nataragung.id – Sidomulyo – Upaya memperkuat pilar ekonomi dan kemandirian masyarakat di tingkat akar rumput membutuhkan titik temu yang kokoh antara kebijakan formal dan gerakan swadaya masyarakat. Jalinan harmonis ini tampak nyata dalam kolaborasi multi-pihak yang digelorakan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) melalui Rumah BUMN (RB) Bakauheni, jajaran Pemerintah Desa Seloretno, komunitas UMKM Lampung Selatan, Lamban Kelor Desa Bulok.

Sinergi tersebut diwujudkan melalui agenda pelatihan intensif bertajuk “Pentingnya Legalitas: Perizinan untuk Branding Usaha” yang diselenggarakan di Balai Desa Seloretno, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, pada Rabu (20/5/2026). Tidak berhenti di dalam ruangan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi turun ke lapangan untuk melakukan penanaman simbolis 150 bibit kelor dan cabai jawa di Dusun Kampung Duren.
Fasilitator RB BRI Bakauheni, Alvin Reka, menjelaskan bahwa pembekalan ini dirancang untuk menjembatani aspek perizinan formal seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) sekaligus mengenalkan platform digital bagi pelaku usaha domestik. “Hari ini kita mengadakan pelatihan terkait legalitas usaha, sekaligus pengenalan marketplace untuk kawan-kawan UMKM yang ada di Desa Seloretno. Tujuannya adalah membuka akses seluas-luasnya agar produk lokal bisa bersaing secara profesional,” ujar Alvin di sela-sela kegiatan.

Langkah taktis pendampingan UMKM ini mendapat respons sangat luas dari elemen masyarakat. Balai desa tampak dipadati oleh puluhan pelaku usaha rumahan, perwakilan warga, kader Posyandu, kader PKK, hingga jajaran pamong setempat, termasuk Kepala Dusun Way Pelus, Dusun Mustika Raya 2, Dusun Kampung Duren, dan Dusun Banjar Sari.
Salah satu gagasan kultural yang menarik perhatian dalam forum ini lahir dari Sardik, yang mengemban amanah struktural sebagai Kasi Kesra Desa Seloretno sekaligus amanah kultural sebagai Ketua Takmir Masjid Jami’ At-Taqwa Dusun Kampung Duren. Ia melihat bahwa program penanaman ini memiliki potensi besar jika diintegrasikan dengan institusi keagamaan lokal. Sardik melontarkan ide pemanfaatan lahan kosong di sekitar area musala dan masjid untuk ditanami kelor serta cabai jawa, sehingga rumah ibadah ke depan memiliki basis finansial yang mandiri untuk menopang kegiatannya.

Gagasan hilirisasi ini disambut baik oleh Pujo selaku owner Lamban Kelor. Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga stabilitas ekonomi warga, Lamban Kelor siap bertindak sebagai penyerap yang membeli daun kelor basah hasil panen masyarakat dengan harga Rp4.000 per kilogram untuk diolah menjadi produk turunan yang bernilai jual lebih tinggi. Gerakan penanaman 150 bibit ini juga diproyeksikan sebagai bagian dari peta jalan pelestarian lingkungan guna menyerap emisi karbon, yang rencananya akan diajukan ke program kemitraan strategis yang lebih luas.
Setelah sesi pematerian selesai pada pukul 10:30 WIB, seluruh peserta bersama Kepala Desa Seloretno, Achmad Subari, langsung bergerak menuju lokasi penanaman di Dusun Kampung Duren. Dalam sambutannya, Achmad Subari menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa gerakan ini memiliki dimensi strategis yang melampaui sekadar seremonial. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak atas terselenggaranya acara ini. Penanaman kelor dan cabai di Dusun Kampung Duren ini, selain dalam rangka memperkuat ketahanan pangan warga, juga menjadi bagian dari partisipasi aktif kita semua untuk menyukseskan program ‘Desa Helau’ yang dicanangkan oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama,” tutur Achmad Subari mantap.

Sebagaimana diketahui, “Desa Helau” merupakan program unggulan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama. Mengambil kata “Helau” yang berarti bagus atau indah dalam bahasa Lampung, program ini merupakan akronim dari Hijau, Elok, Asri, Aman, dan Tangguh. Visi struktural dari Pemkab ini menargetkan lahirnya desa-desa percontohan yang rapi, inovatif, hijau, dan mandiri secara pangan.
Melalui integrasi antara legalitas usaha yang diakui negara dan gerakan pemanfaatan pekarangan bumi lokal oleh masyarakat, Desa Seloretno kini tengah menata jalan menuju salah satu desa percontohan yang tangguh. Panen pertama ditargetkan 4 bulan ke depan untuk uji coba pasar. Model perjumpaan ini diharapkan dapat terus dirawat agar roda perekonomian kaum duafa dan pelaku usaha mikro di Lampung Selatan dapat terus bergerak tegak dan mandiri. (edi’s)

