Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Perempuan Lampung dan Perannya di Bulan Puasa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam kehidupan masyarakat adat Lampung, perempuan menempati posisi yang tidak hanya penting, tetapi juga menentukan arah keberlangsungan adat, agama, dan keluarga. Perempuan Lampung adalah penjaga nilai, penutur sejarah, serta penggerak kehidupan spiritual di ruang domestik maupun sosial. Pada bulan Ramadhan, peran ini semakin tampak dan bermakna. Bulan suci tidak dipahami semata sebagai kewajiban ibadah personal, melainkan sebagai masa penguatan adat, pendidikan akhlak, dan pengabdian sosial yang banyak ditopang oleh peran perempuan.
Buku ini disusun sebagai naskah fiksi tradisional yang berakar pada cerita rakyat, sejarah marga, dan refleksi filosofis. Fokus pembahasan diarahkan secara konsisten pada perempuan Lampung dan perannya di bulan puasa, agar pembaca dapat menyelami satu tema secara utuh, mendalam, dan tidak terpecah.

Alkisah, di sebuah marga tua di pesisir Lampung, hiduplah seorang perempuan bernama Niti Batin. Ia dikenal bukan karena kekayaannya, melainkan karena keluhuran budi dan keteguhannya menjaga adat. Setiap Ramadhan tiba, Niti Batin menjadi orang pertama yang menyalakan pelita di lamban keluarga, pertanda dimulainya bulan suci.
Dalam cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, Niti Batin selalu mengenakan siger sederhana pada malam pertama Ramadhan. Bukan sebagai perhiasan, melainkan sebagai simbol tanggung jawab. Ia berkata kepada anak-anak perempuan di marganya, “Siger bukan hanya mahkota, melainkan amanah. Ramadhan mengajarkan kita menjaga amanah itu dengan iman.”
Cerita ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Lampung sebagai gambaran perempuan adat yang memadukan keindahan, keteguhan, dan kesalehan.

Baca Juga :  Saibatin dan Pepadun, Bukan Sekadar Dua Sistem. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam sistem marga masyarakat Lampung, perempuan memiliki peran sentral sebagai penghubung silsilah dan penjaga kehormatan keluarga. Legenda-legenda marga yang tercatat dalam naskah adat, seperti Kuntara Raja Niti dan kitab-kitab hukum adat Lampung, sering menyebut peran ibu dan perempuan tua sebagai penentu keputusan penting.
Salah satu petikan dalam Kuntara Raja Niti menyebut: “Batin sai ngemong adat, inang sai nguguh kehormatan.”
Kutipan ini menegaskan bahwa jika pemimpin adat menjaga aturan, maka perempuan menjaga kehormatan dan martabat marga. Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa kehormatan bukan konsep abstrak, melainkan praktik keseharian yang banyak dijalankan perempuan, terutama dalam mendidik anak dan mengatur kehidupan rumah tangga.
Pada bulan Ramadhan, peran ini terlihat jelas dalam pengaturan ibadah keluarga, tradisi berbagi makanan, serta pendidikan adab puasa kepada generasi muda.

Ramadhan dalam adat Lampung adalah ruang pendidikan spiritual, dan perempuan adalah guru pertamanya. Ibu mengajarkan niat puasa, kesabaran, dan makna menahan diri bukan hanya dari lapar, tetapi juga dari perkataan dan perbuatan tercela.
Dalam tradisi Ngaji di Lamban, perempuan tidak selalu duduk di barisan depan, tetapi perannya terasa dalam persiapan, pengaturan waktu, dan pembinaan suasana.
Sebuah ungkapan adat Lampung menyebut: “Punyimbang di depan, inang di belakang, adat tetap tegak.”
Maknanya, meski tidak selalu tampak, peran perempuan menopang keberlangsungan adat. Dalam perspektif Islam, hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw.: “Al-mar’atu ra’iyyatun fī bayti zaujiha.”
Artinya, perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 10 – Merawat Bahasa, Merawat Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis atas hadis ini menunjukkan keselarasan antara ajaran Islam dan adat Lampung dalam memuliakan peran perempuan sebagai pemimpin moral keluarga.
Tradisi Ramadhan di Lampung sarat dengan ritual sosial, seperti berbagi makanan berbuka, doa bersama, dan musyawarah keluarga. Perempuan berperan sebagai pengelola dan penentu nilai dalam ritual tersebut.
Dalam beberapa marga, terdapat tradisi memasak bersama menjelang berbuka yang dipimpin oleh perempuan tertua. Ritual ini bukan sekadar aktivitas dapur, melainkan sarana pendidikan nilai gotong royong dan keikhlasan. Filosofi ini sejalan dengan firman Allah: “Wa ta‘āwanū ‘alal-birri wat-taqwā.” (QS. Al-Māidah: 2)

Ayat ini menegaskan pentingnya kerja sama dalam kebaikan. Dalam konteks adat Lampung, perempuan menjelmakan ayat ini dalam tindakan nyata yang sederhana namun bermakna.
Siger bukan hanya simbol status sosial, tetapi juga lambang cahaya dan tanggung jawab. Dalam penafsiran adat, jumlah lekuk siger melambangkan prinsip hidup yang harus dijaga perempuan Lampung, termasuk kesabaran dan kebijaksanaan.
Pada bulan Ramadhan, makna siger diperluas sebagai simbol kesucian niat dan keteguhan iman. Perempuan Lampung diharapkan menjadi teladan dalam menjaga lisan, sikap, dan keharmonisan keluarga selama puasa.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Buku 6: "Adat Dihidupkan, Bukan Dikenang" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Perubahan zaman membawa tantangan baru bagi perempuan Lampung. Namun, nilai-nilai Ramadhan memberikan ruang refleksi untuk mempertahankan esensi peran perempuan dalam adat dan agama.
Cerita rakyat dan sejarah marga yang disampaikan pada malam-malam Ramadhan berfungsi sebagai penguat identitas. Perempuan menjadi penutur utama cerita ini, memastikan nilai-nilai leluhur tetap hidup di tengah modernitas.
Perempuan Lampung dan perannya di bulan puasa adalah kisah tentang keteguhan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Dalam Ramadhan, perempuan adat Lampung menjelma sebagai penjaga iman, adat, dan sejarah. Melalui peran mereka, Ramadhan tidak hanya dirasakan sebagai kewajiban ibadah, tetapi sebagai jalan hidup yang berakar pada budaya dan spiritualitas.

Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
2. Pemerintah Provinsi Lampung. Adat Istiadat dan Struktur Marga Lampung. Bandar Lampung.
3. Kuntara Raja Niti. Manuskrip Adat Lampung, Arsip Daerah Provinsi Lampung.
4. Abdullah, Irwan. Islam dan Budaya Lokal di Lampung. Bandar Lampung.
5. Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini