Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga Seri 1: Suku dan Marga, Pondasi Masyarakat Lampung Kuno. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di bawah langit senja yang berwarna jingga, suara gemericik air Way (Sungai) Seputih seakan menemani desahan angin yang berhembus pelan. Seorang tua, Pak Dalang, duduk di serambi rumahnya, matanya yang keriput menatap jauh ke arah hamparan sawah yang mulai menguning. Di sampingnya, seorang pemuda, Ari, duduk bersila, penuh hormat.
“Pak Dalang, semua orang di tiyuh (kampung) kami bilang marga kami, Selagai, adalah bagian dari Suku Pubian. Tapi apa artinya itu semua? Darimana asal usulnya?” tanya Ari penuh rasa ingin tahu.
Pak Dalang tersenyum, mengulum sirihnya perlahan. “Nak, sebelum kau memahami dirimu, kau harus paham tanah tempat kau berpijak. Bayangkan sebuah pohon raksasa, kokoh menjulang. Itulah Pepadun kita. Ia tidak akan tegak tanpa akar yang menghujam dalam. Suku dan marga itulah akar-akar itu.”
Dia melanjutkan, suaranya bergetar penuh makna, laksana mantra yang diturunkan dari nenek moyang. “Dahulu kala, sang penguasa alam, Ratu Darah Putih, menurunkan empat pilar penyangga bumi di Ulu Sekala Brak. Keempat pilar itu kemudian menjelma menjadi manusia-manusia pertama yang memiliki kearifan dan keberanian. Mereka dan keturunannya menyebar, membuka hutan, mendirikan perkampungan, dan menata kehidupan. Setiap kelompok keturunan itulah yang kemudian kita kenal sebagai Suku. Mereka adalah pondasi pertama. Lalu, dari setiap suku, tumbuhlah cabang-cabang yang kuat, yang kita sebut Marga. Dan kita, anak-anak Selagai, adalah salah satu cabang yang kokoh dari pohon besar bernama Pubian.”
Ari terdiam, mencerna setiap kata. “Jadi, kita semua bersaudara?”
“Bersaudara dalam naungan adat yang sama, Nak,” jawab Pak Dalang. “Dan untuk merayakan ikatan persaudaraan itu, nenek moyang kita menciptakan sebuah tarian. Sebuah tarian yang bukan sekadar gerak tubuh, tetapi adalah doa, adalah pengesahan, adalah pengingat bahwa kita satu. Itulah Cangget. Tarian yang menyatukan marga-marga.”
Mata Ari berbinar. Ia mulai memahami bahwa identitasnya lebih dari sekadar nama; ia adalah bagian dari sebuah narasi besar yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Pengantar fiksi di atas menggambarkan dengan jelas bagaimana konsep suku dan marga bukanlah sekadar klasifikasi administratif, melainkan sebuah realitas hidup yang mengakar dalam dan menjadi penuntun jalan hidup masyarakat adat Lampung. Untuk memahami keagungan Tari Cangget sebagai sebuah fenomenon pemersatu, kita harus terlebih dahulu menyelami fondasi masyarakat yang melahirkannya: sebuah struktur sosial yang tertata rapi dan penuh makna filosofis.
Lima Suku Induk: Pillar Peradaban Lampung
Masyarakat adat Lampung, khususnya yang menganut sistem adat Pepadun, secara tradisional terbagi dalam beberapa kelompok besar yang disebut Suku atau Buu. Pembagian ini bukan berdasarkan garis keturunan yang sempit, melainkan merupakan pengelompokan politis-budaya yang besar. Kelima suku induk tersebut adalah:
1. Suku Megow Pak: Suku ini sering dianggap sebagai salah satu yang tertua. Nama ‘Megow Pak’ konon berarti “yang mula-mula memikul tugas”. Mereka adalah pionir, pembuka wilayah, dan penjaga tradisi paling purba.
2. Suku Telu Suku (Tiga Suku): Seperti namanya, suku ini merupakan konfederasi dari tiga kelompok besar. Mereka melambangkan prinsip persatuan dalam keberagaman, di mana tiga entitas bersatu dalam satu ikatan adat yang kuat.
3. Suku Skala Brak: Ini adalah suku yang erat kaitannya dengan kemegahan kerajaan Skala Brak di Sekala Brak, Lampung Barat. Mereka dianggap sebagai pewaris tahta dan tradisi kebangsawanan. Skala Brak bukan hanya nama suku, tetapi juga pusat spiritual dan politik penting dalam sejarah Lampung.
4. Suku Pubian: Suku Pubian dikenal sebagai kelompok yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan hukum. Mereka adalah penjaga ketertiban dan kearifan lokal. Seperti dalam cerita Pak Dalang, marga Selagai adalah bagian dari suku ini.
5. Suku Sungkay Bunga Mayang: Suku ini melambangkan keindahan, kesuburan, dan kemakmuran. Nama ‘Bunga Mayang’ sendiri merujuk pada simbol kehidupan dan keanggunan.
Lima suku ini membentuk semacam “negara” atau “konfederasi” budaya. Masing-masing memiliki wilayah, otoritas, dan otonomi adatnya sendiri, tetapi terikat oleh sebuah filosofi besar yang disebut Piil Pesenggiri, sebuah konsep harga diri, kehormatan, dan etika dalam pergaulan sosial.
Marga: Unit Sosial-Politik yang Nyata.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Busana Sederhana dan Nilai Kesopanan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Di bawah level Suku, terdapat unit yang lebih konkrit dan langsung mengatur kehidupan sehari-hari: Marga. Konsep Marga di Lampung berbeda dengan klan atau marga di etnis lain yang hanya menandakan garis keturunan. Marga di Lampung adalah sebuah unit sosial-politik yang otonom, suatu “negeri kecil” yang terdiri dari kumpulan beberapa Tiyuh (kampung atau desa).
Setiap Marga dipimpin oleh seorang Penyimbang atau kepala adat. Penyimbang ini bukanlah raja absolut, melainkan primus inter pares, yang pertama di antara yang sederajat. Ia dipilih dari kalangan keluarga inti marga yang dianggap paling bijaksana, paling tahu adat, dan paling mampu memimpin. Keputusannya, yang disebut dengan Segata, adalah hukum yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota marga.
Fungsi Marga sangat vital. Ia adalah:
* Pemerintahan Otonom: Mengatur pemerintahan, pertahanan, dan keamanan wilayahnya.
* Lembaga Hukum: Menyelesaikan sengketa dan menjatuhkan sanksi adat.
* Kesatuan Ekonomi: Mengelola dan mendistribusikan sumber daya alam dalam wilayahnya.
* Entitas Budaya: Menjadi wadah pelaksanaan seluruh ritual dan upacara adat.
Contoh Marga-Marga Awal dan Wilayah Kekuasaannya
Setiap Suku Induk memiliki banyak marga di bawahnya. Beberapa marga besar dan berpengaruh pada masa lalu antara lain:
* Dalam Suku Pubian: Marga Selagai di daerah sekitar Labuhan Maringgai, Tulang Bawang, dikenal sebagai marga yang teguh memegang adat. Marga ini menguasai wilayah yang subur dan strategis secara perdagangan.
* Dalam Suku Skala Brak: Marga Nyerupa adalah salah satu marga inti dan dianggap sangat dekat dengan trah kerajaan. Wilayah kekuasaannya berada di sekitar Sekala Brak, Heartland kebudayaan Lampung. Marga lainnya adalah Marga Benawang, yang wilayahnya luas.
* Dalam Suku Megow Pak: Marga Tegamoan dan Marga Umpu adalah dua marga yang disegani. Mereka menguasai wilayah-wilayah tua yang menjadi jalur persebaran awal masyarakat Lampung.
* Dalam Suku Sungkay Bunga Mayang: Marga Menanga dan Marga Kunang adalah marga-marga besar yang wilayahnya dikenal subur dan makmur.
Kekuasaan suatu marga diukur dari luas wilayah Tiyuh-nya, jumlah Sai Batin (kepala kampung) yang berada di bawah perintah Penyimbang Marga, serta ketaatan dan kemakmuran warganya.
Filosofi Dibalik Struktur: Piil Pesenggiri sebagai Pengikat
Struktur yang demikian hierarkis dan teratur ini tidak bertujuan untuk menindas, melainkan untuk menciptakan harmoni dan ketertiban. Filosofi dasarnya adalah Piil Pesenggiri. Piil Pesenggiri adalah etika hidup yang mencakup:
* Bejuluk Beadek (Bergelar dan Beradat): Penekanan pada identitas yang jelas melalui gelar adat, yang menunjukkan posisi seseorang dalam struktur suku dan marga.
* Nemui Nyimah (Menerima Tamu dengan Ramah): Kewajiban untuk selalu terbuka dan menghormati orang lain, termasuk marga lain.
* Nengah Nyappur (Aktif Bersosialisasi): Keharusan untuk berinteraksi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
* Sakai Sambayan (Tolong Menolong): Semangat gotong royong dalam satu marga dan antar marga.

Baca Juga :  Negara Diam, Budaya Lampung Hilang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam konteks ini, Marga adalah wujud nyata dari penerapan Piil Pesenggiri. Seorang Penyimbang memimpin dengan bijaksana (beadek), marga menerima tamu dari marga lain dengan hormat (nemui nyimah), warga aktif dalam musyawarah marga (nengah nyappur), dan bersama-sama membangun balai adat atau menggarap sawah (sakai sambayan).
Kitab Kuntara Raja Niti: Pedoman dalam Bernegara dan Bermarga
Kehidupan bermarga tidak berjalan atas dasar kesepakatan lisan semata. Masyarakat adat Lampung memiliki kitab undang-undang adatnya sendiri, yang dikenal sebagai Kuntara Raja Niti.

Kitab ini merupakan kompilasi aturan, filsafat, dan pedoman hidup yang mengatur segala aspek, dari hukum pidana hingga tata krama.
Salah satu kutipan penting dari Kuntara Raja Niti yang menggambarkan hubungan antara individu, marga, dan suku adalah: “Adat pepatuh, hukum hukumon, semengat semengaton, piil pesenggiri, jama jamaan.”
(Analisis Kutipan):
* Adat pepatuh: Adat adalah sesuatu yang telah tetap, paten, dan menjadi panduan utama. Ini merujuk pada aturan-aturan dasar seperti sistem suku dan marga.
* Hukum hukumon: Hukum harus ditegakkan. Ini adalah aturan operasional yang diterapkan dalam kehidupan bermarga.
* Semengat semengaton: Semangat harus dijaga. Ini adalah motivasi spiritual untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai adat.
* Piil pesenggiri: Seperti telah dijelaskan, ini adalah etika dasarnya.
* Jama jamaan: (Harus) bermasyarakat. Ini adalah perintah bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri; ia harus menjadi bagian dari sebuah komunitas, dalam hal ini adalah Marga.
Kutipan ini dengan jelas menempatkan kehidupan bermasyarakat (jama jamaan) sebagai suatu keharusan yang dilandasi oleh adat, hukum, semangat, dan etika. Marga adalah manifestasi dari “jama jamaan” tersebut. Tanpa marga, seseorang kehilangan identitas dan tempat berpijak dalam kosmologi sosial Lampung.
Kesimpulan: Fondasi untuk Sebuah Tarian Suci.
Dengan memahami kompleksitas dan kedalaman struktur sosial Suku dan Marga, kita dapat mulai menghargai mengapa sebuah tarian seperti Cangget memiliki peran yang begitu sentral. Cangget tidak pernah ditampilkan untuk hiburan semata. Ia adalah ritual pemersatu.
Pertunjukan Cangget dalam sebuah acara adat, seperti Cangget Bakha (tarian untuk merayakan panen) atau Cangget Penganggik (tarian dalam pernikahan adat), adalah saat di mana sebuah marga memamerkan keindahan, ketertiban, dan kesatuan mereka. Setiap gerakan yang tertib dan synchrons mencerminkan ketaatan pada adat. Setiap syair yang dinyanyikan (hahiwang) seringkali berisi silsilah, sejarah, dan nilai-nilai marga.
Lebih dari itu, ketika berbagai marga berkumpul dan saling menampilkan Cangget-nya, yang terjadi adalah sebuah dialog budaya. Mereka saling mengakui eksistensi satu sama lain, mempererat persaudaraan antar marga dalam satu suku, bahkan antar suku. Cangget menjadi media diplomasi, menunjukkan kekuatan dan kearifan suatu marga tanpa konflik fisik.
Oleh karena itu, sebelum kita menyelami gerak gemulai penari Cangget, kita harus melihatnya sebagai puncak gunung es dari sebuah peradaban yang sangat terstruktur. Setiap hentakan kaki penari adalah deklarasi keberadaan sebuah marga. Setiap lirikan mata yang tertib adalah cerminan dari ketaatan pada Penyimbang dan adat. Dan setiap dentuman gendang yang berirama adalah denyut nadi dari sebuah pondasi sosial yang telah dibangun dengan kokoh selama ratusan tahun, pondasi yang bernama Suku dan Marga.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 7: Merangkul Zaman, Piil Pesenggiri di Tengah Globalisasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung.
2. Suryadi, A. (2004). Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Lampung sebagai Sumber Pengetahuan Hukum dan Kemasyarakatan. Lenggang Musi: Bandar Lampung.
3. Adon Syahputra, dkk. (2018). Piil Pesenggiri: Filosofi Hidup Masyarakat Lampung. Universitas Lampung Press: Bandar Lampung.
4. Sardi, A., & Sundari, S. (2020). “Struktur Sosial Masyarakat Adat Lampung Pepadun: Kajian tentang Kepemimpinan Penyimbang”. Jurnal Socius, 9(2), 123-135.
5. Wijaya, H. (2015). “Tari Cangget dalam Konteks Sosial-Budaya Masyarakat Lampung”. Jurnal Kajian Seni, 2(1), 45-60.
6. Transkripsi dan terjemahan Kuntara Raja Niti dari koleksi naskah kuno Museum Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini