Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri – 6. Ngejalang di Era Modern, Adaptasi dan Tantangan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu di tepian Krui, hiduplah seorang pemimpin bijaksana bernama Minak Kemala. Ia dikenal sebagai pangkal marga yang menghormati leluhur dan menyayangi keturunannya. Saat menjelang ajal, ia berpesan, “Janganlah kalian putuskan tali silaturahmi dengan yang telah pergi. Doa yang kalian kirimkan adalah jembatan kasih antara dunia fana dan kekekalan.”

Sepeninggal Minak Kemala, anak cucunya melaksanakan pesannya. Mereka berkumpul di makamnya setiap usai Hari Raya, membawa makanan terbaik dalam Pahar berkilau, duduk bersila di atas tikar yang digelar di atas pusara. Mereka membaca doa, bertukar cerita, dan saling memaafkan. Sejak itulah, tradisi Ngejalang mengakar, menjadi ritual penuh makna yang diwariskan turun-temurun, dari generasi ke generasi.
Ngejalang bukan sekadar tradisi ziarah kubur biasa. Ia adalah sebuah jejak ingatan kolektif, cara suatu masyarakat mengingat, menghormati, dan merawat hubungan dengan para pendahulu mereka.

Dalam filosofi hidup orang Lampung Sai Batin, yang dikenal sebagai Piil Pesenggiri, menghormati leluhur adalah bagian dari menjunjung tinggi harga diri dan identitas.
Tradisi ini terbagi menjadi dua: Ngejalang Pangan (ziarah dan doa bersama di masjid) dan Ngejalang Kubokh (ziarah dan doa bersama di areal pemakaman). Sayangnya, dalam arus modernisasi, Ngejalang Pangan telah lama punah terkikis zaman. Yang bertahan dan masih dilaksanakan dengan khidmat adalah Ngejalang Kubokh.
Prosesinya sarat dengan simbol dan makna. Keluarga ahli waris akan bermusyawarah (himpun) untuk menentukan hari baik di bulan Syawal.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ngaji di Lamban, Pendidikan Adat dan Agama Menyatu Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sehari sebelum acara, kaum laki-laki menyiapkan Kelasa, sebuah bangunan sederhana beratap daun kelapa sebagai tempat berlindung, dan membersihkan area makam. Ini merefleksikan nilai Sakai Sambaian, yaitu semangat gotong royong dan kerja sama.
Pada hari-H, setiap keluarga datang membawa Pahar, nampan besar dari kuningan atau aluminium, yang diisi dengan sajian terbaik: kue tat, bolu, guring ginan, nasi, dan lauk pauk. Pahar ini kemudian ditata rapi di atas kasur yang dialasi tikar. Makanan ini bukan untuk ahli waris, melainkan untuk para tamu undangan, sebagai bentuk sedekah dan rasa syukur. Seorang tetua adat menjelaskan, “Inilah wujud Nemui Nyimah. Kami menyambut tamu dengan santun dan kemurahan hati, berbagi rezeki yang telah Tuhan berikan.”
Acara kemudian dipimpin oleh tokoh adat, dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, khususnya Surah Yasin, dilanjutkan dengan doa bersama untuk arwah leluhur. Yang unik adalah selingan Talibun, pantun berirama yang berisi nasihat agama dan kehidupan, dinyanyikan secara bersahut-sahutan. Ritual diakhiri dengan makan bersama, duduk lesehan di antara nisan-nisan, menyatukan yang hidup dan yang telah tiada dalam ikatan doa dan rasa syukur.

Di Pekon Gunung Kemala dan wilayah Krui lainnya, Ngejalang Kubokh masih bertahan. Namun, gaungnya tak lagi sekuat dulu. Tradisi Ngejalang Pangan telah benar-benar hilang, menjadi memori kolektif yang hanya dikenang oleh para tetua.
Tantangan terbesar datang dari gaya hidup modern. Masyarakat mulai menganggap ritual ini “ribet” dan memakan waktu. Kesibukan individu, biaya yang tidak sedikit untuk menyiapkan Pahar, dan hilangnya kemufakatan untuk bergotong royong menjadi penyebab utama. Nilai-nilai praktis dan instan modern seringkali berseberangan dengan nilai kesabaran, kerjasama, dan kemufakatan yang menjadi jiwa dari Ngejalang.
Selain itu, migrasi generasi muda untuk mencari ilmu dan pekerjaan ke kota-kota besar membuat regenerasi pelaku tradisi ini terhambat. Banyak anak muda yang hanya pulang saat lebaran, tanpa sempat terlibat dalam prosesi panjang persiapan Ngejalang. Mereka mungkin hadir, tetapi pemahaman mendalam tentang filosofi di balik setiap ritual mulai memudar.
Meski diterpa tantangan, nyala tradisi ini belum padam. Masyarakat adat Lampung Sai Batin melakukan berbagai adaptasi untuk mempertahankannya.
Undangan yang dahulu sangat terbatas pada satu marga, kini mulai meluas. Tokoh masyarakat seperti Bupati atau Camat sering diundang untuk menghadiri, memberikan nuansa baru sekaligus memperkuat legitimasi tradisi ini di mata publik. Ini adalah bentuk adaptasi Nengah Nyappur, terbuka dan pandai bergaul dengan lingkungan yang lebih luas.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 6: Syair-Syair di Bawah Purnama. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Komunikasi juga dimudahkan teknologi. Musyawarah menentukan hari H tidak harus selalu bertatap muka; grup percakapan daring bisa digunakan untuk koordinasi awal. Meski demikian, inti dari musyawarah mufakat tetap dilaksanakan secara tatap muka untuk menjaga keotentikannya.
Yang paling penting adalah upaya para tetua adat dan kepala keluarga untuk terus “mengajak dan mengajari”. Mereka menyadari bahwa pelestarian bukan hanya tentang melaksanakan ritual, tetapi tentang mentransfer nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi penerus. Seperti pesan yang tersirat dalam setiap Talibun, tradisi ini adalah pengingat akan jati diri: bahwa mereka adalah Ulun Lampung yang memiliki falsafah hidup luhur.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 6. “Seruit dan Kebersamaan: Hidangan yang Menyatukan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ngejalang adalah lebih dari sekadar ziarah. Ia adalah ruang di mana waktu seolah berhenti; di mana anak cucu Minak Kemala duduk berdampingan dengan arwah nenek moyang, merajut kembali ingatan yang hampir terputus, dan memperkuat tali silaturahmi yang menjadi pondasi masyarakat mereka.
Di era modern, tradisi ini bagai perahu yang mengarungi dua lautan: lautan tradisi yang dalam dan tenang, serta lautan modernitas yang dinamis dan tak jarang bergelora. Tantangannya nyata, tetapi semangat untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri menunjukkan ketangguhan kearifan lokal Lampung. Ngejalang tetap menjadi mercusuar yang mengingatkan semua orang pada satu hal: untuk tidak pernah melupakan dari mana mereka berasal.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Monografi Pekon Gunung Kemala, Tahun 2017 (Dokumen Fisik Desa).
2. Soekanto, Soerjono. (2012). Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers (Buku Fisik).
3. Ariyani, dkk. (2014). Representasi Falsafah Hidup Masyarakat Lampung… (Jurnal Ilmiah Digital).
4. Harian Lampung.Com, Lampos.co, Mahameru FM (Artikel Berita Online Terarsip).
5. Wawancara Mendalam dengan Tokoh Adat Pekon Gunung Kemala (Data Primer Kualitatif).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini