nataragung.id – Yogyakarta – Jagat media sosial tiba-tiba ramai dengan unggahan mengenai para guru yang membawa paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Yuk Nah tentu saja langsung tolak pinggang, dan mengajak para sahabatnya berkumpul di warungnya.
“Ada apa tiba-tiba main undang saja,” kataku sambil menempatkan pantat kesayangan di bangku tanpa busa itu. Mutlak hanya kayu jati berusia lebih ketimbang diriku sendiri.
“Kenapa yang lain belum datang, ini persoalan genting,” ucapnya begitu melihat aku nongol dan pantatku juga belum menempel di bangku.
Ketika Pakde Kliwon dan Pakde No datang berbarengan sebuah serangan membabi buta mencercanya. Lamban lah, tidak peduli lah, dan sangkakan yang sungguh karena termakan emosi. Benar-benar enggak hifdzul lisan. Padahal di bulan suci Ramadan pantangan mengumbar.
Namun, begitulah watak dan gaya bicara Yuk Nah. Kita semua tahu, tak ada kebencian dalam mengucapkannya. Dan karenanya, kita tak pernah merasa sakit hati.
“Apa maumu,” kata Pakde Kliwon sejenak setelah mengambil nafas panjang. Harap dimaklumi, karena gula darahnya, saat ini ia memang enggak kuat berjalan panjang. Kita dinasihati agar berolahraga, ia malah bilang memangnya atlit, latihan lari setiap hari
“Maumu,” ujar Yuk Nah dengan tunjuk lurus menunjuk ke wajahnya.
Tentu kami bertiga saling pandang. Mau bilang kaget nanti jadi persis gaya pejabat di pusat sono.
“Lha, yang mengundang kan dirimu,” sahur Pakde No dengan nada suara kehewanan dan sepertinya dia kali ini enggak mampu memahami jalan pikiran teman perempuannya ini.
“Ini persoalan kita semua. Bukan hanya aku,” kata Yuk Nah.
“Iya, sudah persoalan kita semua. Namun, soal apa?” tanyaku jadi ikut-ikutan bingung seperti Pakde No.
“Ulah orang-orang yang memprotes para guru bawa paket MBG,” ungkap Yuk Nah.
Oalah, itu yang keluar secara otomatis menyembul di antara gigi Pakde Kliwon yang sudah ompong tiga gigi depannya.
“Enggak usah dipikir yang begitu bawa-bawa saja,” kata Pakde Kliwon.
Menurutnya, MBG yang dibawa guru itu bukan merebut jatah siswa yang berhak menerima paket MBG. Guru juga memang mendapatkan jatah sendiri.
Lalu, kata Pakde Kliwon, mereka juga sudah berkomunikasi dengan orang tua murid yang anaknya tidak masuk sekolah. Kalau orang tua lantas menyerahkan paket MBG itu ke guru, kan sah-sah saja mereka membawa pulang.
Ada juga sebagian sekolah yang menyedekahkan ke orang yang membutuhkan ketika paket MBG yang tidak diambil dalam jumlah banyak.
“Maka kita biarkan saja celoteh di media sosial itu?” tanyaku.
“Cuekin saja,” kata Pakde No.
“Ya, sudah kalau begitu,” kata Yuk Nah sambil pergi. Wajahnya tampak ketidakpuasan. Namun, penjelasan Pakde Kliwon cukup masuk akal. (*/20).
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

