nataragung.id – Bandar Lampung – Di ujung selatan Pulau Sumatra, terbentang tanah yang disiram kehangatan matahari dan diayun deburan ombak. Tanah ini menyimpan kisah tentang asal-usul, tentang harga diri, dan tentang bagaimana manusia berusaha meniti jalan antara kehormatan duniawi dan ketundukan kepada Ilahi. Inilah Bumi Lampung, rumah bagi dua rumpun adat besar: Saibatin dan Pepadun.
Konon, menurut kearifan yang terukir dalam sastra lisan Kuntara Raja Niti, sebuah naskah kuno yang dijaga rapi para tetua, nenek moyang orang Lampung datang menyeberangi lautan. Dalam naskah yang ditulis dalam aksara Lampung Kuno itu tersurat:
“Sakura-kura di laut, sakikha di bumi. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam nabi kami, Al-Qur’an kitab kami, adat pusaka kami.”
Penggalan ini bukan sekadar untaian kata. Ia adalah fondasi. Frasa “Nabi Muhammad nabi kami, Al-Qur’an kitab kami” diletakkan sejajar dengan “adat pusaka kami.” Ini menunjukkan bahwa sejak awal, masyarakat Lampung meyakini bahwa adat dan agama berjalan bergandengan, bukan berseberangan. Adat diibaratkan bingkai emas yang memperindah permata Islam.
Perjalanan panjang memisahkan masyarakat Lampung ke dalam dua kelompok adat utama. Di sepanjang pesisir barat dan selatan, berdirilah masyarakat Saibatin. Mereka adalah keturunan bangsawan, penjaga pantai, dan penguasa lautan. Sistem mereka tersusun rapi, dengan seorang Suttan atau Dalom sebagai pucuk adat. Di sini, stratifikasi sosial lebih terlihat, seperti tingkatan teras rumah panggung mereka yang melambangkan derajat.
Sementara itu, jauh di pedalaman, di dataran rendah yang subur seputar Sungai Tulangbawang dan Way Seputih, berkembang masyarakat Pepadun. Nama mereka diambil dari kursi adat pepadun atau singgasana, yang hanya boleh dinaiki oleh mereka yang telah menjalani upacara cakak pepadun. Masyarakat Pepadun lebih egaliter. Seseorang bisa naik derajatnya bukan semata karena lahir, tetapi karena usaha dan pengakuan. Dalam salah satu manuskrip koleksi Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai” disebutkan:
“Ija kok ghadu cakak pepadun, duduki di pepadun, bejuluk adek, nyandang gelar. Adokni tebaga di khagom, diandalkan jama sai teghuna.”
Artinya, jika seseorang telah menapaki jenjang adat dan menduduki pepadun, menyandang gelar kebangsawanan, maka namanya akan dikenal masyarakat, menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan. Gelar bukan untuk kesombongan, melainkan sebuah amanah.
Dari kedua rumpun adat ini, muncullah falsafah hidup yang menjadi denyut nadi orang Lampung: Piil Pesenggiri. Falsafah ini sering disederhanakan sebagai “harga diri”. Namun, lebih dari sekadar gengsi, ia adalah sebuah sistem nilai yang utuh. Ia dirajut dari lima serat utama yang juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
1. Piil Pesenggiri (Harga Diri): Ini adalah inti, semangat untuk senantiasa menjaga martabat. Orang Lampung diajarkan untuk tidak membiarkan dirinya terpuruk. Ia harus berusaha, berkarya, agar namanya harum. Namun, harga diri ini diikat oleh nilai lainnya. Seperti kata pepatah, “Hulun lunik ila-ila, hulun tuha pesinggira” (Orang kecil menjaga harga diri dengan malu, orang besar menjaga harga diri dengan kehormatan). Rasa malu menjadi tameng dari perbuatan tercela.
2. Bejuluk Beadok (Bergelar dan Bernama): Gelar adat, baik dari garis keturunan Saibatin maupun hasil musyawarah Pepadun, bukanlah sekadar aksesori. Ia adalah pengakuan masyarakat atas kapasitas seseorang. Memikul sebuah gelar berarti siap untuk “tebaga di khagom”, menjadi tumpuan harapan. Ini mengajarkan tanggung jawab sosial, sejalan dengan sila keempat Pancasila, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”
3. Nemui Nyimah (Menerima dan Memberi): Semangat gotong royong ini teramat kental. Tamu disambut dengan hangat, sesama dibantu dengan tulus. Nemui (menjemput tamu) mengajarkan keterbukaan, sementara nyimah (memberi) mengajarkan keikhlasan. Di sinilah kerendahan hati diuji. Ketika seseorang memiliki banyak harta, ia tidak boleh kikir. Memberi bukan untuk dipuji, tetapi untuk menjaga keharmonisan, selaras dengan sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.”
4. Nengah Nyappur (Bergaul dan Bersatu): Orang Lampung didorong untuk aktif dalam masyarakat, tidak menyendiri atau menyombongkan diri. Dengan bergaul, mereka belajar memahami perbedaan. Inilah fondasi persatuan, persis seperti semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dan sila ketiga Pancasila.
5. Sakay Sambayan (Gotong Royong): Ini adalah wujud nyata dari semua nilai di atas. Ketika ada kerja bakti membangun rumah, ketika ada hajatan besar, atau ketika ada musibah, semua bahu-membahu. Beban berat terasa ringan karena dipikul bersama. Ini adalah perwujudan sempurna dari nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Lalu, di manakah letak spiritualitas dan ketakwaan kepada Allah dalam semua ini? Seorang tetua adat Saibatin di Kalianda pernah berujar, “Adatni khasa, Islamni nyata. Marak di mata, ikhsan di hati.”
Artinya, adat itu istimewa, Islam itu nyata. Kehormatan adat harus tampak di mata (marak), yaitu melalui perilaku terpuji, tutur kata yang santun, dan pakaian yang sopan. Namun, semua itu harus berakar dari keikhlasan di hati (ikhsan). Jika seseorang bejuluk beadok (menyandang gelar tinggi) tetapi hatinya sombong, maka sia-sialah adatnya. Jika ia nemui nyimah (memberi) tetapi riya, maka ia telah melupakan ajaran Islam tentang keikhlasan.
Di sinilah Piil Pesenggiri menemukan titik temunya dengan Islam. Menjaga harga diri bukan berarti arogan.
Dalam Al-Qur’an Surah Luqman ayat 18, Allah berfirman yang artinya,
Wa laa tusa’-‘ir khaddaka linnaasi wa laa tamshi fil ardi maarahan innal laaha laa yuhibbu kulla mukhtaalin fakhuur
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Ayat ini menjadi pengingat. Gelar Sutan, Dalom, Batin, atau Khaja yang disandang, hanyalah titipan. Kemuliaan hakiki di sisi Allah bukanlah karena gelar, melainkan karena ketakwaan. Falsafah Piil Pesenggiri yang sejati adalah ketika seseorang berhasil menyinergikan antara marak di mata, dengan akhlak mulia yang sesuai adat, dan ikhsan di hati, dengan niat yang tulus karena Allah. Ia menjaga kehormatan di dunia, namun tak pernah melupakan kampung akhirat.
Di tanah Lampung, harga diri bukan tameng untuk menyerang, melainkan pelita untuk menerangi. Ia adalah perjalanan panjang meniti jalan lurus, di mana adat menjadi bingkai dan iman menjadi isinya, sehingga cahaya kehormatan itu bersinar terang, baik di mata manusia, maupun di hadirat Ilahi.
Sumber Inspirasi:
* Naskah Kuntara Raja Niti (salinan digital tersimpan di Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung).
* Koleksi manuskrip aksara Lampung di Museum Negeri Lampung “Ruwa Jurai”.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

