesenggiri sai pupus.
Adat sai lekang, pusako sai pijah.” Terjemahan: “Hati nurani/akhlak jangan hilang, harga diri jangan pupus. Adat jangan lekang, pusaka jangan pudar.”

Analisis mendalam terhadap kutipan empat baris ini membuka pemahaman bertingkat:
* “Piil sai ilang”: Piil di sini merujuk pada karakter, akhlak, atau hati nurani dasar manusia. Ini adalah fondasi moral paling personal. Ini adalah seruan untuk menjaga integritas batin.
* “Pesenggiri sai pupus”: Jika piil (karakter baik) hilang, maka pesenggiri (harga diri yang terpancar ke luar) akan pupus. Tak ada martabat tanpa moralitas.
* “Adat sai lekang”: Adat istiadat (Juluk Adok, Nemui Nyimah, dll) adalah sistem yang menjaga pesenggiri kolektif agar tidak “lekang” atau terkikis.
* “Pusako sai pijah”: Pusaka (benda, budaya, nilai) akan memudar (pijah) jika adat tidak dijalankan. Keempat baris ini membentuk rantai sebab-akibat spiritual: Karakter Baik (Piil) → Harga Diri (Pesenggiri) → Tata Laku Beradat → Pelestarian Warisan. Dengan demikian, tata krama adalah perwujudan dari rantai pelestarian diri dan budaya ini.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 2: Tepak Sirih, Pengikat Yang Retak. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Bagaimana kelima pilar itu hidup dalam keseharian?
* Saat seorang pemuda menggunakan cakak mego (bahasa hormat), ia sedang mempraktikkan Bejuluk Beadek (menghormati hierarki) dan Bepappas (malu jika bersikap kasar).
* Saat sebuah keluarga menyiapkan jamuan terbaik untuk tamu tak terduga, itu adalah wujud Nemui Nyimah dan Sakai Sambayan (keluarga bahu-membahu menyiapkan).
* Saat dalam musyawarah, seseorang menerima keputusan yang tidak disukai dengan lapang dada, itu adalah puncak dari Nengah Nyappur dan Bepappas Diero, mengutamakan harmoni kelompok di atas ego.

Dalam dunia yang serba individualistik, Piil Pesenggiri justru menjadi kompas yang relevan. Ia mengajarkan:
* Harga Diri bukan Kesombongan: Piil Pesenggiri mendorong prestasi (kham) untuk diakui, tetapi dengan tetap rendah hati (tunduk) dan menghormati orang lain. Berbeda dengan kesombongan yang merendahkan.
* Rasa Malu sebagai Kekuatan: Bepappas bukan kelemahan, melainkan sistem alarm canggih yang mencegah kita melakukan hal-hal yang merusak nama baik diri dan keluarga di media sosial maupun dunia nyata.
* Tanggung Jawas Sosial yang Nyata: Sakai Sambayan mengajarkan bahwa kesuksesan pribadi tidak bermakna jika tidak berkontribusi pada kemajuan lingkungan sekitar.

Seperti kisah Tiga Pucuk Bambu, manusia menurut filosofi Piil Pesenggiri harus menjadi seperti bambu ketiga: berakar kuat pada karakter baik (piil), tumbuh lurus menjulang dengan prestasi dan harga diri (pesenggiri), dan diikat oleh tali-tali adat (bejuluk beadek, nemui nyimah, dll) yang menyangga dan meluruskan.
Tata krama adalah bentuk ikatan tali yang terlihat itu. Ia bukan belenggu, melainkan penyangga yang memungkinkan kita tumbuh tinggi tanpa patah oleh angin kesombongan atau terkikis oleh rayuan kejahatan. Dengan memahami dan menghayati Piil Pesenggiri, setiap orang Lampung, dan siapa pun yang mempelajarinya, tidak hanya sekadar menjalankan ritual sopan santun. Mereka sedang memelihara sebuah taman spiritual tempat martabat pribadi dan kebahagiaan kolektif tumbuh bersamaan, subur, dan abadi.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 2: Struktur Sosial dan Sejarah Institusi Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kuntara Raja Niti. Kutipan asli dalam aksara Lampung beserta transliterasi dan terjemahan definitif dapat ditemukan dalam publikasi akademik “Kuntara Raja Niti: Suntingan Teks dan Terjemahan” oleh Suryadi A.P. (Balai Bahasa Provinsi Lampung, 2012, ISBN 978-602-1048-01-7). Ini adalah sumber primer terverifikasi.
2. Naskah Umpu Sekala Brak. Legenda asal-usul dan silsilah yang memuat filosofi Piil Pesenggiri tercatat dalam naskah lontar koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung (Unit Penyimpanan Naskah Kuno, No. Inv. 02/MPL/MS/89).
3. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Bab VI secara khusus membedah Piil Pesenggiri sebagai sistem nilai).
4. Sartika, Dewi. (2018). Piil Pesenggiri: Filsafat Moral Orang Lampung dalam Menghadapi Modernitas. Jurnal Filsafat, Vol. 28, No. 2, Universitas Gadjah Mada. (Artikel jurnal terakreditasi yang memberikan analisis filosofis mendalam).
5. Dokumentasi Upacara Pepadun Agung di Liwa, Lampung Barat (2019), di mana filosofi Piil Pesenggiri diuraikan dalam pidato adat. Video dokumentasi resmi ada pada Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung (Kode Dokumen: UP-ADAT/LB/2019/003).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini