nataragung.id – Yogyakarta – Kata orang konflik dalam rumah tangga itu biasa. Tidak perlu dibesar-besarkan. Nanti juga akur lagi. Namun, benarkah memang begitu?
Saya melihatnya tidak begitu. Menyatakan konflik dalam rumah bagaikan garam dalam masakan, sesungguhnya merupakan bentuk normalisasi.
Tak ada seorang pun yang ingin terjadi konflik dalam rumah tangga. Terlebih sampai pada berbagai tindak kekerasan, seperti fisik, psikis, ekonomi, dan bahkan kekerasan seksual.
“Saya paling sebel ketika suami mulai memasang wajah tak menyenangkan,” kata Yuk Nah.
Wajah suami yang tiba-tiba angker, tak mau bicara, tak lain hanya sedang menunjukkan kuasanya. Laki-laki seperti ini masih hidup dalam kerangka pikir patriarki. Merasa memiliki kuasa penuh terhadap siapapun yang ada dalam rumah, terutama istri dan anak-anak.
Laki-laki seperti ini sungguh sudah lapuk, tertinggal zaman, dan piknik kurang jauh. “Maksudnya, bagaimana?” tanya Pakde No dengan menunjukkan raut muka sungguh-sungguh.
“Saat ini konsep relasi perempuan dan laki-laki sudah jauh berbeda,” kataku.
“Wah, kuliah begini bikin cepat lapar,” ujar Pakde Kliwon sambil pegang-pegang pisang Ambon, meski waktu azan masih 90 menit lagi.
“Kamu diam dulu,’ bentak Yuk Nah. Pernyataan Pakde Kliwon tampaknya tidak berkenan di hati sang putri ini. Dan sejak dulu, ia selalu terbuka mengungkapkan perasaannya. Termasuk kepada suami, dan anggota keluarga lainnya.
“Puasa, tahan hawa nafsu, dan hawa lain yang enggak enak,” sahut Pakde Kliwon, tetapi nasa suaranya sumbang, enggak enak di telinga. Cempreng enggak jelas jenis suaranya.
Yuk Nah memang beda. Maka tak heran Pakde Kliwon terkantil-kantil kepadanya. Tetapi banyak orang beruntung Yuk Nah tidak berminat dengan Pakde Kliwon. Kalau dilanjutkan, orang akan bilang, Pakde Kliwon menikah dengan Yuk Nah itu berkah, Yuk Nah menikah dengan Pakde Kliwon itu musibah.
“Ada konsep bannya mubaddalah,” lanjutku setelah tersela kemarahan Yuk Nah.
Itu konsep kesalingan. Dalam rumah tangga itu harus serba saling: saling memahami, saling mengerti saling memaafkan, saling membantu, dan saling yang lain.
Tidak ada yang lebih dan yang kurang, tidak ada yang menguasai dan tidak ada yang dikuasai. “Jadi setara dan saling melengkapi,” kataku.
Masih mau jadi suami yang selalu menang sendiri, mau menguasai, apalagi selalu mengutamakan kekerasan?
Noh, segera jadi suami paling menyedihkan di dunia?
Tak ada yang merespons. Pakde Kliwon dan Pakde No sudah sibuk dengan kolak pisang dan kolang-kaling. Yuk Nah sibuk dengan centong nasi melayani para pembeli.
Aku diam, merasa diremehkan dengan ceramah ilmiah dan lebih dengan semangat gerakan perubahan. Kalau tidak puasa, pasti mereka saya damprat satu per satu. (*)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

