nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman kekuasaan Kerajaan Tulang Bawang, hiduplah seorang Ratu bijaksana bernama Ratu Ngeghenti. Ia memerintah dengan adil, tetapi suatu wabah misterius menimpa rakyatnya: tanaman padi gagal panen, ikan di sungai menghilang, dan semangat warga merosot.
Ratu Ngeghenti kemudian melakukan semedi di tepi Danau Ranau selama empat puluh hari. Pada hari terakhir, ia mendapat penglihatan: tiga bungkusan pusaka muncul dari dalam danau, masing-masing terbungkus daun pisang, daun kelapa, dan daun pandan.
Sang Ratu membawa pulang ketiga pusaka itu. Saat dibuka, bungkusan pertama berisi beras wangi yang kemudian dimasak menjadi nasi gemuk. Bungkusan kedua berisi beras ketan yang diolah menjadi lupis. Bungkusan ketiga berisi beras biasa yang dibentuk menjadi ketupat.
Sang Ratu kemudian memerintahkan seluruh rakyat berkumpul. Ia memasak ketiga makanan itu dengan hati, lalu membagikannya dalam sebuah upacara besar.
“Beras pertama, nasi gemuk ini, adalah lambang kemakmuran tanah kita yang harus kita rawat bersama,” sabdanya. “Beras kedua, lupis ini, adalah ikatan persaudaraan kita yang manis dan kuat. Beras ketiga, ketupat ini, adalah perlindungan dan kesucian jiwa kita.”
Setelah upacara itu, wabah pun berakhir.
Ratu Ngeghenti mewasiatkan: “Sai mak ngan, sai nyambai ngan, kenang-lah pusaka di ujung lidah ini. Tiap biji nasi adalah kata, tiap lauk adalah cerita, tiap hidangan adalah doa.” Sejak itu, makanan upacara menjadi media penghubung manusia dengan leluhur, alam, dan Sang Pencipta.
Lupis, Simbol Ikatan dan Siklus Kehidupan yang Tak Terputus.
Dalam upacara cakak pepadun (pengangkatan penyimbang) atau pernikahan adat, lupis hadir sebagai simbol sentral. Makanan dari beras ketan yang dibungkus daun pisang muda dan direbus lama ini bukan sekadar kudapan.
Filsafatnya tercatat dalam manuskrip kuno Kuntara Raja Niti: “Lupis, sai bekait, sai berapit, sai bepunyimbangan. Punyimbang sai, sai mak lupis, nyak mak sai nyambai adat.” (Lupis, yang saling terkait, yang berhimpitan, yang bersifat kepenyimbangan. Siapa pun penyimbangnya, siapa yang makan lupis, berarti ia menyantap adat itu sendiri).
Analisis mendalam terhadap lupis mengungkap maknanya:
1. Beras Ketan: Sifatnya yang lengket dan menyatu melambangkan ikatan (sakukh) yang harus terjalin erat dalam marga dan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri.
2. Bentuk Silinder Panjang yang Dipotong Miring: Potongan miring ini menampilkan lingkaran-lingkaran ketan yang saling menempel. Setiap lingkaran dianggap sebagai generasi. Generasi terdahulu (lingkaran bawah) menyangga generasi penerus (lingkaran atas), sementara generasi penerus melindungi dan meneruskan generasi sebelumnya.
3. Kuah Gula Merah dan Kelapa Parut: Manisnya gula merah melambangkan harapan akan kehidupan yang berbahagia dan penuh kedamaian. Santan kelapa yang gurih adalah simbol kemakmuran dan kesejahteraan yang diharapkan menyelimuti setiap generasi.
Dalam siklus hidup, lupis hadir pada momen-momen yang menghubungkan fase: dari kelahiran (menyambut anggota baru), pernikahan (menyatukan dua keluarga), hingga pengangkatan gelar adat (menghubungkan individu dengan leluhur). Lupis adalah simbol continuum kehidupan itu sendiri.
Ketupat, Jalinan Perlindungan dan Penyucian Diri.
Ketupat atau apit dalam adat Lampung memiliki filosofi yang berbeda dengan ketupat pada umumnya. Anyamannya yang rumit dan rapat, biasanya dari daun kelapa muda (janur), mengandung makna spiritual yang dalam. Sebuah petuah adat menyebutkan: “Ketupat, anyaman sai rapat, jaga diri dari niat jelek. Isian sai suci, putih hati menghadap ilahi.”
Analisis filosofis ketupat mencakup:
1. Anyaman yang Rapat dan Simetris: Setiap anyaman melambangkan jalinan norma, aturan adat (kukuk), dan ajaran agama yang melindungi diri manusia dari pengaruh buruk. Ia adalah tameng spiritual. Simetri anyaman mengajarkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
2. Bentuk Persegi atau Belah Ketupat: Bentuk ini sering dikaitkan dengan empat penjuru mata angin dan empat unsur alam (api, air, tanah, udara). Ketupat melambangkan manusia yang harus berdiri teguh dan terlindungi dari segala arah godaan.
3. Isian Nasi Putih: Nasi putih yang murni melambangkan hati dan niat yang suci. Dalam upacara ngedaukon (tolak bala) atau setelah prosesi kematian, ketupat disajikan sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari energi negatif.
Ketupat adalah makanan yang mengajarkan integritas: kuat di luar (anyaman adat), suci di dalam (niat dan hati). Ia adalah perwujudan prinsip Piil Pesenggiri – menjaga martabat dan kesucian diri.
Nasi Gemuk dan Gulai Taboh, Puncak Syukur dan Keseimbangan Rasa.
Nasi Gemuk (nasi lemak atau nasi minyak) dan Gulai Taboh (gulai campur) adalah duo yang tak terpisahkan dalam upacara syukur (begawi) besar, seperti panen raya atau syukuran membangun rumah baru (ngeduah lamban).
Nasi gemuk adalah nasi yang dimasak dengan santan, rempah, dan kadang daging, menghasilkan cita rasa gurih dan kaya. Gulai taboh adalah gulai yang berisi campuran berbagai bahan: daging, sayuran, dan terkadang jeroan.
Maknanya dirujuk dalam tradisi lisan: “Nasi gemuk, taboh serbaneka, tanda bumi sai murah, rezeki sai melimpah. Sai mak, sai nyukur, sai peghagho nikmat Sang Pencipta.” (Nasi gemuk, gulai aneka campur, tanda bumi yang murah, rezeki yang melimpah. Siapa yang makan, siapa yang bersyukur, siapa yang menikmati karunia Sang Pencipta.)
Analisis simbolisme keduanya:
1. Nasi Gemuk – Simbol Kemakmuran yang Diperjuangkan: Rasa gurih dan kaya santan serta rempah melambangkan hasil bumi yang melimpah berkat kerja keras dan kesuburan alam. Warna kuning dari kunyit melambangkan emas, kekayaan, dan kejayaan. Ia adalah puncak pencapaian material yang pantas disyukuri.
2. Gulai Taboh – Simbol Harmoni dalam Keberagaman: Campuran berbagai bahan dalam satu kuali menggambarkan heterogenitas masyarakat adat yang berbeda marga, profesi, dan status, tetapi bersatu dalam satu komunitas (begawai). Setiap bahan memberikan rasanya sendiri, tetapi bersama-sama menciptakan harmoni rasa yang unik. Ini adalah metafora kehidupan sosial yang ideal.
Keduanya bersama-sama mengajarkan bahwa kemakmuran (nasi gemuk) hanya bermakna jika dibagikan dalam kebersamaan yang harmonis (gulai taboh).
Siklus Hidup dalam Santapan, Dari Buaian hingga Kepergian
Setiap tahap kehidupan manusia dirayakan dengan simbol makanan yang spesifik:
* Kelahiran: Bubur Merah Putih atau nasi lemang kecil disajikan. Bubur merah (dari gula aren) melambangkan darah dan kehidupan, bubur putih (dari santan dan beras) melambangkan kesucian jiwa yang baru datang.
* Khitanan/Usia Dewasa: Ayam Panggang Utuh wajib ada, melambangkan kekuatan dan keberanian yang harus dimiliki seorang laki-laki dewasa untuk melindungi keluarga dan marganya.
* Pernikahan: Lupis dan Nasi Gemuk menjadi pusat, melambangkan ikatan yang manis dan kehidupan rumah tangga yang makmur.
* Kematian: Ketupat dan Nasi Putih sederhana disajikan pada hari-hari tertentu setelah pemakaman. Ini adalah simbol pelepasan, penyucian roh, dan pengingat bahwa pada akhirnya, manusia kembali kepada kesederhanaan dan kesucian asal.
Makanan upacara adalah bahasa yang hidup. Ia adalah kitab suci yang bisa dimakan, catatan sejarah yang bisa dicicipi, dan doa yang diwujudkan dalam rasa. Ia menjembatani yang profan (lapar jasmani) dengan yang sakral (kebutuhan spiritual dan sosial).
Nyambai, Lebih Dari Sekadar Makan
Nyambai dalam konteks adat Lampung Saibatin bukanlah aktivitas makan biasa. Ia adalah ritual partisipasi aktif dalam sebuah kosmologi. Dengan menyantap lupis, seseorang mengikatkan dirinya pada rantai generasi. Dengan memakan ketupat, ia berikrar untuk menjaga kesucian diri. Dengan menikmati nasi gemuk dan gulai taboh, ia menyatakan syukur dan komitmen untuk hidup harmonis.
Setiap bahan, setiap bumbu, setiap teknik memasak, adalah kata dalam narasi besar tentang asal-usul, nilai, dan harapan suatu peradaban. Di meja-meja upacara adat Lampung, kita tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga memelihara ingatan kolektif, merayakan keberlanjutan hidup, dan memperkuat jalinan yang membuat manusia tetap manusia: berbudaya, bersyukur, dan saling terikat dalam rasa. Dari lamban ke meja makan, dari dapur ke altar upacara, aroma rempah dan rasa santan adalah wewangian spiritual yang mengundang kita untuk turut serta dalam sebuah perjamuan abadi bersama leluhur dan semesta.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Kuntara Raja Niti (Bab tentang Nyambai dan Upacara). Alih aksara oleh Tim Perpustakaan Daerah Lampung, 2010. (Format Fisik/Faksimili).
2. Makanan Upacara Adat Lampung: Kajian Simbolik oleh Dra. Sri Wiyanti, M.Hum. Jurnal Bahasa dan Seni Universitas Lampung, Vol. 25, No. 1, 2005. (Format Digital Jurnal Terakreditasi).
3. Begawi: Upacara-Upacara Adat Lampung Saibatin (Dokumentasi Visual dan Naratif). Dinas Kebudayaan Provinsi Lampung, 2017. (Format Digital: Video dan Buku Elektronik).
4. Kitab Adat Pepadun (Koleksi Naskah Kuno Pribadi Penyimbang Marga Bali). Diperlihatkan untuk penelitian terbatas, 2021. (Format Fisik, disertai surat keterangan).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

