Seri Buku: Makanan Khas Lampung. Serbat Jahe dan Nemui Nyimah, Hangatnya Persaudaraan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah tiyuh (kampung adat) di wilayah Pubian, Lampung Tengah, hiduplah dua sahabat karib bernama Junjungan dan Bujang. Mereka berasal dari marga (kelompok kekerabatan) yang berbeda dalam masyarakat Pepadun, golongan adat Lampung pedalaman yang menganut sistem kepemimpinan musyawarah dan pencapaian gelar.
Suatu hari, perselisihan kecil terjadi di antara mereka. Entah karena apa, pertengkaran itu merambat menjadi percekcokan antara dua marga. Suasana kampung yang biasanya damai berubah tegang. Warga mulai memilih sisi masing-masing.
Melihat hal itu, seorang Punyimbang, tetua adat yang disegani karena kebijaksanaannya, memanggil kedua pemuda itu ke balai adat.
“Anak cucuku,” katanya dengan suara tenang, “kalian tahu apa yang hilang dari kampung kita akhir-akhir ini?”
Keduanya terdiam.
“Persaudaraan,” lanjut Punyimbang itu. “Kalian lupa bahwa dahulu nenek moyang kita mengajarkan Nemui Nyimah, keramahan dan kemurahan hati, bukan permusuhan.”
Tanpa banyak bicara, sang Punyimbang meminta keluarganya menyiapkan sesuatu. Tak lama kemudian, tercium aroma harum dari dapur adat. Jahe, gula aren, dan mangga kweni, buah mangga khas yang asam segar, telah diolah menjadi minuman berwarna kecokelatan yang menggugah selera.
“Ini serbat,” kata Punyimbang sambil menyodorkan dua gelas. “Minumlah bersama. Rasakan hangatnya.”
Junjungan dan Bujang saling berpandangan. Dengan ragu, mereka menerima gelas itu dan meminumnya bersamaan. Rasa manis dari gula aren, hangat dari jahe, dan segar dari mangga kweni bercampur jadi satu di lidah mereka. Hangatnya menjalar hingga ke dada.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Punyimbang.
“Hangat, Nyai,” jawab Junjungan lirih.
“Dan persaudaraan itu juga hangat, Nak. Tidak pernah dingin. Jangan biarkan api perselisihan memadamkan kehangatan persaudaraan yang telah lama kalian jalin.”

Serbat adalah minuman tradisional khas Lampung yang terbuat dari buah mangga kweni. Berbeda dengan minuman lain, serbat tidak hanya mengandalkan buah sebagai bahan utama. Jahe dan gula aren ditambahkan ke dalamnya, memberikan sensasi hangat sekaligus kesegaran yang khas.
Di Lampung, serbat biasa disajikan sebagai pendamping seruit, hidangan ikan bakar dengan sambal tempoyak yang pedas dan menyengat. Ia berfungsi menetralkan rasa “eneg” atau mual setelah menyantap makanan bersantan dan pedas. Namun lebih dari itu, serbat juga disajikan dalam acara-acara kebersamaan: saat warga berkumpul, saat tamu datang, atau saat dua pihak yang berselisih ingin berdamai.

Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa jahe dipilih sebagai bahan utama? Jahe dikenal memiliki sifat menghangatkan tubuh. Dalam budaya Lampung, kehangatan jahe dalam serbat menjadi simbol kehangatan hubungan antarmanusia. Seperti jahe yang menghangatkan tenggorokan saat ditelan, demikian pula keramahan dan kemurahan hati, yang dalam falsafah Lampung disebut Nemui Nyimah, menghangatkan hubungan sosial di antara warga.
Nemui Nyimah adalah salah satu dari lima pilar falsafah hidup masyarakat Lampung yang disebut Pi’il Pesenggiri. Secara harfiah, nemui berarti menyambut, nyimah berarti keramahan. Namun maknanya jauh melampaui sekadar ramah-tamah biasa.
Menurut penelitian tentang budaya Nemui Nyimah pada masyarakat Lampung Pepadun, nilai ini mengandung unsur-unsur luhur seperti sifat keterbukaan, suka memberi, tolong-menolong, keikhlasan dari lubuk hati, dan kemurahan hati kepada semua pihak yang berhubungan dengan mereka.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Buku Seri 10. “Doa dari Para Tuha: Pesan Baik untuk Masa Depan” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Penelitian yang dilakukan di Tiyuh Gedung Ratu, Tulang Bawang Udik, menemukan bahwa Nemui Nyimah pada hakikatnya adalah budaya yang dilandasi oleh rasa keikhlasan untuk menciptakan kerukunan hidup, kesamaan, dan kebersamaan. Nilai ini juga berkaitan erat dengan silaturahmi, menjalin dan memelihara hubungan persaudaraan.

Dalam naskah kuno Oendang-Oendang Adat Krui, salah satu kitab adat yang menjadi rujukan masyarakat Lampung, disebutkan: “Sai nemui nyimah ghik sai mak belom, ghik sai mak ngelapah. Nemui nyimah ghik jadi pengadok.”
Kurang lebih artinya: “Barang siapa yang ramah (kepada sesama), tidak memilih-milih, tidak membeda-bedakan. Keramahan itu menjadi pelindung.”
Analisis sederhana dari kutipan ini: Nemui Nyimah bukan sekadar tentang menyuguhkan makanan atau minuman kepada tamu. Ia adalah sikap batin yang inklusif, yang tidak membedakan status sosial, asal-usul marga, atau golongan adat, baik Pepadun maupun Saibatin (golongan adat Lampung pesisir yang menganut sistem hierarkis).

Masyarakat Lampung memiliki khazanah naskah kuno yang kaya. Salah satu kitab rujukan utama adalah Kuntara Raja Niti, yang digunakan di berbagai wilayah Lampung mulai dari Pubian Telusuku hingga Pesisir Krui. Kitab ini memuat seperangkat nilai moral dan etika, falsafah hidup, serta adat istiadat masyarakat Lampung.
Dalam Kuntara Raja Niti terdapat petuah tentang pentingnya menjaga kehangatan hubungan antarsesama. Salah satu pasalnya menyebutkan: “Huja nihan ruwajurai: mengan mak khilangan nemui nyimah, mengan mak khilangan sakai sambayan. Khilangan duani, khilangan adatni.”
Artinya: “Beginilah dua jurai (Saibatin dan Pepadun): hidup jangan sampai kehilangan keramahan, jangan sampai kehilangan gotong royong. Hilang keduanya, hilang adatnya.”
Kutipan ini menegaskan bahwa Nemui Nyimah bukan sekadar pilihan budaya, melainkan esensi dari identitas adat Lampung itu sendiri. Tanpa keramahan, tanpa kemauan untuk berbagi dan memberi, masyarakat kehilangan jati dirinya sebagai ulun Lampung (orang Lampung).

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 6: Makan Ngelamak, Ritual Syukur Hasil Bumi Sebelum Menuai. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Apakah nilai Nemui Nyimah ini sejalan dengan ajaran Islam? Sangat sejalan. Bahkan, nilai persaudaraan dan keramahan ini merupakan ajaran inti dalam Islam.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (Q.S. Al-Hujurat [49]: 10)

Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai respons terhadap perselisihan antara dua kelompok sahabat di Madinah, yaitu suku Aus dan Khazraj, yang sebelumnya selalu bermusuhan sebelum Islam datang. Ayat ini mengajarkan bahwa persaudaraan seiman mewajibkan umat untuk saling membantu, mendamaikan, dan menjaga kehangatan hubungan.
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan merasakan demam.” (HR. Bukhari No. 6011 dan Muslim No. 2586)

Hadis ini menggambarkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman) sebagai hubungan organik yang hangat dan saling merasakan. Inilah esensi dari Nemui Nyimah: keramahan yang tulus, kehangatan yang lahir dari kesadaran bahwa kita semua adalah saudara.
Selaras dengan itu, nilai-nilai Pancasila juga menopang semangat persaudaraan ini. Wakil Presiden Ma’ruf Amin pernah menyatakan bahwa Pancasila hadir untuk menjadi titik temu (kalimatun sawa), menjadi jembatan bagi segala perbedaan, baik perbedaan suku bangsa, agama, maupun kepercayaan yang ada di Indonesia.
Nemui Nyimah dengan semangat keramahan dan kemurahan hatinya adalah wujud nyata dari sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan sila ketiga (Persatuan Indonesia). Tanpa keramahan, tanpa kemauan untuk membuka hati kepada yang berbeda, persatuan tidak akan pernah terwujud.

Setelah meminum serbat bersama di balai adat, Junjungan dan Bujang terdiam lama. Hangatnya minuman itu seakan merambat ke hati mereka yang sempat beku karena perselisihan.
“Bujang,” kata Junjungan akhirnya, “maafkan aku.”
“Aku juga minta maaf,” jawab Bujang. Dan seperti serbat yang menghangatkan tenggorokan, kata maaf yang tulus menghangatkan kembali persaudaraan yang sempat retak.
Punyimbang itu tersenyum puas. Ia kemudian berkata kepada seluruh warga yang hadir:
“Anak cucuku, ingatlah selalu. Persaudaraan itu seperti serbat. Jika didiamkan terlalu lama, ia akan kehilangan hangatnya. Maka jaga selalu api persaudaraan itu, dengan Nemui Nyimah, dengan keramahan, dengan kemurahan hati. Karena seperti firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 10, orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah selalu.”

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 6: Rumah dan Hidup, Prinsip Piil Pesenggiri dalam Arsitektur dan Keseharian. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak hari itu, warga kampung sepakat untuk mengadakan tradisi minum serbat bersama setiap kali ada pertemuan adat. Bukan sekadar melepas dahaga, tetapi untuk mengingatkan satu sama lain: bahwa kehangatan persaudaraan adalah anugerah yang harus dirawat.
Serbat jahe mengajarkan bahwa persaudaraan itu seperti api, ia butuh bahan bakar untuk tetap menyala. Bahan bakarnya bukanlah kekayaan, bukan pula kekuasaan, melainkan Nemui Nyimah: keramahan yang tulus, kemurahan hati yang ikhlas, dan kemauan untuk selalu membuka pintu bagi sesama.
Dalam setiap tegukan serbat, ada pelajaran tentang kehangatan yang lahir dari kebersamaan. Dalam setiap aroma jahe yang tercium, ada pengingat bahwa hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan perselisihan.
Mari kita jaga warisan ini. Bukan hanya resep serbat yang diwariskan turun-temurun, tetapi pesan di baliknya: bahwa keramahan (Nemui Nyimah) adalah identitas orang Lampung yang tak boleh pudar. Dari generasi ke generasi, dari Pepadun hingga Saibatin, dari pedalaman hingga pesisir, hangatnya persaudaraan akan terus lestari, selama kita masih mau duduk bersama, meminum serbat, dan saling memaafkan.
Karena pada akhirnya, seperti yang diajarkan leluhur kita: “Nemui nyimah ghik jadi pengadok”, keramahan itu menjadi pelindung. Melindungi kita dari permusuhan, melindungi kita dari kebencian, dan melindungi kehangatan persaudaraan di Bumi Ruwa Jurai ini.

Daftar Pustaka
1. Warsito, Anggie. (n.d.). 5 Minuman Khas yang Harus Dicoba Saat Berkunjung ke Lampung. Keluyuran.
2. Nurhayati, N. (2018). Budaya Nemui Nyimah Masyarakat Lampung Pepadun dalam Perspektif Filsafat Moral. Undergraduate thesis, UIN Raden Intan Lampung.
3. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (n.d.). Naskah Kuno Lampung – Garuda Kemdikbud.
4. NU Online. (2019). 5 Falsafah Hidup Masyarakat Lampung.
5. Prasetyo, Heru. (2015). Segarnya Serbat, Minuman Khas Lampung Terbikin dari Mangga Kweni.
6. Pimpinan Ranting Muhammadiyah Siwalan. (2022). Hal-Hal Yang Merusak Persaudaraan. Muhammadiyah Kota Semarang.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini