Nyadran Menyambut Ramadhan. KH. Sangaji, S.Hi : Silaturahmi Jangan Sering-sering
nataragung.id – Magelang – Meski pun dianjurkan Rasulullah, tetapi Silaturrahmi sebaiknya tidak dilakukan terlalu sering. Silaturahmi yang terlalu sering justru melahirkan ketidaksenangan.
Demikian tausiyah yang disampaikan oleh KH. Sangaji, S.Hi., dari Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara nyadran menyambut buka puasa di Magelang, Jawa Tengah, Senin (16/02/2026).
Menurut Sangaji, tidak semua silaturrahmi melahirkan berkah seperti yang diajarkan Rasulullah SAW. Silaturahmi yang terlalu sering justru akan memunculkan ketidaksenangan bagi keluarga, teman, atau tetangga yang menjadi tuan rumah.
“Kalau terlalu sering justru melahirkan ketidaksenangan, ketidaksukaan tuan rumah,” katanya.
Lebih lanjut, Sangaji mengatakan keberkahan silaturahmi akan didapatkan manakala yang didatangi merasa rida. Dengan silaturahmi yang tidak terlalu sering ajab menumbuhkan kesenangan, kecintaan, dan kebahagiaan.
Silaturahmi yang sering-sering itu baik hanya kepada orang tua agar bisa selalu memandang wajah bapak dan ibunya.
“Orang tua juga akan senang ketika bisa memandang wajah anaknya,” lanjut Sangaji.
Silaturahmi lain yang baik manakala dilakukan sesering mungkin kepada ulama, ahli ilmu. Dengan memandang wajah mereka akan mendapatkan keberkahan ilmu dan kebaikan lainnya.
“Kalau enggak bisa ketemu langsung, tetap mendapatkan berkah, keluberan ilmunya,” ungkapnya.
Berkaitan dengan tradisi nyadran dan padusan yang sering banyak dilakukan masyarakat, terutama di Jawa. Dalam nyadran biasanya warga desa melakukan ziarah makam, dan doa bersama.
“Ziarah makam itu bagian dari birrul walidain, perbuatan baik kepada orang tua dan keluarga,” kata Sangaji.
Sementara mengenai padusan (mandi bersama) sebelum masuk puasa, merupakan simbolis dari pentingnya umat muslim membersihkan diri secara fisik.
“Yang lebih penting lagi itu membersihkan diri secara batin. Misalnya, dengan meminta maaf kepada orang tua, keluarga, dan tetangga,” pungkasnya.
Editor : Mukhotib MD
KH. Sangaji, S.Hi., dari Kementerian Agama Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto: Mukhotib MD

