Mati Bulan Puasa Ini atau Puasa Ramdan Tahun Depan. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Pakde Kliwon sedang berduka, tetapi juga bahagia. Waduh, kok kondisinya seperti pejabat di negeri ini. Selalu saja problematik. Sulit merumuskan, bahkan untuk kondisi dirinya sendiri.

Namun, Pakde Kliwon posisinya memang benar-benar sulit. Ibarat pepatah mengenai buah simalakama. Saya sendiri enggak paham persis, kenapa untuk situasi sulit dalam memilih, menggunakan nama buah ini. Buah yang juga disebut dengan mahkota dewa, bulat-bulat berwarna merah.

Bagaimana tidak, lambungnya mengalami cedera karena tertabrak pihak keamanan saat ikut turun lapangan (baca: demonstrasi). Kenapa tua-tua bangka masih ikut demo? Seperti orang kehilangan panggung saja.

Dokter bilang tidak puasa dulu sampai memar di lambung itu pilih kembali. Namun, ia keberatan meninggalkan ibadah puasa. Pasalnya, ia enggak yakin masih akan menemui Ramadan di tahun depan.

Baca Juga :  Cermin Retak: Darurat Kekerasan Seksual. Oleh : Mukhotib MD *)

“Tapi kan bisa diqodlo, atau bayar fidyah,” kata Pakde No saat bezoek di rumah sakit.

“Berbeda cita rasanya,” ujar Pakde Kliwon sambil tangannya sibuk mengusap-usap perut sebelah kirinya.

Rupanya sudah terjadi pembengkakan sebesar jambu bangkok. Jenis buah ini saya dengar sudah sejak saya kecil, kakak ipar menanam dua batang di halaman rumah. Apakah ini memang Jambi impor dari Bangkok? Tak tahulah.

Saya sih membayangkan mengenai mobil India, yang akan diimpor besar-besaran sebentar lagi. Impor yang didanai dari uang utang ini bakal untuk fasilitas distribusi MBG. Yang saya tidak tahu, kalau jambu Bangkok setelah beberapa tahun buahnya berubah menjadi kecil, entah mobil India akan berubah seperti apa.

Baca Juga :  Standar Seorang Bisa Dinamakan Ulama

Ketika Pakde Kliwon tetap enggak mau makan dan minum obat, dokter merasa putus asa. Tua Bangka ngeyelan, mungkin seperti itu umpatnya dalam hati. Tak lama dia ngeloyor perto meninggalkan ruang rawat.

Saya berbisik, mungkin hanya Yuk Nah yang bisa membujuknya kataku bisik-bisik ke Pakde. Apakah istrinya enggak mampu membujuk? Bukan tidak mampu, tetapi sudah malas membujuk. Hasilnya malah berantem.

Yuk Nah buru-buru ke rumah sakit setelah Pakde mengirim pesan melalui telepon genggamnya. Ia tahu benar watak keras kepala Pakde Kliwon. Sungguh kepalanya memang keras beneran.

Baca Juga :  Bobby Kertanegara Masuk Istana, Ini Cerita soal Kucing Kesayangan Prabowo

“Mau mati bulan puasa ini atau bisa puasa tahun depan,” kata Yuk Nah sambil memegang sendok berisi obat.

“Ikut ente saja, Jeng,” kaya Pakde Kliwon dengan suara manjanya.

Kalau sudah begini, saya tak lagi bisa bertahan. Secepatnya keluar ruangan perawatan, sambil tangan kananku menyambar merah baju Pakde No.

Lalu memberi kabar ke Yuk Wik, istri Pakde Kliwon untuk segera ke rumah sakit. Seperti yang diperankan Yuk Nah. (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini