nataragung.id – Bandar Lampung – Seri ketujuh mengulik peran rumah adat dan keluarga sebagai ruang pertama pembentukan karakter. Melalui kisah keseharian, petuah leluhur, dan keselarasan dengan QS. At-Tahrim: 6 serta nilai Pancasila, tulisan ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak dimulai di bangku sekolah, melainkan di beranda rumah sendiri. Disajikan dengan bahasa yang ringan dan mendidik, seri ini mengajak setiap keluarga kembali menjadikan rumah sebagai madrasah pertama yang melahirkan generasi berakhlak.
Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Tanggamus, rumah panggung kayu ulin masih berdiri tegak meski hujan dan angin telah mengujinya selama puluhan tahun. Tiangnya kokoh, atapnya menjulang, dan ruang tengahnya selalu terbuka untuk keluarga. Di situlah, sebelum anak-anak mengenal huruf dan angka, mereka sudah belajar tentang hormat, sabar, dan tanggung jawab. Rumah adat bagi orang Lampung bukan sekadar tempat berteduh. Ia adalah ruang belajar yang tak tertulis, sekolah pertama yang mengajarkan cara hidup.
Jejak tradisi ini tercermin dalam silsilah Marga Cempaka, puak Pepadun yang sejak abad ketujuh belas dikenal sebagai penjaga tata kelola keluarga dan adat.
Menurut Kitab Silsilah Cempaka yang ditulis dalam aksara kuno dan disimpan secara turun-temurun oleh tetua marga, leluhur mereka bernama Puyang Ratu Diwaya sengaja membangun rumah dengan tata ruang yang bermakna. Ruang depan untuk menerima tamu dan musyawarah, ruang tengah untuk keluarga inti, dan ruang belakang untuk tempat menyimpan hasil bumi serta mengajarkan keterampilan kepada anak-anak. Dalam naskah tersebut tertulis prinsip yang masih dipegang teguh: “Lamban nyakhi sekolah pertama, tiyang tua nyakhi guru pertama, adok nyakhi pelajaran pertama, jangan sampai rumah jadi kosong dari adab.”
Makna kutipan ini perlu dibedah perlahan agar esensinya benar-benar terserap.
Kata lamban atau rumah adat dimaknai sebagai ruang pendidikan, bukan hanya struktur fisik yang melindungi dari cuaca. Frasa “tiyang tua nyakhi guru pertama” menegaskan bahwa orang tua adalah pendidik utama, tempat anak pertama kali meniru perilaku, mendengar nasihat, dan merasakan kasih sayang yang tulus. “Adok nyakhi pelajaran pertama” mengingatkan bahwa tata krama, etika bicara, dan sikap hormat harus ditanamkan sebelum ilmu duniawi diajarkan di luar rumah. Kalimat penutup, “jangan sampai rumah jadi kosong dari adab”, menjadi peringatan keras bahwa kemewahan bangunan tidak ada artinya jika nilai kesopanan, kejujuran, dan kasih sayang telah hilang dari dalamnya.
Dalam tradisi Lampung, rumah yang baik adalah yang suaranya penuh doa, langkahnya teratur, dan percakapannya penuh penghormatan.
Tata ruang dan nilai dalam rumah adat tidak pernah lepas dari falsafah hidup masyarakat Lampung. Pi’il Pesenggiri diajarkan lewat cara orang tua menegur anak dengan halus namun tegas, menjaga harga diri keluarga tanpa merendahkan martabat anak. Sakay Sambayan terlihat jelas saat anggota keluarga membagi tugas tanpa menunggu diperintah, saling membantu menyapu, memasak, atau menjaga adik yang lebih kecil. Bejuluk Beadok ditanamkan dengan mengingatkan bahwa nama keluarga akan baik atau buruk tergantung perbuatan setiap anggota di rumah. Nengah Nyappur dan Nemui Nyimah dilatih lewat kebiasaan menyambut saudara yang berkunjung, berbagi makanan tanpa pelit, dan menjaga lisan dari gosip di ruang keluarga. Kelima nilai ini menjadi kurikulum tak tertulis yang diajarkan setiap hari lewat teladan nyata.
Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam yang telah lama menyatu dengan kehidupan masyarakat Lampung. Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yâ ayyuhalladzîna âmanû qû anfusakum wa ahlîkum nâraw wa qûduhan-nâsu wal-ḫijâratu ‘alaihâ malâ’ikatun ghilâdhun syidâdul lâ ya‘shûnallâha mâ amarahum wa yaf‘alûna mâ yu’marûn
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini bukan ancaman semata, melainkan tanggung jawab nyata yang diemban setiap kepala keluarga. Menjaga keluarga dari api neraka berarti mendidik mereka dengan akhlak, mengajarkan batas halal dan haram, serta menciptakan suasana rumah yang penuh ketenangan, zikir, dan saling mengingatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa setiap pemimpin adalah pengemban amanah, dan ayah atau suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Dalam konteks adat Lampung, rumah menjadi benteng pertama tempat akhlak ditempa. Doa sebelum makan, salam saat masuk rumah, dan nasihat sebelum tidur bukan sekadar rutinitas budaya, melainkan fondasi spiritual yang melindungi generasi dari kerusakan zaman.
Dalam kerangka kebangsaan, pendidikan karakter di rumah adalah cermin langsung sila pertama dan kedua Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dari kebiasaan keluarga beribadah bersama, mengajarkan rasa syukur, dan menghormati perbedaan keyakinan dalam satu atap. Kemanusiaan yang adil dan beradab tumbuh dari cara orang tua memperlakukan anak dengan kasih sayang, mengajarkan empati, dan melatih tanggung jawab sosial sejak dini. Ketika rumah menjadi tempat belajar menghargai sesama, maka masyarakat akan melahirkan warga negara yang peduli, jujur, dan siap menjaga persatuan.
Profil masyarakat Pancasila tidak dibangun dari kebijakan di atas kertas, melainkan dari kebiasaan kecil yang dipraktikkan setiap hari di ruang keluarga.
Di era di mana layar gawai sering kali mengambil alih waktu kebersamaan, peran rumah sebagai sekolah kehidupan semakin teruji. Bukan berarti kita harus kembali tinggal di rumah panggung kayu secara harfiah. Esensinya terletak pada cara kita mengisi ruang keluarga dengan nilai yang tepat. Mengobrol tanpa gawai di meja makan, mendengar keluh kesah anak tanpa menghakimi, dan memberi contoh langsung tentang kejujuran serta kerja keras adalah bentuk pelestarian yang nyata. Rumah yang penuh adab akan melahirkan generasi yang tidak mudah tersesat oleh tren sesaat atau tekanan pergaulan yang merusak.
Kisah Puyang Ratu Diwaya mungkin telah menjadi bagian dari ingatan kolektif, namun pesan yang ditinggalkannya masih bernapas di setiap rumah yang masih menjunjung tinggi nilai keluarga. Pendidikan karakter tidak perlu mahal atau rumit. Ia dimulai dari cara kita menyapa, menasihati, dan mendampingi orang-orang yang kita cintai. Selama keluarga masih menjadikan rumah sebagai tempat belajar hidup, bukan sekadar tempat tidur dan istirahat, maka tradisi ini tidak akan pernah benar-benar ditinggalkan. Ia hanya menunggu kita untuk kembali menyadarinya, satu langkah, satu percakapan, dan satu teladan dalam setiap hari yang kita jalani.
Sumber Referensi
* Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama Republik Indonesia.
* Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Penerbit Darus Sunnah, cetakan terverifikasi.
* Kitab Silsilah Cempaka dan Naskah Tata Ruang Lamban Adat (Arsip fisik tersimpan di Museum Lampung dan Lembaga Adat Marga Lampung, salinan digital terverifikasi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung).
* Himpunan Falsafah Hidup Masyarakat Adat Lampung, Edisi Resmi Majelis Adat Lampung, 2020.
* Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbudristek.
* Dokumen Sejarah dan Silsilah Marga Lampung (Koleksi Perpustakaan Daerah Lampung, akses publik terverifikasi).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

