nataragung.id – Yogyakarta – Tidak ada yang tahu, seberapa banyak persediaan minyak di Indonesia. Namun, Pakde No memperkirakan tak lagi cukup banyak tersedia. Apa dasar penilaiannya?
Kepanikan. Ya, Pakde No tahu ada banyak tanda kepanikan di kalangan pejabat dengan berbagai pernyataan yang terlontar ke publik.
Sebut misalnya, pengembangan program akselerasi konversi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak ke motor listrik, dan BBM hanya untuk orang kaya. Lainnya, kebijakan Work from Home (WFH) satu hari dalam seminggu untuk menghemat Bahan Bakar Minyak (BBM).
Pernyataan lain yang juga menggelikan adalah mengenai Indonesia impor BBM dari Singapura. Padahal kita ketahui bersama, negara tetangga itu juga sebagai pengimpor minyak.
“Kenapa mereka tidak bersikap jujur, terbuka kepada publik mengenai kondisi persediaan minyak dan gas?” ujar Pakde No.
“Tidak ingin dianggap tak mampu. Sehingga pilihannya berbohong,” sahut Yuk Nah.
Yuk Nah bilang setiap berbohong pasti akan menuntut kebohongan yang lainnya. Ia ingat kata-kata Almarhum Damardjati Soepadjar, setiap membuat satu kebohongan, seseorang akan membuat dua kebohongan baru. Begitu terus kelipatannya, tak akan ada akhirnya.
Saya berpikir jika konsep bohong seperti itu benar adanya, betapa mengerikannya masa depan negeri ini. Pengelolaan negara berbasis pada tumpukan kebohongan, dan tentu saja akan menjadikan rakyat dirugikan.
Kebohongan merupakan pengkhianatan terhadap seluruh rakyat negeri ini. Mereka yang sudah memberikan kepercayaan kepada para pemimpin, tetapi justru dibohongi untuk menjaga nama baik sang penguasa. (*/30)
*) Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta.


Padahal Indonesia juga punya kilang minyak sendiri tinggal alat prosesnya di-upgrade dan SDM-nya dioptimalkan 😁