Filosofi Hidup dan Visi “Taman Kupu-kupu” Radityo Egi: Lampung Selatan Bukan Cuma Singgah, Tapi Betah

0

nataragung.id – Lampung Selatan – Dalam forum diskusi terbuka bertajuk Pentahelix yang digelar secara rutin setiap malam Kamis, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, kembali membagikan pemikiran-pemikiran mendalam, gaya kepemimpinan, hingga visi besarnya untuk memajukan daerah.

Acara yang terbuka untuk umum ini dilaksanakan di Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan pada pukul 20.00 WIB, menjadi wadah silaturahmi dan pertukaran pikiran antara pemimpin daerah dengan seluruh elemen masyarakat, tanpa sekat dan tanpa jarak.

Gaya Kepemimpinan: Percayakan pada Ahlinya

Dalam kesempatan tersebut, Radityo Egi menegaskan prinsip kerjanya yang sederhana namun efektif. Ia menepis anggapan bahwa segala urusan harus diatur secara sentralistik dari kantornya.

“Tanpa PETA, tanpa PETA gitu lho. Kalau ada suara bilang ‘Bupati yang ngatur’, gua aja nggak kenal kok orangnya. Kalau dia yang jadi Bupati baru curiga-curiga. Emangnya saya tahu detail di setiap tempat?” ungkapnya santai namun tegas.


“Saya tidak tahu mana wilayah yang bagus, mana yang perlu dibenahi di situ-situ. Makanya daripada saya sok tahu, mending saya kasih ke yang tahu aja dah. Siapa yang tahu ya silakan bekerja, nggak ada pembatasan. Kalau yang mau berbuat baik ya silakan, yang penting hasilnya untuk masyarakat,” tambahnya.

Baca Juga :  Length of Stay Hanya 3 Jam, Pemkab Lampung Selatan Siapkan Ekosistem Wisata Terintegrasi Agar Wisatawan Betah 3 Hari

Visi Transformasi: Menjadi “Taman Kupu-kupu”

Bupati Radityo Egi memaparkan visi besarnya mengenai transformasi daerah. Ia ingin Lampung Selatan berubah wajah menjadi tempat yang sangat nyaman, kondusif, dan menarik.

“Apa yang ingin saya sampaikan, saudara-saudara semua, Lampung Selatan sedang bertransformasi. Kita pengen nanti suatu hari ini analoginya menjadi sebuah Taman Kupu-kupu,” paparnya.

Ia menjelaskan makna filosofis dari visi tersebut. “Yang mana kupu-kupu itu datang, dia tidak hanya visit atau singgah sebentar, tapi dia bakal stay di sini. Dia betah di sini, dia nyaman di sini. Sehingga dia sendiri yang akan bercererita.

Tegas! Radityo Egi Larang Tim dan Kelompoknya Manfaatkan Kedekatan untuk Hal Negatif: Roda Itu Berputar

Dalam kesempatan itu Bupati Egi juga memberikan pesan keras dan peringatan tegas kepada seluruh pihak yang merasa menjadi bagian dari tim atau lingkaran dekatnya. Ia menegaskan agar tidak ada yang memanfaatkan kedekatan atau nama besarnya untuk tindakan yang merugikan orang lain atau berbuat seenaknya.

“Makanya melalui forum ini saya juga berpesan kepada siapapun yang merasa bagian dari circle, merasa bagian dari tim saya ini: dalam konteks jangan sampai jumawa. Jangan manfaatkan kedekatan dengan saya untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat,” tegas Radityo Egi.

Baca Juga :  Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama hadiri Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1947

“Buat apa?, Masa saya jadi Bupati juga ada waktunya. Pakailah hal tersebut untuk hal-hal yang positif. Jangan merasa dekat dengan Bupati, lalu merasa bisa membodohi orang, berbuat seenaknya di desa atau di tempat lain. Itu salah. Ingat, roda itu berputar,” tambahnya dengan tegas.

Jangan Rendah Diri, Tapi Rendah Hati

Bupati juga menginginkan agar setiap individu mampu mengeluarkan potensi terbaiknya tanpa merasa minder.

“Dan juga jangan merasa bahwa yang tidak berada di posisi itu akhirnya merasa rendah diri, sehingga potensi yang dimiliki tidak muncul dan tidak keluar. Kita harus bisa explore kemampuan kita,” ujarnya.

Hal ini ia ilustrasikan dari pengalaman nyata perjalanan daerahnya. Awalnya, Lampung Selatan belajar ke Banyuwangi, namun setahun kemudian justru banyuwangi dan daerah lain yang datang belajar ke Lampung Selatan, khususnya terkait pengelolaan SBP yang kondusif.

“Di awal kami yang belajar ke sana, saya boyong rombongan. Tidak disangka setahun kemudian cashback, mereka belajar ke kita. Mereka ingin tahu bagaimana kita mengelola daerah sehingga kondusif, tidak banyak demo, stabil, tenang, dan iklimnya sehat. Ini menjadi pembelajaran bersama,” paparnya.

Baca Juga :  UKP Zita Anjani Turun ke Pasar Sidomulyo, Cek Harga Sembako dan Dengarkan Langsung Suara Pedagang

Analogi Restoran dan Jabatan Titipan

Radityo Egi membandingkan jabatan dengan sebuah bisnis. Menurutnya, seringkali orang berani berbuat semena-mena hanya karena mengenal pemiliknya.

“Bagi saya, jabatan itu titipan. Biasa lah, kan kalau kita punya teman yang punya restoran, biasanya lebih berani bilang: ‘Oh itu restoran temen gue, lu dateng sana aja, gampang lah dapet diskon’. Padahal tindakan itu merugikan yang punya owner-nya. Benar nggak?” tanyanya retoris.

Komitmen Pemerintahan Inklusif dan Terbuka

Menutup pesannya, Bupati Radityo Egi kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan konsep Pentahelix dan pemerintahan yang inklusif.

“Saya berkomitmen dari awal sampai hari ini menguatkan pemerintahan yang inklusif dan terbuka. Indikatornya? Saya membagikan aktivitas kegiatan saya melalui media sosial. Saya tidak tutup mata, ada yang ngomong, kritik, menghujat, memuji, silakan saja. Itu demokrasi,” ungkapnya.

“Namun prinsip saya tetap satu, saya menjalankan amanah ini dengan niat baik dan hati yang bersih,” pungkas Bupati Radityo Egi Pratama. (*/SMh)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini