Kompas Moral di Balik Layar: Menemukan Ruang Kelas di Balik Narasi Fiksi. Oleh: M. Haqu Darumiarta *)

0

nataragung.id – Kota Metro – Sering kali kita menganggap menonton film atau membaca manga hanyalah cara untuk lari sejenak dari penatnya tugas kuliah. Namun, bagi saya, ada sesuatu yang lebih mendalam di sana. Di balik layar gawai, kita sebenarnya sedang belajar tentang kehidupan melalui karakter-karakter yang kita saksikan. Karakter seperti Himmel, Thorfinn, hingga Gwan-sik bukan sekadar gambar diam atau aktor yang berakting, mereka adalah cermin yang membantu kita memahami siapa diri kita dan ingin menjadi seperti apa kita nantinya.

Karakter Fiksi sebagai Kompas Moral

Pernahkah kita merasa bimbang saat ingin menolong orang lain, lalu tiba-tiba teringat sosok pahlawan favorit? Fenomena ini sangat terasa pada karakter Himmel dari Frieren: Beyond Journey’s End. Munculnya kalimat ikonik “Karena pahlawan Himmel akan melakukan hal yang sama” menunjukkan bahwa karakter fiksi bisa menjadi standar moral bagi penontonnya.

Dalam psikologi, Albert Bandura memperkenalkan teori pembelajaran sosial (Social Learning Theory). Ia berargumen bahwa sebagian besar perilaku manusia dipelajari melalui observasi dan peniruan model. Di era modern, model ini tidak lagi harus berupa sosok fisik yang hadir di hadapan kita. Karakter seperti Himmel dari Frieren: Beyond Journey’s End, misalnya, memberikan pelajaran tentang esensi kepahlawanan yang bukan didasarkan pada kekuatan fisik, melainkan pada kebaikan-kebaikan kecil yang membekas di hati orang lain.
Melalui Himmel, kita belajar bahwa “menjadi pahlawan” berarti menjadi seseorang yang kehadirannya membuat dunia sedikit lebih baik bagi orang di sekitarnya. Ini adalah bentuk pedagogi yang melampaui teori moralitas yang kaku; ia adalah moralitas yang hidup dan dirasakan.

Baca Juga :  86 CPNS Resmi Jadi PNS di 2026, Awal Baru Pengabdian untuk Kota Metro

Krisis Makna dan Pahlawan sebagai Jangkar

Di tengah gempuran ekspektasi sosial dan media sosial yang sering membuat kita merasa “tertinggal”, mahasiswa sering kali mengalami krisis makna atau perasaan hampa, apa yang dalam psikologi sering disebut sebagai existential vacuum. Kita merasa seperti berjalan tanpa arah di tengah rutinitas akademik yang melelahkan. Karakter-karakter ini memberikan narasi tentang bagaimana menghadapi kegagalan, kehilangan, dan kesepian. Pendidikan formal mungkin mengajarkan kita cara menghitung atau menganalisis, tetapi narasi seperti Frieren atau kisah epik lainnya mengajarkan kita cara merasakan dan memaknai waktu yang terbatas.

Di sinilah karakter fiksi hadir sebagai jangkar. Saat dunia nyata terasa terlalu bising dan menuntut, sosok seperti Thorfinn (Vinland Saga) atau Musashi Miyamoto (Vagabond) memberikan kita alasan untuk bertahan. Perjalanan Thorfinn dari amarah (pendendam) menuju prinsip “I have no enemies” memberikan pelajaran berharga bahwa seburuk apa pun masa lalu kita, kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Mereka menjadi pegangan agar kita tidak hanyut dalam keputusasaan, mengingatkan bahwa setiap perjuangan sekecil apa pun memiliki arti.

Baca Juga :  Kota Metro Kirim Empat Pasang Capaskibraka Untuk Berlaga Dalam Seleksi Tingkat Provinsi Lampung. Berikut Nama dan Asal Sekolahnya

Proses identifikasi penonton dengan karakter-karakter ini memungkinkan terjadinya eksperimen mental. Penonton tidak hanya melihat Thorfinn menderita, mereka ikut merasakan keputusasaannya dan, pada akhirnya, ikut menginternalisasi nilai-nilai pengampunan yang ia temukan. Inilah yang disebut sebagai vicarious learning. Belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami penderitaan yang sama secara langsung. Karakter fiksi yang kita idolakan berfungsi sebagai prototipe dari sosok yang ingin kita capai. Mereka bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen untuk membentuk etika dan empati dalam dunia nyata.

Gwan-sik: Ketulusan di Tengah Pahitnya Dunia

Dimensi pahlawan kita menjadi lengkap dengan hadirnya Gwan-sik dalam drama When Life Gives You Tangerines. Jika pahlawan lain tampak gagah dengan pedangnya, Gwan-sik justru tampil dengan ketulusan yang sunyi. Ia adalah sosok yang setia mendukung tanpa perlu panggung atau pujian.

Bagi saya, Gwan-sik adalah teladan tentang integritas dan daya tahan (resiliensi). Di dunia yang sekarang penuh dengan tuntutan untuk “pamer” pencapaian, Gwan-sik mengingatkan bahwa tetap menjadi orang baik saat tidak ada orang yang melihat adalah sebuah kemuliaan. Ia menunjukkan bahwa hidup mungkin pahit, tapi itu bukan alasan bagi kita untuk berhenti menjadi orang yang tulus dan jujur pada diri sendiri.

Baca Juga :  Perkuat Legalitas dan Pelayanan, Pemkot Metro dan Kejari Metro Perpanjang MoU Penanganan Hukum

Penutup: Menghidupkan Nilai dalam Keseharian

Mempercayai bahwa manusia bisa belajar melalui karakter film bukan berarti kita sedang berhalusinasi. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa sebuah narasi punya kekuatan untuk mengubah cara pandang seseorang. Kita tidak hanya menonton alur ceritanya, kita sedang menyerap nilai-nilainya untuk mengisi kekosongan makna dalam diri kita. Mereka terus hidup dalam cara kita berpikir, cara kita memperlakukan orang lain, dan cara kita menghadapi tantangan hidup.

Pada akhirnya, pahlawan seperti Himmel atau Gwan-sik tidak pernah benar-benar pergi saat layar dimatikan. Mereka terus hidup dalam cara kita berpikir dan bertindak. Karena sering kali, satu contoh nyata dari sebuah karakter jauh lebih membekas di hati daripada ribuan nasihat tanpa bukti. Kita belajar menjadi manusia, justru dari mereka yang “tidak nyata”.

*) Penulis adalah Mahasiswa semester 2 UIN Jurai Siwo Lampung. Menulis ini untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan yang di ampu oleh Bapak Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag, MA.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini