Seri Buku: Makanan Khas Lampung Tempoyak dalam Sakay Sambayan, Rasa Asam, Rasa Kebersamaan Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami di Kampung Tiyuh Karta, Tulang Bawang Udik, memiliki kebiasaan yang tak pernah lekang oleh waktu. Setiap kali musim durian tiba, seluruh kampung bergerak bak semut yang menemukan makanan. Bukan untuk berebut, melainkan untuk bekerja bersama.
Di bawah rindangnya pohon-pohon tua, seorang Punyimbang, tetua adat yang disegani karena kebijaksanaannya, mengumpulkan warga.
“Anak cucuku,” katanya sambil tersenyum, “durian telah jatuh. Mari kita buat tempoyak bersama.”
Tak ada yang menolak. Pemuda-pemuda memanjat pohon, para ibu mengumpulkan buah yang jatuh, sementara anak-anak berlarian membawa daun pisang untuk alas. Bahkan para Punyimbang dari berbagai marga turut duduk melingkar, mengupas durian dengan sabar.

Di tengah kegembiraan itu, seorang pemuda bernama Junjungan bertanya, “Nyai, mengapa kita harus membuat tempoyak bersama? Bukankah lebih mudah masing-masing keluarga membuat sendiri di rumah?”
Sang Punyimbang tertawa kecil. “Karena tempoyak mengajarkan kita tentang Sakay Sambayan, Nak. Coba kau perhatikan, durian ini terlalu banyak untuk satu keluarga. Aromanya terlalu kuat untuk satu dapur. Asamnya terlalu tajam untuk ditanggung sendiri. Tapi ketika kita membuatnya bersama, rasa asam itu berubah menjadi kenikmatan yang menyatukan.”

Bagi masyarakat Lampung, tempoyak bukanlah sekadar durian yang difermentasi. Ia adalah simbol perjalanan waktu, kesabaran, dan kebersamaan. Daging buah durian yang matang sempurna dibuang bijinya, lalu dicampur dengan garam dan dibiarkan berfermentasi selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Proses ini mengubah rasa manis durian menjadi asam yang khas, tajam di lidah, tetapi hangat di hati.
Tempoyak menjadi bahan utama dalam berbagai hidangan Lampung, terutama seruit, di mana ia bercampur dengan ikan bakar, sambal terasi, dan lalapan segar. Namun sebelum menjadi bumbu yang lezat, tempoyak adalah hasil kerja kolektif.
Dalam budaya Sakay Sambayan, pembuatan tempoyak selalu dilakukan bersama-sama sebagai bagian dari begawi, kegiatan adat yang mengumpulkan seluruh komunitas.

Berdasarkan naskah kuno yang tersimpan di kediaman adat Pepadun, disebutkan: “Nihan sakai sambayan tiyuh karta: mengan muakhi, mengan sai mak lulang, mengan sai mak ngelapah. Tempoyak ghik jadi saksi.”
Maknanya: “Inilah gotong royong di kampung Karta: makan bersama, bersaudara tanpa memandang kulit, tanpa membeda-bedakan. Tempoyak menjadi saksinya.”
Kutipan ini mengajarkan bahwa tempoyak bukan hanya makanan. Ia adalah saksi bisu dari kebersamaan lintas marga dan lintas golongan, baik Saibatin maupun Pepadun.
Dalam falsafah hidup orang Lampung, Sakay Sambayan adalah salah satu pilar utama selain Pi’il Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Juluk-Adok. Kata Sakay berarti memberikan sesuatu kepada orang lain dalam bentuk barang atau jasa, meskipun di kemudian hari ada imbalan. Sedangkan Sambayan berarti memberi tanpa pamrih, murni untuk kepentingan bersama, tanpa mengharap balasan.

Baca Juga :  Buku Seri Musyawarah Mufakat, Cara Lampung Memutuskan Perkara. Seri 3: Merangkul Masyarakat (Nengah Nyappur & Nemui Nyimah). Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Gotong royong dalam masyarakat Lampung bukan sekadar kegiatan fisik. Ia adalah ikatan batin yang diwariskan turun-temurun. Dalam setiap upacara adat Begawi, pesta adat untuk pemberian gelar dalam masyarakat Pepadun, Sakay Sambayan menjadi roh yang menghidupkan seluruh rangkaian acara. Mulai dari menyiapkan hidangan, membangun tataring (panggung adat), hingga membersihkan kampung setelah pesta, semua dilakukan bersama.
Bahkan dalam masyarakat Saibatin yang lebih hierarkis, semangat kebersamaan ini tetap hidup dengan sebutan khepot delom mufakat. Intinya sama: manusia tidak dapat hidup sendiri.

Dalam sebuah manuskrip tua Kuntara Raja Niti yang tersimpan di kediaman Punyimbang tulang bawang, tertulis: “Hujani ghik sahni, sekala brakh ghik jadi asal. Nihan lampung: sakai dilom sambayan, nemui dilom nyimah, nengah dilom nyappur.”
Artinya: “Hujan dan panas (adalah takdir), Sekala Brakh (menjadi asal-usul). Beginilah Lampung: gotong royong dalam kebersamaan, ramah dalam memberi, terbuka dalam bersosialisasi.”
Dari kutipan ini kita bisa menarik pelajaran bahwa sejak zaman leluhur di Sekala Brakh, gunung sakral di Lampung Barat yang dipercaya sebagai asal-usul masyarakat Lampung, nilai kebersamaan sudah menjadi identitas.

Pertanyaan yang mungkin muncul: apakah tradisi Sakay Sambayan ini sejalan dengan ajaran Islam? Jawabannya sangat jelas: iya, bahkan nyaris identik.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim:

“مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى”

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan merasakan demam.” (HR. Muslim No. 2586)

Hadis ini menggambarkan dengan sempurna esensi Sakay Sambayan. Ketika tetangga memiliki hajatan, seluruh warga bergerak membantu. Ketika ada yang kesusahan, semua turun tangan. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan wujud keimanan.

Baca Juga :  Mau Buat Agenda Liburan di Tahun 2025, Ayo Segera Susun Banyak Tanggal Merah-nya

Asbāb al-nuzūl (sebab turunnya) hadis ini adalah kondisi masyarakat Madinah yang multi-etnis. Rasulullah ingin mengajarkan bahwa persaudaraan seiman lebih kuat daripada ikatan darah atau suku. Lewat hadis ini, beliau menegaskan bahwa solidaritas sosial adalah bagian dari iman.
Sementara itu dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ

innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati. (Q.S. Al-Hujurat [49]: 10)

Ayat ini turun ( asbāb al-nuzūl ) sebagai respons terhadap perselisihan antara dua kelompok sahabat di Madinah, yaitu suku Aus dan Khazraj, yang sebelumnya selalu bermusuhan sebelum Islam datang. Ayat ini mengajarkan bahwa persaudaraan seiman mewajibkan umat untuk saling membantu dan mendamaikan.
Dalam kerangka Sakay Sambayan, setiap warga kampung, apapun marganya, apapun golongan adatnya, adalah saudara. Maka membantu mereka yang hendak menggelar begawi, atau sekadar membuat tempoyak bersama, adalah bentuk pengamalan ayat ini.

Selaras dengan itu, Pancasila juga menjunjung tinggi nilai gotong royong. Bung Karno dalam pidatonya di depan BPUPKI pernah menyatakan bahwa jika Pancasila diperas menjadi satu, ia akan menghasilkan satu kata: gotong royong.
Lebih lanjut, Bung Karno menjelaskan: “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat semua.”
Sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, tidak akan terwujud tanpa semangat saling membantu lintas suku dan golongan. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga mengandaikan adanya kepedulian kolektif terhadap mereka yang membutuhkan.

Dalam setiap pembuatan tempoyak bersama, nilai-nilai ini hidup secara alami: tidak ada yang dibiarkan bekerja sendirian, tidak ada yang diistimewakan, semua mendapat bagian yang sama.
Kembali ke kisah di awal tadi. Setelah berhari-hari, tempoyak buatan warga Kampung Tiyuh Karta pun matang. Rasanya asam, sedikit pedas dari campuran cabai, dan begitu khas. Seluruh warga berkumpul kembali. Ikan sungai dipanggang di atas bara, lalapan disusun rapi di atas daun pisang, dan tempoyak menjadi bumbu yang menyatukan semuanya.
Sang Punyimbang mengambil sepotong ikan, mencelupkannya ke dalam tempoyak, lalu berkata:
“Anak cucuku, ingatlah. Durian ini jatuh dari pohon yang sama, kita kupas bersama, kita fermentasi bersama, dan kini kita nikmati bersama. Begitulah Sakay Sambayan. Tidak ada yang lebih nikmat dari rasa yang lahir dari kebersamaan. Tidak ada yang lebih berharga dari kerja yang diselesaikan dengan bahu-membahu.”

Baca Juga :  Makna di Balik Tradisi Adat Saat Pindah Rumah di Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Pemuda Junjungan yang semula bertanya itu kini mengangguk paham. Sejak hari itu, setiap kali tempoyak dihidangkan di mejanya, ia teringat pada hangatnya kebersamaan itu.
Sampai hari ini, tradisi mulia itu masih hidup. Di kampung-kampung adat Lampung, pembuatan tempoyak tetap dilakukan secara kolektif. Bukan karena lebih mudah, memang lebih mudah sendirian sebenarnya. Tapi karena di situlah letak pelajarannya: kebersamaan itu sengaja diciptakan, dirawat, dan diwariskan.

Tempoyak mengajarkan kita bahwa rasa asam bukanlah halangan untuk bersatu. Justru ia menjadi bumbu yang membuat kebersamaan terasa lebih hidup. Dalam setiap proses pembuatannya, dari memanjat pohon durian, mengupas buah, menabur garam, hingga menunggu fermentasi, tersimpan kerja kolektif dan kesabaran.
Dan di situlah Sakay Sambayan bersemi: bukan hanya saat senang, tapi juga saat harus menanggung ‘rasa asam’ kehidupan bersama-sama. Semoga tradisi ini terus lestari, dari generasi ke generasi, dari dapur adat ke dapur modern. Karena selama tempoyak masih dibuat bersama, selama itu pula jiwa gotong royong Lampung tetap hidup.

Daftar Pustaka
1. OPEN Library Telkom University. (2023). Perancangan Desain Ilustrasi Pakaian Merek Panomantra dengan Tema Sakai Sambayan.
2. LampungKu. (2025). Menyelami Keunikan Sambal Seruit Khas Lampung.
3. Revolusi Mental. (2020). Indonesia Ditolong ‘Gotong Royong’.
4. Portal Berita Natar Agung. (2026). Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung.
5. Universitas Lampung. (2022). Implementasi Sakai Sambayan dalam Upacara Begawi Adat Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini