Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan Buku Seri 1: Sehuyunan, Mengikat Persaudaraan dalam Bayang-bayang Teknologi Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Andak menghela napas panjang saat bus yang membawanya dari Bandarlampung mulai memasuki wilayah Liwa. Sawah terbentang, kabut pagi menyelimuti pegunungan Bukit Barisan, dan hawa dingin menyentuh kulitnya seperti bisikan masa lalu. Ia telah meninggalkan kampung halamannya sejak kecil, dan kini kembali di usia 19 tahun, sebagai anak kota yang akrab dengan ponsel pintar dan dunia maya.

Neneknya, Mak Liah, menyambutnya di gerbang rumah panggung tua yang masih kokoh. Di balik pelukannya, Andak merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Suasana kampung begitu berbeda: suara ayam, anak-anak bermain, tetangga saling menyapa.
“Ngape sanak awak lamak lamban? Sudah lupa bau batang kehingan?” canda Mak Liah sambil menyodorkan segelas kopi.
Andak tersenyum kaku.

Bahasa Lampung terdengar asing di telinganya. Ia lebih fasih mengetik emoji dan menggunakan slang bahasa Inggris dalam chat daring.
Namun dalam beberapa hari, Andak mulai menyadari bahwa kampung ini memiliki sesuatu yang telah lama hilang dari hidupnya: kebersamaan. Orang-orang berkumpul untuk bersih kampung, menyiapkan perayaan adat, dan saling membantu tanpa pamrih. Mereka menyebutnya sehuyunan.

Dalam sebuah diskusi sore bersama paman dan beberapa tetua adat di balai kampung, Andak bertanya, “Apa sebenarnya arti sehuyunan itu?”
Paman Mukhlis, tokoh adat yang dihormati, menjawab dengan pelan, “Sehuyunan itu bukan cuma gotong royong. Itu roh dari hidup bersama. Dalam adat kita, sehuyunan artinya bersatu hati, bekerja sama, menjaga harmoni, dan saling menopang dalam suka maupun duka.”

Baca Juga :  Makna “Sakai Sambayan” dalam Gotong Royong Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Paman kemudian menjelaskan praktik-praktik adat seperti gawi, begawi, dan pepung adat, yang semuanya berlandaskan semangat sehuyunan. Dalam upacara perkawinan, kematian, panen, hingga pembangunan rumah, masyarakat Lampung selalu melibatkan komunitas sebagai satu keluarga besar.

Andak merenung. Di dunia digital yang ia kenal, kerja sama artinya “collab” untuk konten, dan empati hanya berupa “like” atau “emoji sedih.” Di kampung, ia melihat kerja sama nyata: orang memikul beban bersama, tanpa status, tanpa sorotan.

Andak mencoba membandingkan kehidupan kampung dengan kehidupan digitalnya. Di kota, ia hidup dalam dunia serba cepat. Semua bisa diakses, tetapi terasa kosong. Teman hanya sebaris username, hubungan hanya sebatas balasan pesan.
Ia mengingat saat ayahnya meninggal. Hanya sedikit teman daring yang benar-benar hadir.

Sebaliknya, di kampung, ketika ada warga meninggal, satu kampung datang. Ada tangisan bersama, masakan bersama, dan pelukan hangat yang tak tergantikan emoji.
Di dunia digital, algoritma menentukan siapa yang dilihat dan didengar. Di kampung, semua setara di mata adat.
“Teknologi bagus, Dak,” ujar Mak Liah. “Tapi kalau sampai lupa senyum sama tetangga, lupa dengar cerita orang tua, itu bukan maju, itu mundur.”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 7: Warisan Lisan dan Simbol — Hikmah di Balik Ungkapan Adat. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam adat Lampung, sehuyunan bukan sekadar interaksi horizontal antarwarga, tetapi juga hubungan vertikal dengan leluhur. Ketika orang kampung membangun rumah, mereka selalu memulai dengan doa kepada leluhur. Setiap kegiatan bersama disertai ritual yang mengingatkan bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tapi sebagai bagian dari warisan.
“Andak,” kata Paman Mukhlis dalam sebuah pertemuan adat, “di kampung ini, kita masih percaya bahwa arwah leluhur hadir di sekitar kita. Kalau kita tak sehuyun, kita menghina warisan mereka.” Andak mulai merasakan nilai spiritual dari sehuyunan. Bukan hanya kerja bersama, tapi ada rasa hormat, ketulusan, dan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari rantai panjang sejarah dan nilai.

Dalam dunia digital, keputusan sering diambil melalui voting cepat, survei daring, atau trending topic. Di kampung, keputusan besar diambil melalui musyawarah, panjang, melelahkan, tapi menyatukan.
Ketika terjadi perselisihan antar keluarga, seluruh tokoh adat berkumpul. Mereka duduk bersila, membahas dari hati ke hati. Tak ada yang meninggikan suara. Semua mendengar. Sampai akhirnya keluar satu keputusan yang disebut keputusan pepung, hasil kesepakatan bersama.
“Musyawarah itu bukan siapa paling banyak suara, tapi siapa paling banyak rasa,” kata seorang tokoh tua, Pak Rudi.

Andak mencoba membawa nilai sehuyunan ke dalam komunitas digitalnya. Ia memulai dengan membuat blog dan kanal YouTube bertema “Hidup Beradat di Era Digital.” Ia mengangkat kisah-kisah kampung, semangat gotong royong, dan tradisi yang hampir punah.
Awalnya tidak banyak yang menonton. Tapi perlahan, komentarnya mulai dipenuhi ucapan syukur dari anak-anak rantau, dosen antropologi, hingga influencer budaya.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 3: Nengah Nyappur – Integrasi Sosial yang Elegan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Andak mulai menyadari, teknologi bisa menjadi alat untuk memperkuat nilai, jika digunakan dengan niat yang benar. Sehuyunan bisa hidup dalam grup WhatsApp keluarga, dalam kolaborasi konten yang tulus, dan dalam forum digital yang menghargai perbedaan.

Kisah Andak adalah gambaran krisis dan harapan di tengah dunia yang serba digital. Adat istiadat Lampung, khususnya semangat sehuyunan, mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, spiritual, dan historis.
Era digital memang memudahkan koneksi, tapi bukan jaminan kebersamaan. Dalam budaya instan, sehuyunan menjadi pengingat bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan empati.
Dengan sehuyunan, kita diajak melihat kembali siapa diri kita: bagian dari komunitas, dari leluhur, dan dari masa depan yang lebih manusiawi. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini