MIMBAR JUM’AT : Muraqabatullah dan 7 Cara Untuk Senantiasa Merasakan Muraqabatullah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Salah satu pendidikan agung di bulan suci Ramadhan adalah muraqabatullah, merasakan bahwa Allah selalu mengawasi, menyertai, dan mengetahui setiap gerak hati dan langkah kaki kita. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih jiwa untuk hidup dalam kesadaran ilahiah.

Dalam mukadimah kitab Riyadhus Sholihin karya Imam An-Nawawi, terdapat Bab al-Murāqabah yang menegaskan pentingnya menghadirkan rasa diawasi Allah dalam setiap keadaan.

Berikut tujuh cara agar kita senantiasa merasakan muraqabatullāh, dengan dalil Al-Qur’an dan hadits yang dicantumkan dalam kitab tersebut:

Pertama, Menyadari bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengawasi

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.” (QS. An-Nisā’: 1)

Dan firman-Nya:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Ketika seorang hamba yakin bahwa Allah melihatnya, maka ia akan malu berbuat maksiat walau tak ada manusia yang menyaksikan.

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT - Sudut Pandang dan Masalah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron - MAJALAH NATAR AGUNG.

Kedua, Menghadirkan Ihsan dalam Ibadah

Dalam hadits Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Inilah puncak muraqabah: beribadah dengan hati yang hidup, merasa dekat dengan Allah.

Ketiga, Memperbanyak Dzikir dan Mengingat Allah

Allah berfirman:

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut.” (QS. Al-A‘rāf: 205)

Dzikir yang tulus akan menghidupkan hati. Hati yang hidup akan mudah merasakan pengawasan Allah.
Keempat, Menjaga Hati dari Bisikan dan Niat Buruk

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS. Qaf: 16)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Takwa - Makna dan 7 Jalan Menuju Kepadanya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ayat ini menegaskan bahwa bahkan bisikan hati pun berada dalam ilmu Allah. Maka orang yang bermuraqabah akan membersihkan niat sebelum amalnya rusak.

Kelima, Menumbuhkan Rasa Malu kepada Allah

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

استحيوا من الله حق الحياء

“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” (HR. Tirmidzi)

Rasa malu kepada Allah menjadikan seorang hamba enggan berbuat dosa, walau sendirian.

Keenam, Mengingat Kematian dan Hari Perjumpaan dengan Allah

Allah berfirman:

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Kesadaran bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah menjadikan hati selalu siaga dan terjaga.

Ketujuh, Muhasabah (Introspeksi Diri)

Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Orang yang terbiasa mengoreksi dirinya setiap hari akan lebih mudah menjaga kesadaran bahwa Allah selalu bersamanya.

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT - Akhir Ramadhan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Jadi, Ramadhan adalah madrasah muraqabah. Ketika kita mampu menahan diri dari makan dan minum karena Allah, padahal tak ada manusia yang melihat, itu bukti bahwa hati sedang belajar merasakan kehadiran-Nya.

Semoga puasa kita tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menumbuhkan hati yang hidup, yang selalu bergetar ketika disebut nama Allah, dan selalu merasa diawasi dalam sunyi maupun ramai.

اللهم ارزقنا المراقبة في السر والعلانية، واجعلنا من عبادك المتقين.

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa muraqabah kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa.” (KIS)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini