nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, di tepian Way Rarem, hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Taman. Ia bukanlah anak kepala adat, juga bukan keturunan bangsawan yang kaya raya. Ayahnya hanyalah seorang petani kopi yang tekun, sementara ibunya penenun tapis yang penuh kesabaran. Suatu hari, datanglah utusan dari Kerajaan Sekala Brak yang mengabarkan sebuah sayembara: siapa yang berhasil membawa kembali “Khazanah Terpendam” dari dasar Telaga Lempering, akan diangkat menjadi penasihat raja.
Banyak para pangeran dan bangsawan gagah perkasa mencoba peruntungan. Mereka menyelam dengan peralatan lengkap, namun selalu kembali dengan tangan hampa. Ada yang mengatakan khazanah itu dijaga oleh buaya putih, yang lain bilang telaga itu tanpa dasar. Bujang Taman, yang hanya mendengar cerita dari orang tuanya, memberanikan diri untuk mencoba.
Saat ia tiba di tepi telaga, para bangsawan lain mengejeknya. “Apa yang bisa kau harapkan, anak petani? Khazanah bukan untuk orang sepertimu!” Bujang Taman tidak menjawab dengan kasar. Ia hanya tersenyum sopan dan berkata, “Saya hanya ingin membuktikan pada diri sendiri, Tuan-tuan. Bukan harta yang saya cari, tetapi kebenaran dari cerita orang tua saya.”
Tanpa peralatan mewah, Bujang Taman mengambil napas dalam-dalam dan menyelam. Ia tidak melawan arus, melainkan mengikutinya. Ia tidak mencari gemerlap emas, melainkan memperhatikan cahaya remang-remang dari sebuah celah batu.
Di sana, bukan emas atau permata yang ia temukan, melainkan sebuah Gong Balam tua bertuliskan aksara Lampung kuno. Tulisan itu berbunyi: “Saibatin diatei ghughik, bejuluk diatei panggakh, pi’il pesenggiri hamu pepenah.” (Kedaulatan ada pada kebenaran, gelar ada pada pemberian, namun Pi’il Pesenggiri-lah bekalmu yang utama). Bujang Taman membawa gong itu ke permukaan. Para bangsawan terkejut, bukan karena nilai fisik gongnya, tetapi karena tulisan yang terpampang. Raja pun memahami pesannya.
Khazanah sejati bukanlah materi, tetapi prinsip hidup yang telah dipegang teguh oleh Bujang Taman: ketulusan, kesopanan, dan keyakinan pada diri sendiri yang bersumber dari kebenaran. Bujang Taman diangkat menjadi penasihat bukan karena hartanya, tetapi karena martabatnya. Inilah esensi dari Pi’il Pesenggiri.
Hakikat Pi’il Pesenggiri:
Self-Worth yang Bersumber dari dalam
Pi’il Pesenggiri sering kali diterjemahkan secara sederhana sebagai “harga diri”. Namun, terjemahan ini tidak sepenuhnya mencerminkan kedalamannya.
Dalam analisis filosofis, Pi’il Pesenggiri lebih mendekati konsep self-worth atau nilai diri intrinsik, yang bersumber dari iman dan akhlak mulia, bukan dari faktor eksternal seperti kekayaan, gelar, atau keturunan.
Seorang yang memegang Pi’il Pesenggiri sejati, seperti Bujang Taman dalam cerita, tidak memerlukan pengakuan luar untuk merasa berharga. Keyakinannya akan nilai dirinya datang dari keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan dengan nilai-nilai kebajikan yang ia yakini.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti, salah satu rujukan tertulis adat Lampung, disebutkan: “Jama hagaipun, pi’il pesenggiri nengah, sanggup khaghang nindak khak ghegaoh.” (Barang siapa memiliki Pi’il Pesenggiri yang teguh, akan mampu melaksanakan segala kewajiban dengan baik).
Kutipan ini menganalisis bahwa Pi’il Pesenggiri berfungsi sebagai kompas moral internal. Ia bukanlah tameng untuk menyombongkan diri, melainkan fondasi untuk bertindak benar dan bertanggung jawab.
Nilai diri ini bersifat stabil; ia tidak mudah runtuh oleh pujian atau celaan dari luar, karena sumbernya adalah hubungan vertikal dengan Sang Pencipta dan hubungan horizontal dengan sesama yang dilandasi akhlak.
Pilar-Pilar Pi’il Pesenggiri: Kejujuran, Amanah, dan Santun Berucap.
Pi’il Pesenggiri bukanlah konsep yang mengambang. Ia diwujudkan dalam tiga pilar utama yang menjadi penopangnya dalam kehidupan sehari-hari.
1. Kejujuran (Lampung: Lukhah/Lapah Khakh). Kejujuran adalah fondasi pertama. Dalam masyarakat adat Lampung, seorang yang dianggap ber-Pi’il Pesenggiri mustahil dikenal sebagai pembohong. Kejujuran ini meliputi keselarasan antara apa yang dihati, diucapkan oleh lisan, dan diperbuat oleh anggota badan. Sebuah pepatah adat mengatakan, “Bekhukhu di lampung, bejuluk di lampung, mak lupa di khakh.” (Berhutang di Lampung, bergelar di Lampung, jangan lupa pada kebenaran). Ini menekankan bahwa segala atribut duniawi tidak ada artinya jika dibangun di atas kebohongan. Analisisnya, kejujuran membangun kepercayaan (trust), yang merupakan modal sosial tertinggi dalam komunitas adat.
2. Menepati Janji (Amanah). Pilar kedua adalah amanah, atau kesanggupan untuk menunaikan setiap janji dan tanggung jawab. Seorang penyimbang (pemimpin adat) yang ber-Pi’il Pesenggiri akan lebih memilih mundur dari jabatannya daripada mengingkari amanah yang diberikan rakyatnya. Konsep ini sangat kuat dalam ritual-ritual adat, seperti dalam upacara pemberian gelar (bejuluk). Saat seseorang menerima gelar, ia bersumpah di hadapan para penyimbang dan masyarakat untuk menjalankan kewajiban yang melekat pada gelar tersebut. Pengingkaran terhadap sumpah ini dianggap sebagai aib terbesar yang meruntuhkan Pi’il Pesenggiri secara keseluruhan.
3. Berkata Santun (Lampung: Bebasan/Khebah Khebas). Pilar ketiga adalah menjaga lisan. Bukan hanya berarti tidak berkata kotor atau kasar, tetapi juga memilih kata-kata yang tepat, berintonasi baik, dan tidak menyakiti perasaan orang lain, bahkan kepada lawan sekalipun. Dalam perbincangan adat (duduk pesiro), setiap ucapan ditimbang masak-masak. Berbicara asal-asalan atau tanpa filter dianggap mencerminkan ketiadaan Pi’il Pesenggiri. Konsep “malu” (kiyai/kepei) sangat berperan di sini; rasa mualah yang mencegah seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.
Bersendi Kitabullah:
Akar Spiritual Pi’il Pesenggiri.
Filosofi Pi’il Pesenggiri menemukan resonansi dan penguatannya yang sangat dalam dalam ajaran Islam, yang telah menyatu dengan adat istiadat Lampung. Konsep-konsep utamanya dapat dikaitkan secara analitis dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis.
1. `Izzah (Kemuliaan) dalam Islam
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fathir ayat 10:
“Man kaana yuriidul ‘izzata falillaahil ‘izzatu jamii’aa; ilaihi yas’adul kalimut taiyibu wal’amalus saalihu yarfa’uh; wallaziina yamkuruunas sayyiaati lahum ‘azaabun shadiid; wa makru ulaaa’ika huwa yabuur”
” Barangsiapa menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan mereka akan mendapat azab yang sangat keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.”
Analisis terhadap ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati (`izzah) hanya berasal dari Allah. Pi’il Pesenggiri yang bersumber dari iman memahami hal ini. Martabat diri tidak dicari dengan menindas orang lain, tetapi dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui “perkataan yang baik” (al-kalim ath-thayyib), yang mencerminkan pilar kesantunan berucap, dan “amal yang saleh” (al-‘amal ash-shalih), yang mencerminkan kejujuran dan menepati janji.
Dengan demikian, Pi’il Pesenggiri adalah upaya untuk meraih kemuliaan yang diridhai Allah, bukan kemuliaan semu di mata manusia.
2. Al-Haya’ (Rasa Malu) sebagai Bagian dari Iman
Rasulullah SAW bersabda: “Al-Haya’u khairun kulluhu” (Malu itu adalah kebaikan seluruhnya) dan “Al-Haya’u syu’batun min al-iman” (Malu adalah salah satu cabang dari iman).
Konsep kiyai atau kepei (malu) dalam adat Lampung adalah manifestasi nyata dari al-haya’. Rasa malu inilah yang menjadi penjaga internal bagi seseorang untuk tidak berbuat curang, berkata kotor, atau mengingkari janji. Ia adalah rem yang mencegah seseorang merusak Pi’il Pesenggiri-nya sendiri. Dalam analisis psiko-spiritual, rasa malu yang positif ini melindungi martabat individu dan keharmonisan sosial.
3. Menjaga Lisān (Lisan)
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qalam ayat 4:
“Wa innaka la’alaa khuluqin ‘aziim (Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.)”
Para mufasir sering menjelaskan bahwa akhlak agung Nabi Muhammad SAW salah satunya tercermin dalam tutur katanya yang lembut dan benar. Pi’il Pesenggiri sangat menekankan hal ini.
Menjaga lisan bukan hanya soal etiket, tetapi merupakan cerminan dari akhlak yang agung. Seseorang yang lisannya terkendali menunjukkan penguasaan diri dan kedewasaan spiritual, yang pada akhirnya memperkuat martabatnya.
Menjauhi Sombong dan Rendah Diri
Pemahaman yang keliru tentang Pi’il Pesenggiri dapat menjerumuskan seseorang pada dua ekstrem: kesombongan (takabbur) atau rendah diri (inferiority complex). Filosofi yang benar justru menjauhkan keduanya.
Sombong (Takabbur).
Kesombongan muncul ketika seseorang merasa martabatnya lebih tinggi karena faktor-faktor eksternal seperti keturunan, kekayaan, atau jabatan. Ia merendahkan orang lain yang dianggap tidak setara. Ini adalah penyimpangan dari Pi’il Pesenggiri sejati. Dalam Islam, sombong adalah sifat Allah yang tidak pantas dimiliki makhluk. Pi’il Pesenggiri yang bersumber dari iman justru akan melahirkan kerendahan hati (tawadhu’), karena ia menyadari bahwa kemuliaan datang dari Allah. Seorang bangsawan Lampung sejati justru akan semakin santun dan melayani, karena gelarnya adalah amanah untuk berbuat lebih bagi masyarakat, bukan untuk disombongkan.
Rendah Diri.
Sebaliknya, rendah diri muncul ketika seseorang lupa akan sumber martabatnya yang sejati, yaitu iman dan akhlak. Ia merasa tidak berharga karena miskin, tidak bergelar, atau berasal dari keluarga biasa.
Pi’il Pesenggiri mengajarkan bahwa selama seseorang beriman, jujur, menepati janji, dan santun, martabatnya adalah sama dan penuh.
Kisah Bujang Taman adalah alegori sempurna untuk hal ini. Ia tidak memiliki apa-apa secara duniawi, tetapi keyakinannya akan kebenaran dan kesopanannya justru mengantarkannya pada kedudukan terhormat.
Pi’il Pesenggiri yang sejati, oleh karena itu, berada di tengah-tengah. Ia adalah keseimbangan yang dinamis: percaya diri tanpa sombong, rendah hati tanpa rendah diri. Ia adalah martabat yang memancar dari dalam, menerangi jalan hidup pemiliknya dan menghangatkan hati orang-orang di sekitarnya.
Warisan yang Tidak Terukur.
Pi’il Pesenggiri bukanlah relik masa lalu yang hanya cocok untuk museum. Dalam gegap gempita dunia modern yang sering kali mengukur martabat dengan likes dan followers, dengan harta dan penampilan, Pi’il Pesenggiri menawarkan sebuah anchor, sebuah jangaran jiwa.
Ia mengingatkan kita bahwa harga diri sejati dibangun dengan konsistensi antara hati, kata, dan perbuatan yang bersendi pada iman. Ia adalah falsafah yang menjadikan seseorang tidak mudah dibeli, tidak mudah diombang-ambingkan oleh pujian atau hinaan, dan selalu memiliki batasan moral yang jelas.
Dengan memegang teguh Pi’il Pesenggiri, seseorang tidak hanya menjunjung tinggi martabat dirinya sendiri, tetapi juga ikut serta melestarikan khazanah kearifan lokal yang menjadi penjaga peradaban bangsa. Seperti Gong Balam dalam legenda, pesannya abadi: martabat sejati adalah bekal perjalanan hidup yang paling berharga. **
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Daerah Lampung. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981. (Format Fisik/Perpustakaan Nasional).
2. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti. Transkripsi dan terjemahan oleh para ahli filologi, disimpan di Museum Lampung. (Format Digital/Fisik di Museum).
3. Al-Qur’an dan Terjemahannya: Kementerian Agama Republik Indonesia. (Format Digital/Fisik).
4. Kitab Hadis: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, cetakan Muassasah Ar-Risalah. (Format Fisik/Digital).
5. Buku: Masyarakat dan Adat Budaya Lampung oleh Hilman Hadikusuma. Penerbit Mandar Maju, 1989. (Format Fisik).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung

