Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri – 10 – Merawat Bahasa, Merawat Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah tiyuh yang mulai lengang oleh arus perantauan, hiduplah seorang penyimbang tua bernama Suttan Ratu Punyimbang. Rambutnya memutih, suaranya pelan, tetapi tutur katanya masih utuh berbahasa Lampung halus. Setiap sore, ia duduk di serambi rumah adat, berbicara kepada anak-anak yang jarang menjawab dengan bahasa yang sama.
Suatu hari ia berkata, “Kelak rumah ini bisa roboh, adat bisa berubah rupa, tetapi bila bahasa masih kau ucapkan, budaya tidak akan mati.” Kalimat itu menjadi cerita yang diwariskan, dipercaya sebagai pesan terakhir para leluhur: menjaga bahasa berarti menjaga kehidupan budaya itu sendiri.
Cerita rakyat ini menutup rangkaian kisah tentang bahasa Lampung, sebagai penegasan bahwa bahasa bukan peninggalan masa lalu, melainkan amanah untuk masa depan.

Dalam adat Lampung, budaya tidak diwariskan hanya melalui benda atau upacara, melainkan melalui bahasa yang hidup dalam keseharian. Bahasa adalah napas yang membuat adat tetap bergerak. Tanpa bahasa, adat menjadi kaku dan kehilangan makna.
Ungkapan adat Lampung menyebutkan: “Adat hidup jama ucak.”
Ungkapan ini sering ditemukan dalam petuah penyimbang adat. Analisisnya menunjukkan bahwa adat tidak berdiri sebagai aturan mati, melainkan hidup melalui praktik bahasa: sapaan, musyawarah, petuah, dan doa. Bahasa Lampung menjadi wadah nilai, etika, dan spiritualitas yang diwariskan secara alami dari generasi ke generasi.
Merawat bahasa berarti menjaga aliran nilai agar tidak terputus oleh zaman.

Baca Juga :  Serial Buku - Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Buku 6: "Adat Dihidupkan, Bukan Dikenang" Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Setiap marga Lampung memiliki sejarah panjang yang diturunkan melalui bahasa. Legenda asal-usul dari Sekala Brak menyebutkan bahwa leluhur membawa adat dan bahasa sebagai bekal utama dalam membuka wilayah baru.
Dalam hikayat adat tua tertulis: “Bahasa ulah tinggal, sebab di sanalah adat turun-temurun.”
Kutipan ini menegaskan bahwa bahasa adalah sarana utama pewarisan marga. Silsilah bukan hanya daftar nama, tetapi rangkaian cerita yang dihidupkan melalui bahasa. Ketika bahasa ditinggalkan, sejarah marga kehilangan suaranya.
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa merawat bahasa Lampung sama dengan menjaga kesinambungan identitas marga, agar generasi penerus tetap mengenali akar dan arah hidupnya.

Ritual adat Lampung seperti begawi, cangget, dan musyawarah adat selalu menggunakan bahasa Lampung sebagai medium utama. Bahasa dalam ritual bukan sekadar formalitas, melainkan unsur sakral yang mengikat manusia dengan leluhur dan Yang Maha Kuasa.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti disebutkan: “Ucakkan adat, ulah sembarang, sebab di sanalah hukum berdiri.”
Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa bahasa adat mengandung kekuatan normatif dan spiritual. Setiap kata dalam ritual memiliki konsekuensi moral. Bahasa menjaga agar adat tidak kehilangan kesakralannya di tengah perubahan sosial.
Jika bahasa ritual digantikan atau diabaikan, maka makna budaya akan mengalami pengosongan makna.

Baca Juga :  Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini. Buku – 2. Asal-usul Way Beliuk Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Merawat bahasa Lampung tidak hanya dilakukan dalam upacara adat, tetapi terutama dalam kehidupan sehari-hari. Cara menyapa orang tua, berbicara kepada sesama, dan menegur dengan santun adalah praktik budaya yang hidup.
Peribahasa Lampung menyatakan: “Ucak sai dijaga, adat sai terpelihara.”
Ungkapan ini menegaskan hubungan langsung antara tutur kata dan keberlangsungan adat. Analisisnya menunjukkan bahwa bahasa membentuk kebiasaan, dan kebiasaan membentuk karakter budaya. Ketika bahasa digunakan dengan kesadaran adat, kehidupan sosial menjadi lebih harmonis.
Bahasa Lampung mengajarkan keseimbangan antara kejujuran dan kesantunan, antara keberanian dan hormat.

Modernisasi membawa tantangan besar bagi bahasa daerah. Namun masyarakat Lampung memandang bahasa bukan sebagai penghalang kemajuan, melainkan fondasi jati diri. Bahasa dapat hidup berdampingan dengan bahasa nasional dan global.
Merawat bahasa Lampung berarti menggunakannya secara aktif di rumah, di komunitas, dan dalam pendidikan. Ketika generasi muda menggunakan bahasa Lampung dengan bangga, budaya tidak hanya bertahan, tetapi berkembang.
Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa pelestarian bahasa bukan tugas adat semata, melainkan tanggung jawab bersama sebagai pemilik budaya.
Dalam pandangan spiritual masyarakat Lampung, bahasa adalah titipan leluhur. Ia diwariskan bukan untuk disimpan, tetapi untuk digunakan dan dijaga.
Petuah adat menyebutkan: “Sai dititip, wajib dijaga.”
Analisis filosofisnya menunjukkan bahwa bahasa Lampung dipandang sebagai amanah moral. Menggunakannya dengan benar berarti menghormati leluhur dan mempersiapkan warisan bagi generasi mendatang.
Bahasa yang dirawat dengan kesadaran akan menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Seperti pesan Suttan Ratu Punyimbang, budaya Lampung akan tetap hidup selama bahasanya masih diucapkan dengan kesadaran dan kebanggaan. Merawat bahasa berarti merawat nilai, etika, dan spiritualitas yang membentuk masyarakat Lampung.
Buku ini menutup rangkaian seri dengan keyakinan bahwa bahasa Lampung bukan sekadar peninggalan, melainkan cahaya budaya yang terus menyala bila dijaga bersama.
Merawat bahasa, berarti merawat budaya. Merawat budaya, berarti menjaga jati diri.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Puasa dan Piil Pesenggiri, Menjaga Martabat di Bulan Suci. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Referensi Fisik dan Digital Terverifikasi
* Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip hukum adat Lampung.
* Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat dan Budaya Lampung.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pelestarian Bahasa Daerah Lampung.
* Arsip Lisan Penyimbang Adat Saibatin dan Pepadun.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini