Mutiara Pagi : Wajah yang Terlihat, Hati yang Dinilai. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Ada teguran langit yang turun bukan untuk orang biasa, tetapi untuk manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi, Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Teguran itu terekam abadi dalam Surat ‘Abasa, sebagai pelajaran bagi siapa saja yang ingin menjaga kelembutan hati dan akhlaknya.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ ۝ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ ۝ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ ۝ أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ الذِّكْرَىٰ

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah engkau barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–4)

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (26) : Puasa dan Kesehatan Ruhani. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Seorang sahabat yang tidak dapat melihat, datang dengan hati yang penuh harap. Ia tidak melihat raut wajah, tidak menangkap perubahan ekspresi. Namun Allah, Dzat yang Maha Melihat, menilai sikap itu begitu besar hingga ditegur langsung dalam wahyu. Di sinilah kita seharusnya berhenti sejenak dan merenung.

Jika kepada orang yang tidak bisa melihat wajah kita saja, bermuka masam sudah ditegur oleh Allah, lalu bagaimana dengan kita yang sering memasang wajah dingin, sinis, atau meremehkan kepada orang-orang yang jelas-jelas melihat?Bukankah luka karena sikap itu lebih terasa? Bukankah hati mereka lebih mudah tersakiti?

Allah tidak hanya melihat amal besar kita, tetapi juga detail kecil dalam interaksi kita, raut wajah, cara menyapa, sikap saat orang lain datang kepada kita.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Langkah Menuju Rumah Cahaya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dalam ayat lain, Allah mengingatkan:

{ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِی ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالࣲ فَخُورࣲ }

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. Luqman: 18)

Wajah yang ramah bukan sekadar etika sosial, tapi bagian dari ibadah. Senyum bukan hanya kebaikan kecil, tapi bisa menjadi penyelamat di hadapan Allah.

Maka, jangan remehkan ekspresi. Jangan anggap ringan sikap terhadap sesama. Bisa jadi seseorang datang kepada kita dengan hati yang rapuh, berharap dihargai, namun yang ia dapat justru wajah yang mengeras, sikap yang menjauh.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kita dan Berteman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Belajarlah dari teguran dalam Surat ‘Abasa: bahwa yang kecil di mata kita, bisa besar di sisi Allah.

Dan ingatlah, bukan hanya apa yang kita katakan yang akan dihisab, tetapi juga bagaimana wajah kita berbicara tanpa suara. (235)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

#KIS
#Shobahul_khair
#Mutiara_pagi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini