nataragung.id – Pemanggilan – Dahulu, berhala tampil dalam rupa yang kasar dan nyata: patung-patung dari batu dan kayu, berdiri di sudut-sudut kota dan rumah ibadah. Ia diagungkan, disembah, dan dijadikan tempat menggantungkan harapan. Manusia menundukkan kepala dan nasibnya di hadapan benda mati, seolah patung itu memiliki kuasa atas hidup dan mati.
Namun waktu berjalan, peradaban bergerak. Patung-patung itu runtuh, tapi ruh perberhalaan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti rupa.
Hari ini, berhala tidak lagi selalu berupa patung. Ia menjelma menjadi para penguasa, birokrat, konglomerat, bahkan ulama, ketika mereka ditaati secara mutlak, diikuti tanpa kritis, dan dipatuhi walau jelas melanggar perintah Allah. Saat halal dan haram dikorbankan demi kekuasaan, jabatan, uang, atau loyalitas, di situlah berhala baru ditegakkan.
Allah Subḥanahu wata’ala telah mengingatkan dengan sangat tegas:
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jātsiyah: 23)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang hawa nafsu pribadi, tetapi juga tentang nafsu kekuasaan, ambisi dunia, dan kepentingan kelompok yang akhirnya ditaati layaknya tuhan. Ketika perintah manusia lebih ditakuti daripada murka Allah, saat itulah pergeseran tauhid terjadi, pelan, halus, tapi mematikan iman.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan bentuk penyembahan yang sering tidak disadari oleh umat:
أَلَيْسَ يُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّونَهُ، وَيُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُونَهُ؟
“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan lalu kalian mengikutinya, dan mengharamkan apa yang Allah halalkan lalu kalian mentaatinya?”
Para sahabat menjawab: “Benar.”
Rasulullah bersabda:
فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ
“Itulah bentuk penyembahan kalian kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini sangat mengguncang kesadaran. Ternyata penyembahan tidak selalu dengan sujud dan doa, tetapi bisa berupa ketaatan buta, ketika standar benar dan salah tidak lagi ditimbang dengan wahyu, melainkan dengan siapa yang berkata.
Allah Subḥanahu wata’ala kembali menegaskan:
وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
“Dan Dia tidak mempersekutukan seorang pun dalam menetapkan hukum-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 26)
Maka siapa pun penguasa, pejabat, orang kaya, atau tokoh agama, jika perkataannya diikuti dengan menyingkirkan hukum Allah, ia telah ditempatkan di kursi yang bukan miliknya. Dan siapa pun yang rela menaatinya tanpa keberanian berkata tidak, telah berisiko terjatuh dalam syirik ketaatan.
Tauhid sejati bukan sekadar mengucap lā ilāha illallāh, tetapi menjaga agar tidak ada satu pun makhluk yang lebih ditaati daripada Allah. Ketaatan kepada manusia hanya sah selama ia selaras dengan kebenaran.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menutup semua celah kompromi itu dengan kaidah yang jelas:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)
Di zaman ini, menghancurkan berhala bukan dengan palu, tetapi dengan kesadaran iman, keberanian nurani, dan keteguhan memegang halal dan haram. Karena berhala paling berbahaya bukan yang berdiri di depan mata, melainkan yang berdiri di dalam hati, menguasai ketaatan, arah hidup, dan keputusan moral kita.
Semoga Allah menjaga tauhid kita, membersihkan hati dari segala bentuk perberhalaan modern, dan menjadikan kita hamba yang hanya tunduk kepada-Nya. (KIS/169).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

