nataragung.id – Pemanggilan – Langit mulai berwarna jingga. Semilir angin sore berhembus pelan di teras Masjid Istiqamah. Beberapa jamaah duduk melingkar sambil menunggu adzan Maghrib. Di tengah mereka hadir seorang ustadz yang dikenal lembut tutur katanya, Ustadz Munawwar.
Ahmad membuka percakapan. “Ustadz, tampaknya tahun ini Hari Raya Idul Adha tidak ada perbedaan waktu antara umat Islam di negeri ini.”
Ustadz Munawwar tersenyum pelan seraya berkata “Iya, alhamdulillah. Ini baik agar umat Islam tidak bingung dalam melaksanakan puasa Arafah. Karena tanggal 9 Dzulhijjah adalah hari Arafah, hari yang sangat agung di sisi Allah.”
Hamid yang sedari tadi mendengarkan kemudian bertanya, “Tadi ustadz menyinggung puasa hari Arafah. Apa keutamaannya, ustadz?”
Ustadz Munawwar menganggukkan kepala, lalu menjawab dengan suara tenang, “Keutamaannya sangat besar. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
‘Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.’ (HR. Muslim)
Puasa ini menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama dua tahun; setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Betapa luas rahmat Allah kepada hamba-Nya.”
Mahmud tampak kagum. Ia lalu bertanya lagi, “Apakah semua dosa diampuni, ustadz?”
Ustadz Munawwar menjawab dengan penuh kehati-hatian, “Tentu tidak semua dosa. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, maka wajib ditaubati dengan sungguh-sungguh.”
Beliau lalu melanjutkan:
“Taubat memiliki syarat: meninggalkan dosa itu, menyesal telah melakukannya,
dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Jika berkaitan dengan hak manusia, maka harus mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf.”
Kemudian beliau membaca firman Allah Ta’ala:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
‘Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.’ (QS. An-Nur: 31)
Mahmud menghela napas panjang. “Masya Allah… begitu besar kasih sayang Allah kepada kita. Dosa yang belum kita lakukan saja sudah ada jaminan ampunan.”
Ustadz Munawwar tersenyum haru, “Itulah luasnya rahmat Allah. Karena itu jangan sia-siakan hari Arafah. Perbanyak puasa, dzikir, doa, istighfar, dan amal saleh.”
Beliau kemudian menambahkan sebuah hadits tentang kemuliaan hari Arafah:
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
‘Tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka dibanding hari Arafah.’ (HR. Muslim)
Suasana menjadi hening. Jamaah yang duduk di teras masjid tampak merenung. Senja semakin redup. Tak lama kemudian suara adzan Maghrib berkumandang memecah keheningan.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Para jamaah pun bangkit perlahan. Sebagian merapikan sarung, sebagian lagi mengambil air minum untuk berbuka puasa sunnah. Langkah mereka kemudian menuju shaf-shaf masjid untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.
Sore itu, di teras masjid yang sederhana, mereka kembali diingatkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa manusia. <>
🖋️ Komiruddin Lc
📚 Cerita Hikmah
WaAllahu A’lam
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

