Naga Bonar dan Pelajaran Harkitnas: Jangan Hormati Roda Empat (Kado Kecil Hari Kebangkitan Nasional 2026) Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – GENAP 118 tahun lalu, sekelompok pemuda pribumi mendirikan organisasi Boedi Utomo. Tanggal 20 Mei 1908 itu kemudian kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Kebangkitan yang lahir bukan dari istana, tapi dari ruang kelas. Bukan dari perintah kolonial, tapi dari kesadaran sendiri: kalau ingin merdeka, kita harus bangun dulu dari dalam. Lahirnya Boedi Utomo sungguh merupakan kejadian yang ajaib, dimana kaum muda yang selama beratus tahun tertidur sudah terbangun. Boedi Utomo merupakan embrio lahirnya banyak organisasi yang lain sehingga nasionalisme Jawa khas Boedi Utomo kemudian berubah menjadi nasionalisme yang mencakup keseluruhan rakyat Hindia Belanda. Pendidikan yang semula hanya bisa dinikmati oleh kaum priyayi Jawa kemudian diperluas menjadi pendidikan untuk seluruh rakyat Bumiputera. Perjuangan terus berlanjut sampai lahir ikrar Sumpah Pemuda pada tahun 1928, hingga mencapai klimak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Sayangnya, 118 tahun kemudian, semangat itu sering kita gantikan dengan simbol. Ada satu adegan dalam film Naga Bonar yang pantas untuk ditulis khusus dalam memperingati Harkitnas hari ini. Sang jenderal Naga Bonar berdiri di depan patung Jenderal Soedirman. Dalam sikap sempurna dan dengan suara bergetar, ia berkata: Turunkan tanganmu jenderal, turunkan tanganmu. Tidak semua orang yang naik roda empat itu pantas kau hormati. Itu bukan sekedar sindiran, tapi protes yang sangat telak, Dulu Jenderal Soedirman dihormati karena integritasnya, bukan karena kendaraannya. Ia jalan kaki dan ditandu, tidur di hutan untuk memimpin gerilya. Itulah salah satu adegan yang sangat mengharukan saat Naga Bonar berbicara kepada patung Jenderal Soedirman, meminta agar menurunkan tangannya yang sedang hormat.

Baca Juga :  Tips Anti Sinusitis dan Penyembuhan Tanpa Obat

Meski hanya dalam cerita film, namun semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air serta bela Negara sang Jenderal Naga Bonar dapat menjadi cermin bagi siapa saja, khususnya kaum generasi muda di negeri ini. Kaum muda merupakan pilar utama bagi negara dibelahan bumi manapun. Jika kaum muda tidak lagi memiliki imaji kebangsaan yang kuat dan kokoh, sebuah negeri bisa terancam mengalami keruntuhan. Meski sudah lebih 30 tahun sejak film itu dirilis, ucapan Naga Bonar masih relevan hingga sekarang. Inilah persoalan Harkitnas kita: kebangkitan sering kita artikan sebagai kenaikan status, bukan kenaikan mutu. Dulu, kebangkitan nasional lahir saat kaum terpelajar sadar bahwa penjajahan paling berbahaya adalah penjajahan pikiran. Maka mereka mendirikan sekolah-sekolah, mengumpulkan buku, dan menyebar gagasan. Kini, penjajahan model baru datang dalam bentuk lain, yakni konsumerisme, pragmatisme, dan budaya instan. Kita mudah merasa bangga ketika melihat pejabat baru dengan mobil dinasnya yang baru. Tapi kita memilih diam dan mencari aman, saat mutu pendidikan stagnan. Kita ramai membicarakan siapa pejabat yang naik eselon, tapi cuek saat angka stunting di pedesaan masih tinggi. Kita sibuk merayakan Harkitnas dengan upacara sambil mendengar pidato Menteri, tapi lupa merayakannya dengan kerja. Padahal semangat Boedi Utomo itu sederhana: bangkit dari diri sendiri, tidak menunggu perintah dan tidak menunggu dibiayai. Apalagi menunggu naik kendaraan roda empat. Meski semangat kebangkitan semakin luntur, tapi masih bisa kita temukan dengan mudah.

Baca Juga :  Cermin Retak: Tersangka Sah Pelaku Korupsi. Oleh : Mukhotib MD *)

Banyak guru honorer yang tetap mengajar walau gajinya sangat kecil dan sering telat. Petani yang mencoba beralih ke tanaman jenis baru walau tanpa tenaga penyuluh. Anak-anak muda relawan dan penggerak literasi atas kesadaran sendiri, keluar masuk kampung, menghampiri anak-anak untuk mendongeng dan membaca buku. Mereka bukan untuk minta dihormati dan dihargai. Maka, merekalah yang sesungguhnya pantas kita hormati di hari Harkitnas ini. Negara punya tugas besar membangun infrastruktur, menjaga stabilitas, dan melayani rakyat. Tapi negara tidak akan pernah bangkit kalau rakyatnya hanya menunggu. Kebangkitan nasional bukan proyek pemerintah semata, melainkan kerja secara kolektif. Maka di Harkitnas ke 118 ini, sudah saatnya kita ubah cara menghormat. Jangan lagi angkat tangan pada simbol, tapi angkat tangan pada kerja. Jangan lagi menabuh genderang untuk acara pelantikan ini dan itu, tapi tabuh genderang untuk acara panen raya, untuk kelulusan, untuk inovasi dan hal positif lainnya. Dan kalau kita lewat di depan patung pahlawan, semoga kita tidak sekedar memberi hormat. Tapi kita juga bertanya: sudahkah kerja saya hari ini pantas membuat patung pahlawan itu mengangkat tangan? Karena Harkitnas bukan tentang mengenang masa lalu. Harkitnas adalah perintah untuk bangkit hari ini. Bangkit dari zona nyaman, bangkit dari budaya minta untuk dilayani, bangkit jadi warga yang berani berkorban waktu dan tenaga untuk negeri ini, minimal untuk kampungnya sendiri.

Baca Juga :  Terbongkar Manfaat Mandi dan Minum Kopi di Pagi Hari - MAJALAH NATAR AGUNG

Saat ini kita sangat butuh lebih banyak pemimpin seperti Jenderal Soedirman yang dihormati bukan karena jabatannya, tapi karena memiliki integritas, dan komitmen yang jelas dalam mensejahterakan rakyatnya.
Jujur harus diakui bahwa wajah negeri kita semakin diwarnai dengan runtuhnya solidaritas sosial, menguatnya kesenjangan sosial, melemahnya kepercayaan publik, ancaman krisis ekonomi, konflik sosial vertikal dan horizontal, merebaknya kasus korupsi dan berbagai potensi ancaman lainnya, yang jika tidak terkelola dengan maksimal akan dapat memperkuat krisis imaji kebangsaan. Selalu muncul pertanyaan, apakah ada perbedaan antara hari ini dengan 118 tahun yang lalu? Bedanya (barangkali), jika dulu bangsa kita dijajah asing, sekarang dijajah oleh bangsa sendiri. Banyak putera-puteri bangsa yang memiliki reputasi baik namun tidak memiliki tempat di negeri sendiri. Kalau saja para tokoh kebangkitan nasional bisa hidup kembali, apa kira-kira pendapat mereka tentang Indonesia hari ini, tentang pemimpin-pemimpin negara, dan terpenting tentang semangat nasionalisme generasi muda. Mengapa nasionalisme? Karena satu kata kunci dari lahirnya kebangkitan nasional dilandasi adanya semangat nasionalisme dan bela negara.
Dirgahayu Hari Kebangkitan Nasional ke 118 tahun 2026.
Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara!!

*) Anggota Dewan Pakar Forum Literasi Lampung, tinggal di Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini