Mutiara Pagi : Kebijakan Harus Dibangun di Atas Ilmu dan Hikmah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Tidak semua niat baik otomatis melahirkan kebaikan. Ada keputusan yang dibuat dengan semangat ingin membantu, tetapi karena tidak memahami keadaan manusia, justru menimbulkan luka, penolakan, dan masalah baru. Sebab manusia bukan sekadar angka dan aturan, melainkan makhluk yang memiliki hati, kebiasaan, kelemahan, serta latar belakang yang berbeda-beda.

Kebijakan tanpa memahami perilaku manusia ibarat mengobati penyakit tanpa mengetahui penyebabnya. Terlihat baik di permukaan, tetapi bisa menimbulkan dampak yang lebih besar di kemudian hari. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa niat baik harus disertai ilmu, kebijaksanaan, dan pertimbangan yang matang.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Jadilah Bagian dari Kebaikan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan dalam menyampaikan kebenaran pun Allah memerintahkan adanya hikmah. Hikmah bukan hanya mengetahui apa yang benar, tetapi juga memahami bagaimana cara menyampaikan dan menerapkannya dengan tepat. Sebab sesuatu yang benar jika dilakukan tanpa hikmah bisa berubah menjadi sebab munculnya kerusakan.

Allah Subḥanahu wata’ala juga berfirman:

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah: 269)

Hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, tidak memaksakan aturan tanpa melihat kondisi, dan tidak mengabaikan dampak yang akan muncul di tengah masyarakat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (20) : Ramadhan dan Pengendalian Emosi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa pendekatan yang kasar, tergesa-gesa, dan tidak memahami karakter manusia sering kali justru menjauhkan orang dari tujuan kebaikan itu sendiri. Banyak persoalan bukan gagal karena tujuannya salah, tetapi karena caranya tidak bijaksana.

Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ilmu menjadi cahaya dalam menentukan langkah. Dengan ilmu, seseorang memahami prioritas, mengetahui maslahat dan mudarat, serta mampu membaca keadaan manusia dengan lebih jernih. Sedangkan semangat tanpa ilmu sering kali melahirkan keputusan yang emosional dan tidak tepat sasaran.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Dunia - Setetes Air di Samudra Akhirat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena itu, siapa pun yang memegang amanah, baik sebagai pemimpin, orang tua, guru, ataupun pengambil keputusan, hendaknya tidak hanya bermodal niat baik. Sebab niat baik harus dipandu oleh ilmu, dipoles dengan hikmah, dan dijalankan dengan kasih sayang.

Sebab tujuan mulia tidak akan tercapai hanya dengan semangat, tetapi dengan kebijaksanaan dalam memahami manusia dan kehidupan. (*/254)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
___
✒️ KIS
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini