CERMIN RETAK : Dari Sok-sokan, Tidak Realistis, dan Desakan Mundur. Oleh : Mukhotib MD *)

0

nataragung.id – Yogyakarta – Keinginan Prabowo untuk menjadi penengah dalam konflik Amerika-Israel dan Iran menjadi sorotan banyak kalangan. Seperti biasa, responsnya beragam-ragam. Situasinya sama persis kalau saya, dan tiga sahabat kentalku ngobrol di warung Yuk Nah sambil makan rujak dengan sambal level 10.

Ada tokoh yang mengatakan kebijakan itu sekadar sikap sok-sokan Prabowo saja, tokoh lain mengatakan tidak realitas. Alasannya jelas, bagaimana akan menjadi penengah atau juru damai, ketika posisi Prabowo sendiri tidak setara di hadapan Trump dan Netanyahu.

Anggapan itu tentu saja tidak keseluruhannya salah. Tentu masih hangat dalam pikiran kita mengenai Board of Peace (BoP) yang dibentuk Trump. Indonesia harus bersedia membayar 16,7 Triliun sebagai anggotanya.

Dan pada saat yang hampir sama, Prabowo menandatangani perjanjian dagang dengan Amerika yang dinilai banyak kalangan sangat merugikan Indonesia. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bahkan menilai perjanjian dagang itu akan membunuh dunia media di Indonesia.

Baca Juga :  Catatan Lepas Gunawan Handoko, (Pensiunan PNS) : Proposal Lebaran

“Bagaimana lagi mau memberikan masukan manakala orang-orang di sekelilingnya selalu membenarkan apa yang dilakukan,” kata Yuk Nah.

Sebagai penguasa tertinggi mengambil keputusan, dan semua yang ada di kekuasaan mengiyakannya. Bahkan para tokoh agama dari 16 organisasi pun merasa perlu untuk memberikan dukungan masuknya Indonesia ke dalam BoP.

“Buah dukungannya sangat jelas, akan dibangunkan gedung lantai 40 di kawasan Thamrin,” kata Pakde No sambil terkekeh-kekeh. Walhasil, terjadilah balapan batuk susul menyusul seperti balapan Formula 1 di Mandalika.

MUI, organisasi bentukan masa Orde Baru itu, sangat bersepakat dengan masuknya Indonesia ke dalam BoP. Tetapi MUI ternyata masih lebih jelas sikapnya dalam membela Palestina setelah penyerangan Iran.

Baca Juga :  Fenomena Menjamurnya Café dan Alasan Orang Suka Ngopi di Dalamnya

Sementara organisasi Islam yang masih belum terdengar suaranya. Diam seribu bahasa, termasuk yang selama ini getol mengumpulkan dana untuk Palestina.

“Organisasi ini menyatakan dengan tegas mendesak Prabowo mencabut keanggotaan di BoP,” ujar Yuk Nah sambil mencicipi tempe mendoan gorengannya sendiri. Untunglah Yuk Nah tak berminat menggoreng isu, padahal dia memiliki kompetensi dan bersertifikat BNSP, sebagai penggoreng profesional

Desakan mundur pada akhirnya terus meluas. Seperti juga desakan dihentikannya MBG dengan berbagai alasan. Petisi online diluncurkan, dan sampai siang ini sudah ditandatangani sebanyak 10.119 orang. Dan tentu akan terus membengkak jumlahnya dalam waktu yang singkat.

Menurut para penggagas petisi ini menganggap BoP lebih untuk mengamankan kepentingan politik Amerika Serikat dan Israel, bukan untuk bagian menuju kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

Baca Juga :  Cermin Retak: Pada Rindu Kumengadu (Bag-2). Oleh : Mukhotib MD *)

“Apalagi BoP melibatkan Netanyahu sangat bertolak belakang dengan prinsip keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan universal, dan tentu saja hukum internasional,” kata Yuk Nah.

Saya sangat senang mendengarkan perdebatan mereka. Dan saya lihat Pakde Kliwon diam seribu bahasa, seperti juga para tokoh agama itu. Apalagi membaca postingan teman yang dengan tegas menyatakan, ‘Say No to War, Say No to BoP.”

Saya sih, cuma mau menunggu apakah Prabowo akan bisa menjadi penengah konflik Amerika-Israel dan Iran? (*)

*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini