BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN Seri 1: MENGENAL LAMPUNG PEPADUN DAN FALSAFAH HIDUPNYA. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, pada zaman dahulu kala, di kaki Gunung Pesagi yang megah, berdiri sebuah kerajaan yang makmur bernama Sekala Bekhak. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang ratu yang bijaksana dan perkasa, Ratu Dipuncak. Namun, hati sang Ratu resah. Ia memimpikan keturunannya menyebar, membuka negeri-negeri baru, dan menjadi pemimpin bagi masyarakatnya.
Maka, dipanggillah keempat putra mahkotanya: Sang Brawira Unyai, Sang Pemberani Unyi, Sang Bijaksana Subing, dan Sang Pemberi Nuban. “Pergilah, wahai putra-putraku,” sabda Ratu Dipuncak, suaranya laksana gemuruh dari puncak Pesagi. “Bawalah semangat Sekala Bekhak ke segala penjuru. Jadilah kalian tunas yang menumbuhkan kebuayan-kebuayan baru. Pimpinlah dengan bijak, junjung tinggi martabat, dan raihlah gelar kehormatanmu sendiri.”

Keempat pangeran itu pun berangkat, diiringi oleh para pengikut setia dari keturunan tiga Paksi lainnya, Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang, dan Nyerupa. Mereka menyusuri lembah, mendaki bukit, dan membuka pemukiman di sepanjang aliran Way (Sungai) Seputih, Way Kanan, dan dataran Tulangbawang.

Dari persatuan Sembilan Marga inilah kemudian lahir masyarakat yang kelak dikenal sebagai Abung Siwo Mego, cikal bakal utama dari Masyarakat Adat Lampung Pepadun.

Kisah perjalanan mereka tidaklah mudah. Di setiap tanah yang mereka datangi, mereka harus membuktikan kearifan dan kepemimpinan mereka. Bukan dengan pedang, melainkan dengan musyawarah, gotong royong, dan kerja keras. Mereka membangun sesat (balai adat) sebagai pusat pemerintahan, dan dari sanalah mereka memimpin dengan gelar yang mereka raih melalui jerih payah sendiri, bukan semata warisan. Inilah benih dari jiwa egaliter dan demokratis yang menjadi ciri khas masyarakat Pepadun, sebuah semangat yang sangat berbeda dengan saudara mereka di pesisir, para Saibatin, yang memegang teguh garis keturunan bangsawan.

Warisan Ratu Dipuncak dan putra-putranya itu masih hidup hingga hari ini, bukan hanya dalam cerita, tetapi dalam jiwa dan darah setiap orang Pepadun, yang termanifestasi dalam falsafah hidup dan tradisi Begawi Adat mereka.

Masyarakat Adat Lampung Pepadun adalah salah satu dari dua rumpun besar (jurai) dalam kebudayaan Lampung. Mereka secara turun-temurun mendiami wilayah pedalaman atau dataran tinggi Provinsi Lampung. N

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 1: Hakikat Pi’il Pesenggiri – Filosofi Dasar Martabat Manusia. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nama “Pepadun” sendiri diambil dari sebuah singgasana kayu berukir yang menjadi simbol pencapaian status sosial tertinggi dalam prosesi adat yang disebut Cakak Pepadun.

Secara genealogis, masyarakat Pepadun terbagi ke dalam beberapa kelompok besar (kebuayan) yang merupakan persatuan dari berbagai marga:
1. Abung Siwo Mego (Sembilan Marga Abung): Merupakan kelompok terbesar, yang konon berasal dari keturunan langsung empat putra Ratu Dipuncak (Unyai, Unyi, Subing, Nuban) dan lima marga pendamping (Anak Tuha, Selagai, Beliyuk, Kunang, Nyerupa). Mereka menyebar di wilayah seperti Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, dan Gunung Sugih.
2. Mego Pak Tulangbawang: Berpusat di daerah Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga, dengan leluhur dari Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, dan Puyang Tegamoan.
3. Pubian Telu Suku: Menempati wilayah Tanjungkarang, Balau, Tegineneng, dan sekitarnya, terdiri dari Suku Manyarakat, Suku Tambapupus, dan Suku Bukujadi.
4. Way Kanan Buway Lima dan Sungkay Bunga Mayang: Menghuni daerah Negeri Besar, Pakuan Ratu, Blambangan Umpu, serta Sungkay dan Bunga Mayang.

Masyarakat Pepadun menganut sistem kekerabatan patrilineal (mengikuti garis ayah). Dalam struktur sosialnya, posisi tertinggi dipegang oleh Penyimbang, yang biasanya adalah anak laki-laki tertua dari keturunan tertua. Namun, yang membedakannya secara fundamental adalah, setiap laki-laki berkesempatan menjadi Penyimbang asalkan mampu memenuhi syarat-syarat adat dalam upacara Begawi Cakak Pepadun.

Perbandingan Singkat dengan Saibatin

Perbedaan antara Pepadun dan Saibatin (Lampung Pesisir) sangatlah jelas, bagai dua sisi mata uang yang melengkapi kebudayaan Lampung.
Aspek Lampung Pepadun Lampung Saibatin
Wilayah Pedalaman/Dataran Tinggi Pesisir/Pantai (Timur, Selatan, Barat)
Sistem

Kepemimpinan Egaliter dan Demokratis.

Gelar Penyimbang dapat diraih oleh siapa saja yang memenuhi syarat adat. Aristokratis. Gelar Penyimbang hanya diwariskan kepada keturunan darah langsung.
Dialek Bahasa Dialek “O” (Nyow) Dialek “A” (Api)
Siger (Mahkota) Berlekuk 9, melambangkan persatuan 9 marga dalam Abung Siwo Mego. Bentuknya menyerupai buah sekala, penghormatan pada cikal bakal Kerajaan Sekala Bekhak. Berlekuk 7, melambangkan 7 gelar adat turun-temurun. Bentuknya mirip Rumah Gadang Pagaruyung, menunjukkan pengaruh budaya Minangkabau.

Baca Juga :  Regenerasi Pemangku Adat, Minat Pemuda yang Rendah terhadap Estafet Kepemimpinan? Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Warna Dominan Baju Adat Putih Merah
Perbedaan ini bukan untuk memecah belah, melainkan memperkaya khazanah budaya Lampung dalam semangat “Sai Bumi Rua Jurai” (Satu Bumi Dua Jurai).

Di balik semua tradisi dan adat istiadat masyarakat Lampung, baik Pepadun maupun Saibatin, terdapat sebuah falsafah hidup yang menjadi jiwa dan pedoman, yaitu Pi’il Pesenggiri. Falsafah ini adalah kompas moral yang mengarahkan setiap individu untuk menjadi pribadi yang terhormat dan bermartabat.

Secara harfiah, Pi’il Pesenggiri dapat dimaknai sebagai “harga diri” atau “kehormatan”. Namun, maknanya jauh lebih dalam, mencakup beberapa prinsip utama:
1. Juluk Adek (Bergelar dan Beradat): Seorang Lampung harus berusaha memiliki gelar adat (juluk) dan memahami tata krama serta adat istiadat (adek) dengan baik. Gelar adat bukan sekadar simbol, tetapi representasi dari pencapaian, kearifan, dan tanggung jawab seseorang dalam masyarakat. Inilah yang mendorong dilaksanakannya Begawi Cakak Pepadun.
2. Nemui Nyimah (Murah Hati dan Terbuka): Sifat menerima tamu dengan senang hati dan bermurah hati kepada sesama. Rumah dan hati orang Lampung selalu terbuka untuk siapa pun.
3. Nengah Nyappur (Aktif Bersosialisasi): Kemampuan untuk berbaur dan berinteraksi dengan semua kalangan. Seorang Lampung harus pandai bergaul dan aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Sakai Sambayan (Gotong Royong): Semangat tolong-menolong dan bekerja sama. Kesusahan satu orang adalah kesusahan bersama, dan kebahagiaan satu orang adalah kebahagiaan semua. Nilai ini sangat terasa dalam pelaksanaan upacara Begawi, di mana seluruh masyarakat bahu-membahu menyukseskannya.

Pi’il Pesenggiri inilah yang menjadi napas dari setiap ritual, termasuk Begawi Adat Pepadun. Upacara tersebut bukan sekadar pesta penghormatan gelar, melainkan sebuah panggung di mana semua nilai-nilai luhur Pi’il Pesenggiri dihidupkan dan ditampilkan.
Dalam masyarakat Pepadun, konsep Bejuluk Beadek (bergelar dan beradat) memiliki makna yang sangat penting. Berbeda dengan sistem aristokratis Saibatin, gelar dalam masyarakat Pepadun adalah sesuatu yang harus diraih, bukan sekadar diwarisi.

Gelar-gelar seperti Suttan, Raja, Pangeran, Minak, Radin, dan Dalom adalah simbol pengakuan masyarakat atas dedikasi, kearifan, dan kemampuan ekonomi seseorang.
Proses untuk meraih gelar ini adalah melalui upacara Begawi Cakak Pepadun, sebuah perhelatan adat besar yang memerlukan persiapan matang, biaya yang tidak sedikit, dan dukungan dari seluruh keluarga dan masyarakat.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Seorang calon harus membayar dau (sejumlah uang adat) dan memotong kerbau, semakin tinggi gelar yang diinginkan, semakin besar pula persyaratannya.
Namun, makna di balik pengorbanan materi ini sangatlah dalam. Seorang tokoh adat, seperti dikutip dari salah satu naskah, menyatakan, “Laki-laki Lampung setelah memiliki gelar harus bisa menjadi panutan dan bisa membawa kepada kebaikan dalam masyarakat maupun keluarga.”

Gelar Suttan yang diperoleh setelah duduk di atas Pepadun bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab besar. Ia kini menjadi Penyimbang, seorang pemimpin yang diharapkan dapat mengayomi, menasihati, dan menjadi teladan bagi kerabat dan masyarakatnya, sesuai dengan wejangan dalam Kitab Kutara Rajaniti yang menjadi pedoman hidup.

Dengan demikian, Begawi Cakak Pepadun adalah puncak perwujudan dari Pi’il Pesenggiri dan Bejuluk Beadek. Ia adalah perjalanan spiritual dan sosial seorang laki-laki Lampung Pepadun untuk mengukir namanya sendiri dalam lembaran sejarah masyarakatnya, mengikuti jejak para leluhur yang membuka negeri dengan semangat dan kerja keras, membangun sebuah peradaban yang menjunjung tinggi martabat, kehormatan, dan kebersamaan.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Makalah “Lampung Pepadun” oleh Afrilia Nur Adinda & Wanda Femilia (2022).
2. Proposal Skripsi “Implementasi Adat Begawi Cakak Pepadun Ditiyuh Memon Kabupaten Tanggamus”.
3. Jurnal Ilmiah Patrawidya, Vol. 22 No. 2 (2021) berjudul “Nilai-Nilai Filosofis Tradisi Begawi Cakak Pepadun” oleh Shely Cathrin, dkk.
4. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
5. Depdikbud Lampung. (1999). Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini